KAMAJAYA Scholarship / Penerima Beasiswa  / Periode 2021/2022  / Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Basilik Hanslivian Wicaksana

Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Basilik Hanslivian Wicaksana

Basilik Hanslivian Wicaksana

Tanggal Lahir:
Kota Asal:
Studi:

18 November 1999

Jakarta

Fakultas Bisnis dan Ekonomika Prodi Ilmu Ekonomi semester 9 (September 2021)

Basilik Hanslivian Wicaksana

Mahasiswa Fakultas Bisnis dan Ekonomika UAJY Prodi Ilmu Ekonomi

God is Good

Perkenalkan, nama saya Basilik Hanslivian Wicaksana. Hans adalah panggilan saya sehari-hari. Saya lahir ke dunia pada tanggal 18 November 1999 di sebuah rumah sakit sederhana di utara Kota Jakarta. Saya adalah anak pertama dari 3 bersaudara yang semuanya adalah laki-laki. Meskipun di antara kami bertiga semuanya laki-laki, namun saya adalah pribadi yang sangat tertutup dan tidak terlalu dekat dengan adik-adik saya dikarenakan semenjak kecil saya sudah tinggal dan diasuh oleh nenek dan kakek saya, sementara kedua adik saya diasuh oleh kedua orang tua saya.

Mungkin pertanyaan dari para pembaca tulisan ini adalah, “Lho kenapa bisa kamu diasuh oleh nenek dan kakekmu sementara adikmu mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuamu?” Mungkin jawabannya adalah saya tidak betah dengan kondisi rumah yang selalu panas karena orang tua yang selalu bertengkar tiap hari, sehingga saya merasa nyaman jika pergi ke rumah Nenek. Menjadi bagian dari keluarga “broken home” memang sangat tidak diinginkan setiap anak termasuk saya. Sejak kelas 5 SD, saya benar-benar mendapatkan didikan dari Nenek dan Kakek yang cukup keras namun disiplin. Sesekali mereka “memanjakan” saya sebagai satu-satunya cucu yang mereka besarkan.

Saat kedua orang tua saya memutuskan untuk berpisah, kedua adik saya juga ikut dengan nenek dan kakek saya untuk tinggal bersama. Dan sejak perpisahan itu juga, secara ekonomi keluarga kami yang awalnya bisa dikatakan stabil secara finansial akhirnya perlahan mengalami penurunan. Ayah saya mengalami penurunan jabatan dikarenakan masalah yang ia hadapi. Hal ini sangat berdampak pada psikologisnya sehingga mengganggu pekerjaannya. Perlahan-lahan aset demi aset keluarga yang dimiliki seperti rumah dan kendaraan pribadi harus terpaksa dijual untuk memenuhi biaya pendidikan dan biaya hidup kami berempat.

Pada saat sekolah dasar, saya melampiaskan kekesalan karena iri melihat teman-teman sebaya yang mendapatkan kasih sayang penuh dari ayah ibunya dengan bermain musik. Saat perkenalan pertama saya dengan musik, saya merasa apa yang ingin saya luapkan bisa tersampaikan dengan baik dan seketika semua pikiran terasa jernih. Saya mulai masuk ekstrakurikuler di bidang musik seperti bengkel seni, drumband, dan yang lainnya. Hobi ini yang saya lanjutkan sampai jenjang SMP, SMA, dan Kuliah.

Kehidupan perkuliahan saya diisi dengan banyak kegiatan yang tidak lepas dari musik, di antaranya masuk ke komunitas musik fakultas, mengikuti UKM Marching Band, dan juga aktif dalam kepengurusan sebuah komunitas musik di Jogja. Saya dan musik memang tidak bisa terlepaskan karena pelampiasan terbaik saya untuk semua masalah hidup adalah musik dan musik telah menjadi hobi saya. Saya sering mengisi acara untuk pernikahan, ulang tahun, serta acara seminar-seminar di kampus. Di Marching Band Atma Jaya, saya juga cukup aktif sebagai pemain musik. Saya lebih menikmati sebagai pemain musik bukan sebagai pengurus. Menjadi seorang pemain Marching Band Atma Jaya, selain meningkatkan pengetahuan tentang musik juga belajar mencintai sebuah proses. Jatuh bangun sebuah proses akan sangat menentukan hasil kita ke depannya.

Di akhir tahun 2020 lalu tepatnya di bulan Agustus, keluarga kami juga harus menerima kenyataan pahit dikarenakan adanya pandemi COVID-19. Pandemi ini sangat berpengaruh terhadap pekerjaan ayah saya. Ayah yang adalah seorang Teknik Sipil untuk pembangunan perumahan dan apartemen harus menerima dirinya dirumahkan dikarenakan kegagalan perusahaan dalam membayar gaji karyawannya akibat pandemi. Ayah hanya diberikan uang jaminan sebesar Rp 1.000.000 per bulan namun tidak mendapatkan kepastian untuk bisa bekerja lagi. Di awal tahun 2021 lalu, keputusan tersebut keluar, dan ayah saya harus mengubur angannya untuk kembali bekerja karena perusahaan harus melakukan perampingan dan penghematan. Kondisi inilah yang membuat situasi keluarga kami makin memilukan, terlebih adik terakhir saya baru saja memasuki jenjang SMA.

Saat ini ayah saya sedang berusaha untuk mencari pekerjaan baru untuk menghidupi anak-anaknya, terlebih menuntaskan tanggung jawabnya menyelesaikan pendidikan anak-anaknya. Namun, saat ini masih pandemi dan lapangan pekerjaan yang tersedia tidak banyak. Hal ini membuat ayah saya hingga sekarang belum mendapat pekerjaan baru setelah sebelumnya dirumahkan. Untuk membantu perekonomian keluarga, saya memutuskan untuk bekerja part-time di sela-sela kuliah online. Hasilnya saya gunakan untuk membantu biaya sekolah adik saya, biaya hidup saya dan adik dan nenek yang sekarang berada di Jogja, serta mencicil biaya kuliah. Sayangnya, semua gaji yang saya dapatkan tidak cukup untuk menutupi semua itu.

Saya berdoa dan berserah pada Tuhan, dan Puji Tuhan saya mendapatkan kesempatan untuk menerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-5. Saya bersyukur dan terharu karena saya mendapatkan bantuan dan kesempatan untuk menyelesaikan kuliah saya dari para alumni UAJY melalui Beasiswa KAMAJAYA. Saya sempat putus asa, karena di masa akhir kuliah saya, saya harus menghadapi situasi sulit yang mengancam kelanjutan kuliah saya. Namun ternyata, Tuhan ulurkan tangan-Nya melalui para donatur KAMAJAYA Scholarship. Semoga Tuhan membalas kebaikan orang-orang baik tersebut. Saya akan berusaha semaksimal mungkin agar dapat menyelesaikan kuliah saya dengan baik.

No Comments

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA