KAMAJAYA Scholarship / Penerima Beasiswa  / Periode 2020/2021  / Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Adelbertus Dharma Wijayatama

Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Adelbertus Dharma Wijayatama

Adelbertus Dharma Wijayatama

Tanggal Lahir:
Kota Asal:
Studi:

15 Februari 2002

Yogyakarta

Fakultas Teknologi Industri Prodi Teknik Industri semester 6 (Maret 2021)

Adelbertus Dharma Wijayatama

Mahasiswa Fakultas Teknologi Industri UAJY Prodi Teknik Industri

Kesempatan Kedua

Nama saya Adelbertus Dharma Wijayatama, mahasiswa Prodi Teknik Industri UAJY angkatan 2018. Saya dilahirkan sebagai anak pertama dari dua bersaudara. Saya memiliki satu saudara perempuan yang saat ini juga sedang menjalani kuliah di salah satu universitas swasta di Yogyakarta. Saya saat ini masih tinggal bersama kedua orang tua saya di dalam keluarga yang sederhana. Kesederhanaan ini menjadikan keluarga saya tetap kuat walaupun di tengah kondisi ekonomi yang fluktuatif. Kondisi saat ini, kedua orang tua saya menanggung biaya perkuliahan saya dan juga adik. Kondisi inilah yang membuat situasi ekonomi keluarga saya semakin sulit.

Pilihan dan prioritas saya yaitu menjalani perkuliahan dengan baik dan kelak akan mendapatkan gelar sarjana. Saya menyukai kegiatan di perkuliahan yang saya jalani karena sesuai dengan kemampuan saya dan dapat mempelajari hal-hal yang dapat membuat saya berkembang.

Sebagai mahasiswa Teknik, jalan yang dilalui tak selalu mudah. Semester demi semester telah dilalui dengan berbagai proses. Saya percaya, pada sebuah proses, terkadang hasil yang didapat tidak sebaik yang diharapkan. Namun, akan tetap muncul kebanggaan karena berhasil melewati suatu tahapan proses.

Kegagalan yang saya alami selama hidup, selalu menjadi pengalaman yang baik bagi saya. Selama hidup, kegagalan yang saya hadapi yaitu gagal menjadi pribadi yang diharapkan orang tua. Mengapa menjadi suatu kegagalan? Yaitu, karena saya hingga saat ini belum bisa menjadikan diri saya sebagai orang yang bisa menyatukan keluarga saya. Saya belum bisa membantu meringankan beban orang tua sehingga menjadi konflik yang besar di dalam rumah tangga keluarga saya.

Sejak saya SMP, kedua orang tua saya sudah memutuskan untuk berpisah rumah karena keadaan ekonomi keluarga yang kurang baik. Walaupun masih bisa tinggal bersama orang tua, namun keadaan yang terjadi pada masa ini sangatlah berbeda. Konflik mulai memuncak pada saat saya dan adik ingin melanjutkan studi di perguruan tinggi. Kegagalan saya untuk bisa mendapatkan kesempatan studi di perguruan tinggi negeri, membuat saya semakin ragu untuk mendaftar kuliah di UAJY. Pada akhirnya, pilihan saya mantap tertuju pada suatu prodi yang ada di UAJY yaitu Teknik Industri.

Masa SMA bukanlah masa keemasan yang saya alami. Pengalaman bersekolah di sekolah homogen (siswanya laki-laki semua) di Yogyakarta memang menjadi tantangan terbesar dan sekaligus berada pada masa terberat. Seperti pada umumnya, kenakalan-kenakalan remaja sangat mungkin terjadi. Semangat untuk belajar menimba ilmu pun akhirnya memudar karena terpengaruh dengan pergaulan-pergaulan yang salah. Pergaulan selama saya bersekolah di SMA membuat saya berada pada titik terendah pada saat itu. Banyak sekali teman-teman di angkatan saya yang harus mengakhiri sekolahnya lebih cepat karena terlibat seperti kasus narkoba, perkelahian, dan pengeroyokan. Namun, saya yakinkan diri untuk tidak pernah menyentuh, atau bahkan menggunakan narkoba yang jelas akan merusak hidup saya cepat atau lambat. Pada saat itu, saya berada pada kondisi malas belajar, malas berjuang, mudah menyerah, yang pada akhirnya saya tidak bisa mendaftar masuk ke perguruan tinggi negeri yang sudah menjadi harapan bagi orang tua. Puji Tuhan, selama bersekolah saya bisa menyelesaikan waktu studi 3 tahun sehingga tidak menambah beban orang tua.

Saya mulai menemukan titik balik yang menyadarkan pilihan untuk tetap melanjutkan kuliah ketika menjadi salah satu mahasiswa di UAJY. Saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang telah ada. Pengalaman mendebarkan yang sering saya alami yaitu setiap saat pembayaran SPP. Segala upaya sudah diusahakan, tetapi tidak semuanya berjalan mulus. Terkadang, Ayah perlu meminjam dan potong gaji di tempat kerja untuk membayar SPP tersebut. Namun saat ini, Ayah sudah tidak bisa mendapatkan gaji lagi karena usia beliau yang sudah memasuki masa pensiun dan harus mendapat PHK saat Pandemi Covid-19 ini berlangsung.

Saya mencoba untuk memperjuangkan kesempatan untuk tetap kuliah dengan mendaftar beasiswa, salah satunya Beasiswa KAMAJAYA. Namun sayangnya, saya tidak lolos pada tahap seleksi awal tahun 2018. Rasa pesimis pun mulai muncul karena tidak yakin akan kemampuan dan keberuntungan. Hingga pada tahun 2020, saya mendapatkan bantuan pembayaran SPP oleh seorang donatur yang merupakan alumni UAJY, beliau adalah Almh. Ibu Dwi Hartiningsih, S.H. Saya pernah bertemu dengan beliau ketika mengajukan bantuan beasiswa. Beliau kebetulan merupakan teman dekat paman saya. Waktu itu, saya mendapatkan beasiswa untuk membayar SPP tetap. Namun, keadaan berbeda setelah Ibu Dwi yang murah hati tersebut harus meninggalkan dunia untuk selamanya. Ketika mendengar berita tersebut, hati seolah-olah hancur. Hingga pada suatu hari, saya mendapatkan informasi bahwa penerima beasiswa Bu Dwi akan dipindahkan ke Yayasan Bakti KAMAJAYA Indonesia (KAMAJAYA Scholarship). Semuanya terasa seperti mukjizat yang diberikan Tuhan kepada saya dan selalu diberikan jalan oleh-Nya.

Pada akhirnya, saya mendapatkan kesempatan kedua untuk menjadi penerima Beasiswa KAMAJAYA dan bisa melanjutkan kuliah. Pengalaman jatuh yang saya alami membuat diri semakin kuat untuk menjalani lika-liku kehidupan. Sebagai bentuk rasa syukur kepada kasih Tuhan, saya selalu mengekspresikannya dengan membantu orang lain yang benar-benar membutuhkan bantuan dan selalu bersyukur atas hal yang telah terjadi. Bentuk konkrit rasa syukur dapat saya tunjukkan dengan mencintai lingkungan sekitar dengan melakukan kegiatan yang bisa merawat alam sekitar. Berbekal pengalaman selama menjadi kelompok pecinta alam saat SMA, saya belajar banyak hal untuk menjaga alam sekitar, terutama alam yang masih jarang dijamah manusia.

Kegagalan selalu dapat terjadi dan menjadi makanan sehari-hari. Namun satu hal yang tak pernah gagal, yaitu untuk tidak menyerah pada keadaan dan berusaha memperbaiki sesuatu. Beasiswa KAMAJAYA memberi kesempatan saya untuk bisa terus maju walaupun dalam kondisi yang sulit. Sebagai bentuk rasa syukur yang dapat saya lakukan sekarang ini adalah bersungguh-sungguh dalam kuliah dan terlibat aktif dalam kegiatan KAMAJAYA Scholarship. Kelak, saya tidak akan melupakan kebaikan dan kesempatan yang telah diberikan kepada saya, dan berkeinginan untuk membantu sesama manusia yang membutuhkan dengan semua kemampuan saya.

Semoga cerita singkat dari perjalanan hidup saya bisa dijadikan sebagai inspirasi untuk seseorang yang ingin menyerah pada keadaan. Setiap jalan bisa berbeda keadaannya. Namun, hanya kita sendiri yang bisa menentukan jalan tersebut.

Catatan Pengurus KAMAJAYA Scholarship:
Ayah Stefani sudah meninggal pada tanggal 13 Februari 2021 pukul 01.17 WITA di RS Wahidin Makassar.

Foto saat menjadi Pendamping kelompok Inisiasi FTI 2019.
Foto saat mengikuti Green Action 8 FTI UAJY. Menanam pohon bakau di Pantai Baros.
Foto saat menjadi tim Humas event SPARKFEST 9 2019.
Foto saat mengisi acara Inisiasi FTI 2019.

No Comments

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA