KAMAJAYA Scholarship / Kisah/Kesaksian/Testimoni  / Kisah Penerima Beasiswa: Durhaka atau Tidak ya?

Kisah Penerima Beasiswa: Durhaka atau Tidak ya?

Sulit rasanya menjalani kegiatan selama adanya pandemi COVID-19 ini, tapi mau bagaimana lagi, sudah seharusnya beradaptasi dengan kegiatan baru ini. Semester 7 kemarin saya lalui dengan mengulang beberapa mata kuliah yang nilainya kurang dan saya mengambil KP (Kerja Praktik) atau bisa disebut dengan magang paruh waktu. Karena magang paruh waktu ini sebuah proses perkuliahan yang wajib dilalui mahasiswa Arsitektur dengan 2 pilihan, yakni paruh waktu dan penuh waktu sebelum menempuh Seminar LKPPA lalu masuk ke Studio Tugas Gambar Akhir atau biasa disebut TGA. Perkuliahan saya semester ini jika dibilang senggang bahkan cukup senggang karena mata kuliah yang biasanya memberikan tugas banyak hanya ada 2 mata kuliah, sedangkan sisanya kebanyakan hanya mengerjakan tugas untuk presensi pertemuan. Namun, karena KP ini kami sebagai mahasiswa dituntut untuk bekerja langsung di lingkungan kerja yang sebenarnya; dengan kata lain bekerja seperti layaknya seorang kontraktor atau bidang lainnya di lapangan.

Untuk proyek yang diambil sendiri bisa dari mahasiswa yang mengajukan kepada dosen pembimbing atau biasanya dosen menawarkan kepada mahasiswa yang mengambil KP. KP ini terbagi lagi menjadi 3 macam, yaitu Perancangan dan Perencanaan, Pengawasan dan Penelitian. Dari tiap macamnya memiliki bobot pengerjaan yang berbeda dan relatif bergantung pada proyek yang sedang diambil. Karena saya mencari-cari proyek di masa pandemi ini sangatlah sulit, maka saya akhirnya mengambil tawaran proyek dari dosen lain yang ditawarkan pada saat pembekalan/penyuluhan KP. Pada saat inilah kendala terjadi yang mengakibatkan sampai sekarang saya sampai menyusun laporan KP untuk kampus sebagai nilai mata kuliah tersebut dan menyusun presentasi untuk ke dinas terkait.

Tim desain saya awalnya terdiri dari 3 orang termasuk saya lalu bertambah 1 orang. Proyek ini adalah penataan kawasan seluas 4,3 ha, jadi sebetulnya kurang ideal untuk dikerjakan 4 orang apalagi masih berstatus mahasiswa bukan tenaga ahli. Idealnya dikerjakan lebih dari 6 orang mengingat banyak sekali jenis pekerjaan pada proyek yang dikerjakan. Tapi ya … mau bagaimana lagi memang susah mendapatkan proyek-proyek di masa pandemi sekarang ini. Pihak dinas permintaannya juga susah kami terjemahkan ke dalam desain karena tim desain kami hanya memiliki “4 kepala” untuk memecahkan masalah bersama-sama. Lalu, kendala selanjutnya terletak pada kelompok kami sendiri. Kendala tersebut adalah koordinator kelompok kami sangat sulit dihubungi, tidak memberikan kabar apa pun sebelum terjadi sesuatu dan masalah komunikasi lainnya. Ini karena dia juga selaku narahubung kepada tim dosen sebagai pembimbing pada proyek kami dan beliau adalah dosen yang memberikan penawaran proyek pada saya waktu itu. Dari situ kami kesulitan untuk berkomunikasi antara mahasiswa dengan dosen dan juga diperburuk oleh lokasi kami yang menyebar karena 2 mahasiswa bukan asli Jogja. Jadi dari segi teknis pun bisa dikatakan kami sangat minus dan 1 minggu terakhir koordinator kelompok kami “menghilang”, dihubungi tidak bisa mulai dari chat dari sosial medianya hingga dosen pun juga mengatakan kalau ia memang sangat susah dihubungi. Jadi, saya dan teman-teman yang lain juga berada di posisi “pekewuh”, mau berinisiatif sesuatu tapi salah, kalau tidak bergerak begitu juga salah.

Tapi ya sudahlah tidak apa-apa memang sudah jalannya seperti ini bagi saya mau bagaimana lagi? O … iya kendala di luar perkuliahan saya juga ada. Waktu itu sempat bapak saya pulang dari Jakarta urusan pekerjaan dan lalu langsung ke rumah tidak memberi kabar terlebih dahulu. Kami yang ada di rumah juga kaget karena waktu itu sedang panas-panasnya COVID-19 ini. Ini terjadi akhir November – awal Desember kemarin. Karena ibu saya lihat raut wajah Bapak memang pucat sekali, langsung Ibu suruh untuk jangan langsung ke rumah dulu karena takut terjangkit COVID-19. Lalu, Bapak pulang ke kost yang dulu Bapak tinggali sebelum menikah dengan ibu saya yang sekarang. Dan benar saja, karena kami satu rumah takut untuk kontak fisik jadi kami hanya menginstruksikan Bapak untuk tes SWAB di RS Siloam, lalu hasilnya Bapak positif COVID. Pada saat itu, saya biasa saja mengingat hubungan saya dengan bapak saya memang tidak seperti pada umumnya, saya hanya lemas karena proses selanjutnya adalah nantinya saya yang akan mengurus semua proses administrasi rujukan pasien COVID dan segala tetek- bengeknya. Dan benar saja saat itu Sabtu malam hari terakhir pengumpulan laporan individu KKN dan laporan saya belum selesai.

Sebenarnya hanya tinggal sedikit tapi tiba-tiba saja Ibu minta tolong ke saya untuk menjadi juru bicara ke tim Satgas Covid Sleman untuk meminta ambulance rujukan ke RS Hardjolukito. Saya sangat pusing karena tugas saya waktu itu jadi tidak tersentuh karena menghubungi sana-sini meminta ambulance gratis yang bisa mengangkut pasien COVID. Sedangkan kakak saya yang laki-laki juga diam saja tidak ada inisiatif membantu saya atau apa pun itu. Padahal, bukan “jatah” saya untuk mengerjakan itu karena tugas saya harus segera menyelesaikan masa studi saya agar kelak juga bisa membantu keluarga tanpa terhalang hal lain seperti saat ini saya sedang kuliah. Untuk nilai yang didapat sendiri saya sudah cukup puas mengingat keadaan saya di rumah yang tidak mendukung sama sekali. Tidak ada meja belajar, jadi saya di depan laptop membungkuk setiap kali mengerjakan tugas dan apabila ada perkuliahan. Dan selama pandemi ini, Ibu juga kondisi fisiknya terus turun hingga saya juga pusing kadang untuk dimintai tolong mengantarkan Ibu berobat atau ke mana pun itu padahal saat itu saya sedang mengerjakan tugas, sedang ada perkuliahan, dan hal lain yang tidak bisa ditinggalkan terkait perkuliahan. Sementara kakak saya tidak ada kegiatan, hanya di dalam kamar seharian. Saya tidak tahu dia sedang apa di dalam kamar, entah itu tidur atau berada di depan komputer sedang bermain game atau mengedit video rekaman dia bermain game atau apa pun itu. Sering sekali dia dimintai tolong oleh Ibu dan dia mengiyakan seperti terpaksa dan ya begitulah.

Kadang saya bingung, saya itu anak yang durhaka atau tidak. Di masa-masa sekarang ini, mengabaikan permintaan ibu saya, dan hal hal lain. Tapi di lain sisi, saya juga harus mengejar kuliah saya mengingat saya terikat oleh beasiswa yang tidak bisa saya sia-siakan. Saya merasa berada di posisi yang serba salah di dalam keluarga karena Bapak bekerja dan tidak di rumah. Jadi, Ibu hanya bisa minta tolong kepada 2 anaknya, yaitu saya dan kakak saya yang laki-laki. Ya … beginilah hidup di masa pandemi, kalau ga ada kendala ya ga mungkin, semua itu pasti ada, tidak mungkin ada yang tidak ada.

Yogyakarta, 20 Januari 2021
Yusril Mahendra Pratama
Mahasiswa Program Studi Arsitektur UAJY Angkatan 2017
Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-4

Image by Fathromi Ramdlon from Pixabay

No Comments

Post a Comment

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA