KAMAJAYA Scholarship / Kisah/Kesaksian/Testimoni  / Kisah Penerima Beasiswa: Tertatih-tatih Meraih Mimpi

Kisah Penerima Beasiswa: Tertatih-tatih Meraih Mimpi

Kuliah adalah salah satu impian terbesar saya ketika saya masih duduk di bangku SMP. Impian tersebut semakin terbayang-bayang dalam benak ketika saya beranjak SMA. Di masa itu, saya seringkali membayangkan betapa indahnya dunia perkuliahan, di mana cara berpakaian boleh bebas dan saya juga menyangka bahwa dunia perkuliahan itu tidak akan terlalu memusingkan, sebab apa yang akan saya pelajari kelak adalah ilmu tertentu yang bersifat spesifik, sehingga pikiran saya akan terfokus pada suatu bidang ilmu dan tidak bercabang ke mana-mana. Seperti itulah gambaran yang terbayangkan dalam benak saya mengenai dunia kuliah, betapa menyenangkan.

Waktu terus berlalu, sampai akhirnya tibalah saya pada suatu masa di mana saya telah dinyatakan lulus SMA serta harus memilih kampus yang akan menjadi tempat kuliah saya. Pikiran saya terlanjur senang dan bangga, sebab saya telah berhasil melalui masa-masa yang begitu menantang selama di SMA dan tiba saatnya di mana saya akan menggapai salah satu impian saya, yaitu mengecap nikmatnya bangku perkuliahan. Banyak tawaran yang menggiurkan dari kampus-kampus yang ada di sekitar saya, baik kampus negeri maupun swasta. Setelah melalui berbagai pertimbangan, maka saya dan orang tua akhirnya sepakat memutuskan untuk memilih Universitas Atma Jaya Yogyakarta sebagai tempat kuliah saya serta memilih untuk menekuni bidang ilmu Teknik Industri di universitas tersebut.

Setelah menjalani perkuliahan selama satu minggu, saya mulai bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan kelas dan mulai dekat dengan beberapa teman. Minggu demi minggu saya jalani dan akhirnya dibukalah pendaftaran bagi mahasiswa-mahasiswi Jurusan Teknik Industri yang ingin menjadi anggota Himpunan Mahasiswa/i Teknik Industri (HMTI). Saya mencoba untuk mendaftarkan diri dan Puji Tuhan saya diterima menjadi anggota tersebut. Banyak tugas yang harus dipenuhi, baik tugas-tugas yang berasal dari dosen, maupun tugas-tugas yang berasal dari kewajiban saya sebagai anggota HMTI. Memang, sebenarnya tugas saya sebagai anggota HMTI tidaklah begitu berat. Namun di dalam setiap tugas-tugas tersebut, sesungguhnya dituntut tanggung jawab dan rasa peduli dari diri saya demi kepentingan teman-teman empat angkatan dari Jurusan Teknik Industri.

Dunia perkuliahan yang saya jalani ternyata cukup berat dan tidak sesuai dengan khayalan saya di masa SMA. Meskipun demikian, terdapat berbagai hal dan peristiwa yang berkesan bagi saya. Hal-hal yang berkesan tersebut cukup menghibur saya di tengah-tengah kejenuhan yang sempat saya alami. Saya baru menyadari bahwa ternyata segala kesulitan yang saya alami selama duduk di bangku perkuliahan cukup memberikan manfaat bagi saya. Manfaat tersebut yaitu dapat melatih saya sebagai seseorang yang peka dan peduli terhadap lingkungan sekitar.

Saya jadi teringat akan dua pepatah klasik yang mengatakan, “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian,” serta, “Hidup adalah perjuangan.” Saya menyadari bahwa setiap tantangan yang saya hadapi dalam dunia perkuliahan, meskipun itu berat, namun pasti kelak suatu hari nanti akan kembali mendatangkan manfaat bagi saya sendiri. Makna lainnya yang saya ambil sebagai salah satu pedoman hidup saya juga dicerminkan seperti pepatah yang kedua, selama saya masih hidup, maka saya harus terus berjuang untuk menjawab tuntutan zaman, berjuang untuk meraih impian saya, berjuang demi masa depan saya.

Rasa-rasanya masih belum percaya bahwa saya sudah selesai berhadapan dengan pendadaran. Tanggal 16 Desember 2020, saya tutup buku dengan perjalanan hidup sebagai mahasiswi S1 dengan mempertanggungjawabkan tugas akhir skripsi di hadapan Dosen Penguji demi mendapatkan gelar sarjana. Waktu begitu cepat berlalu dan tanpa terasa mengantarkan saya pada titik ini. Proses pengerjaan skripsi ini bukannya tanpa hambatan. Tidak mungkin jika tidak menemukan hal-hal di luar prediksi, yang cukup berpengaruh terhadap rencana dan target awal. Ada beberapa yang bisa diatasi, tapi ada juga yang memang tidak bisa diusahakan lagi. Namun, tetap percaya bahwa Tuhan menyiapkan rencana yang lebih baik untuk kita adalah kunci untuk tidak berkecil hati.

Terima kasih saya ucapkan kepada seluruh pengurus KAMAJAYA Scholarship yang telah membantu memfasilitasi biaya perkuliahan saya selama kurang lebih tiga tahun ini. Terima kasih telah mendukung, membantu mewujudkan, dan memberikan dukungan moril agar saya tidak pantang menyerah dalam menggapai segala impian yang saya harapkan.

Kisah ini mungkin sederhana, saya bukanlah seorang mahasiswi pintar yang lulus dengan predikat cum laude, saya hanyalah seorang anak yang pernah punya sejuta mimpi dan berjalan tertatih-tatih untuk meraih mimpi itu. Saya yakin ketika kita punya mimpi, jangan pernah menyerah dan berusahalah untuk terus libatkan Tuhan di dalam mimpi itu. Jika itu belum terwujud, yakinlah bahwa Tuhan akan menggantinya dengan yang lebih baik. Khusus untuk teman-teman yang masih kuliah, janganlah takut untuk terus berjuang selama masih ada niat dan usaha serta doa pasti akan dimudahkan oleh-Nya.

Yogyakarta, 22 Desember 2020
Genoveva Fiona Citraclarisa
Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-1
Mahasiswa Pogram Studi Teknik Industri UAJY Angkatan 2015

No Comments

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA