KAMAJAYA Scholarship / Penerima Beasiswa  / Periode 2020/2021  / Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Rosalia Tarihoran

Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Rosalia Tarihoran

Rosalia Tarihoran

Tanggal Lahir:
Kota Asal:
Studi:

24 Mei 2000

Batam

Fakultas Hukum Prodi Ilmu Hukum semester 6 (Februari 2021)

Rosalia Tarihoran

Mahasiswi Fakultas Hukum UAJY Prodi Ilmu Hukum

Pasti Ada Jalan

Nama lengkap saya Rosalia Tarihoran. Biasanya saya dipanggil Lia atau Rosa. Saya lahir tanggal 24 Mei 2000. Saya pernah bertanya kenapa namaku Rosalia dan Bapak mengatakan kalau namaku dibuat mirip dengan nama mendiang Opung atau Nenek dan mirip dengan nama mamaku. Saya lahir paling kecil di antara saudara-saudara saya, namun sekarang saya menjadi perempuan paling besar dan sehat di antara keluargaku. Hobi saya menonton film dan mendengar musik. Makanan kesukaan saya adalah nasi goreng. Saya adalah anak kedua dari enam bersaudara. Ketika TK, SD, SMP dan SMA, saya bersekolah di Batam. Sejak TK sampai SMP, saya sekolah di sekolah swasta sedangkan SMA saya bersekolah di sekolah negeri. Sekarang, saya melanjutkan studi di Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Kakak saya yang pertama sudah tamat kuliah dan puji Tuhan sudah bekerja di sebuah kantor pemerintahan terbaik di Kota Batam. Adik-adik saya sekarang sedang menempuh sekolah di Batam. Kalau bercerita tentang keadaan keluarga, puji Tuhan saya masih memiliki Bapak dan Mama. Bapak sekarang tidak bekerja lagi, sedangkan Mama adalah seorang ibu rumah tangga yang membuka usaha warung. Tetapi, usaha yang ada juga tetap tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan kami.

Dulu, Bapak membuka usaha Jual Beli Besi Tua (barang rongsokan). Semuanya berubah ketika saya SMA. Saya dan keluarga mengalami masalah yang tidak pernah diduga sebelumnya. Ceritanya ada sepasang keluarga dan ibu itu menggendong bayi. Mereka datang mau menjual aluminium dari bemper mobil. Awalnya, Bapak tidak mau menerima karena takut itu barang curian.

Bapak yang mau menjual aluminium itu berkata, “Ini bukan barang curian kok, Pak. Abang saya punya bengkel mobil, terus sudah mau tutup. Saya dikasih ini makanya saya mau jual, Pak.”

Bapakku menjawab, “Tetap aja, Bang, takut saya.”

Dan akhirnya, si bapak yang mau menjual barang berkata, “Tolonglah, Pak. Uangnya mau saya pakai buat beli beras sama susu anak saya.”

Akhirnya karena merasa iba dengan keluarga tersebut, Bapakku membeli barang tersebut.

Tidak lama kemudian, datanglah segerombolan polisi ke rumah dan menangkap Bapak pada saat itu, dengan tuduhan bekerja sama dengan pencuri. Pada saat itu juga, saya melihat Mama yang menangis, menarik Bapakku agar tidak dibawa oleh polisi tersebut, dan pahitnya saya melihat adikku yang paling kecil menangis dan bersembunyi di balikku dan berkata, “Kak, Bapak mau dibawa ke mana?”

Saya diam saja saat itu karena tidak tahu harus berbuat apa. Dan akhirnya, saya hanya bisa melihat Bapak masuk ke dalam mobil polisi dan pergi menjauh dari kami. Sepanjang minggu Mama bolak-balik ke Polsek untuk mencari bantuan supaya Bapak bisa dikeluarkan. Seluruh keluarga didatangi Mama, tapi tidak ada hasil sama sekali. Semua menyuruh untuk bersabar. Dan akhirnya, saya memutuskan untuk memberitahu Kakak yang pada waktu itu sedang kuliah di Jogja. Saya menceritakan semuanya kepada kakakku dan Kakak telepon ke rumah dan menangis. Akibat tindakanku ini, saya dimarahi oleh Mama dan juga Bapak Gembala Gereja. Mereka mengatakan agar tidak memberitahu kakakku supaya tidak putus sekolahnya. Sebenarnya, saya cerita sama Kakak karena saya sudah tidak tahu mau cerita ke siapa lagi.

Keesokan harinya, adik saya yang paling kecil pulang dari sekolah, dia menangis bahwa di sekolah dia diejek dan dibilang, “Bapaknya masuk penjara.” Teman-teman adikku kebetulan satu tetangga dan satu sekolah dengan adikku. Betapa sakitnya hatiku pada saat itu, kadang aku bertanya, “Tuhan di manakah Engkau ?”

Setelah tiga minggu Bapakku ditahan, Bapak dapat keluar dari penjara dengan bantuan bos besi tua Bapak yang memberikan pengacara kepada kami. Akhirnya, Bapak bebas. Dan waktu Bapak tiba di rumah, begitu sakit dada ini dan saya menahan tangis serta memeluk erat Bapak yang begitu kurus, hitam, dan hampir tidak kukenali lagi. Keesokan hari dan hari berikutnya, saya selalu memperhatikan Bapak. Ternyata, Bapak mengalami banyak perubahan. Beliau lebih sering diam, lebih sering sendirian, dan hampir tidak seperti Bapak yang dulu. Semenjak kejadian itu, keadaan ekonomi kami jatuh.

Saya waktu itu sempat berpikir dan memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah karena tidak ada satu pun orang yang mau menolong keluarga kami bahkan saudara–saudara terdekat kami sendiri. Tetapi yang membuat saya kuat yaitu dorongan dari teman-teman saya dan juga pada waktu itu menjelang waktu Try Out. Saya berpikir bahwa saya tidak mau terpuruk dalam keadaan ini, saya harus bangkit dan membuktikan bahwa saya dan keluarga bisa menjalani semua. Puji Tuhan dengan apa yang kami alami ini membuat saya semakin dewasa.

Akhirnya setelah lulus SMA, saya mendaftar kuliah di UAJY. Puji Tuhan sampai sekarang saya kuliah di UAJY. Perjalanan saya masuk kuliah juga tidak mudah, karena uang yang harus dikeluarkan cukup banyak. Dengan terpaksa, kami meminjam uang ke orang lain. Selama saya kuliah juga saya mengalami kendala pembayaran biaya kuliah ditambah biaya hidup saya selama di Jogja. Setiap menjelang saat pembayaran SPP, saya merasa sedih dan kasihan kepada orangtua saya karena tidak hanya saya saja yang harus dibiayai, adik-adik saya juga harus dibiayai karena mereka semua sedang bersekolah. Kemudian, kakak saya menyuruh saya mendaftar beasiswa untuk sedikit meringankan beban orangtua. Saya mencoba mendaftar Beasiswa KAMAJAYA. Puji Tuhan saya diterima. Saya berterima kasih kepada KAMAJAYA Scholarship atas terpilihnya saya menjadi salah satu penerima beasiswa ini. Harapan untuk kedepannya saya bisa menjalani beasiswa ini dengan baik dan dapat menyelesaikan studi dengan baik. Tetapi saat ini, saya masih belum memaksimalkan semuanya, masih banyak yang harus dilakukan agar semuanya itu bisa menjadi berkat bagi semua orang dan saya bisa membagikan cerita ini nanti kepada banyak orang. Saya bekerja keras dan berdoa, meyakinkan diri bahwa semua akan indah pada waktunya.

No Comments

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA