KAMAJAYA Scholarship / Lentera Atma  / Lentera Atma: Di mana Bumi Dipijak di situ Langit Dijunjung

Lentera Atma: Di mana Bumi Dipijak di situ Langit Dijunjung

Saat kita berkenalan dengan seseorang, pasti ada pertanyaan, “Kamu orang mana?”

Kemudian, kita menjawab, “Saya orang sini.”

Tapi, ada pertanyaan lainnya, “Maksud saya, kamu asalnya dari mana?”

Dari pertanyaan tersebut, pasti kita menjelaskan asal usul kita. Mungkin, tempat kelahiran dan tempat yang sekarang kita tempati itu berbeda. Asal kakek, asal ayah, asal ibu, asal nenek juga biasanya berbeda. Terkadang, itu membuat kita bingung. Darah kita mungkin berbeda, tidak ada kekerabatan, tapi di mana bumi dipijak di situlah kita menjalani kehidupan.

Mungkin, sekarang kita di daerah A, tapi sebenarnya kita tidak lahir di daerah A, tapi sudah sebagaimana mestinya kita menjalankan kehidupan ini. Kita perlu sadari bahwa kita adalah makhluk yang dinamakan “manusia”. Kita bukanlah “manusia super, bukan pula malaikat”. Manusia sejatinya hidup berdampingan dengan manusia lainnya. Kita ada karena mereka dan mereka ada karena kita. Kita membutuhkan orang lain dan orang lain juga membutuhkan kita. Kita hidup di tengah-tengah manusia yang majemuk dan memiliki berbagai karakter dan gaya hidup, tradisi dan adat budaya serta kepercayaan masing-masing.

Kedua, kita dipanggil untuk hidup di manapun kita berada untuk menjadikan hidup kita berguna bagi orang lain, membangun tatanan sosial masyarakat, mendukung pembangunan pemerintah, membela ketidakadilan dan penindasan atau penjajahan. Kita diutus ke dalam dunia ini untuk mewujudkan “Damai Sejahtera” bagi orang lain, bagi masyarakat dan orang banyak di mana kita ada. Kita harus menghargai orang lain, menghargai adat, tradisi, budaya dan tata cara yang berlaku sah di mana kita ada.

Ketiga, kita bukanlah orang-orang perusak, perusuh, bukan oknum yang membodohi, melainkan mencerdaskan. Kita bukanlah orang-yang menjajah tetapi membawa kemakmuran bagi orang lain. Kita adalah pembawa terang bukan kegelapan. Kita bukan pemicu ancaman tetapi ketentraman. Kita bukanlah orang yang disumpahi tetapi yang selalu didoakan dengan doa syukur dan doa berkat. Apapun kata orang itu tidaklah penting, namun apa yang telah kita lakukan bagi orang lain. “Di mana bumi di pijak di situ langit dijunjung“. Kita menghormati Pemerintah yang memimpin kita dengan baik, kita menghormati segala aturan maupun adat istiadat. Kita menghormati hak hidup orang banyak dan hak azasi manusia. Kita menghargai pendapat dan saran serta kritik orang lain yang membangun kebersamaan. Namun, kita juga siap menentang ketidakadilan dan kesenjangan sosial serta menyuarakan kebenaran. Kita harus menunjukkan hidup yang bermartabat dan penuh kasih terhadap sesama manusia dan alam semesta, maka kita telah menjadi utusan yang memberitakan perbuatan Allah yang besar. Orang lain akan menilai kita dari apa yang kita lakukan, bukan hanya apa yang kita katakan saja.

Image by Pexels from Pixabay

No Comments

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA