KAMAJAYA Scholarship / Penerima Beasiswa  / Periode 2021/2022  / Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Patricia Devita Samara

Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Patricia Devita Samara

Patricia Devita Samara

Tanggal Lahir:
Kota Asal:
Studi:

17 Maret 2001

Makassar

Fakultas Teknologi Industri Prodi Informatika semester 5 (Oktober 2021)

Patricia Devita Samara

Mahasiswi Fakultas Teknologi Industri UAJY Prodi Informatika

Doa, Keyakinan, dan Kerja Keras

Namaku Patricia Devita Samara. Biasanya aku dipanggil Devi oleh keluarga dan Patric oleh teman-temanku. Aku lahir di Makassar, 17 Maret 2001. Hobiku adalah menari, bernyanyi, mendengarkan lagu, menonton film atau drama, dan memasak. Aku dikenal sebagai sosok yang humoris, penuh semangat, sopan, jujur, mandiri, pintar dan penuh ambisius. Aku juga dikenal sebagai pribadi yang mudah berbaur dan menyesuaikan diri dengan lingkungan atau orang baru dan mampu belajar dengan cepat.

Berbicara soal keluarga jujur, aku sangat bersyukur bisa dilahirkan di keluarga ini. Sebab dengan segala macam rintangan yang ada di dalamnya, membuatku menjadi manusia yang kuat dan lebih menghargai hidup. Aku lahir sebagai anak pertama dalam keluargaku dan memiliki satu adik laki-laki yang usianya berbeda 19 bulan denganku. Aku dibesarkan di keluarga yang sederhana dan penuh perjuangan. Ayahku dulu seorang pegawai swasta yang sekarang sudah pensiun alias tidak bekerja sedangkan ibuku seorang ibu rumah tangga.

Keluargaku bisa ada hingga saat ini karena hasil perjuangkan kami semua dalam menghadapi segala macam cobaan dan rintangan yang ada dalam keluarga kami, sehingga aku pun belajar banyak hal dalam prosesnya. Papa dan Mama memulai rumah tangga dari “nol” alias belum punya apa-apa (sederhana). Papa punya latar belakang keluarga yang juga hidupnya sangat sederhana. Bahkan, beliau harus membiayai ketiga adiknya karena ayahnya meninggal dunia ketika Papa dan saudaranya yang lain masih bersekolah. Mama punya cerita yang sedikit lebih baik daripada Papa. Mama berasal dari keluarga yang berkecukupan karena kedua orang tuanya bekerja dan merupakan seorang PNS. Karena memulai dari “nol”, maka di fase awal kehidupan keluarga ini banyak hal yang harus Papa dan Mama lalui. Mulai dari kenangan buruk seperti tinggal di rumah kontrakan yang kecil dan kumuh, Papa di-PHK karena krisis moneter di tahun 2002, Papa harus gonta-ganti pekerjaan, Mama yang stres karena adikku lahir dengan posisi suami yang tidak bekerja, hingga kenangan manis seperti Papa bisa diterima di perusahaan yang baik, dipromosikan di perusahaannya, bisa tinggal di rumah yang lebih baik, Papa bisa dapat gaji yang lumayan, dan pasti yang paling membahagiakan dari semua kenangan manis yang ada, yaitu mereka bisa mendapatkan sepasang anak yang lahir sempurna dan sehat.

Kata bijak mengatakan setelah badai akan muncul pelangi yang indah, dan hal itupun juga menjadi motivasi di keluargaku. Berkat doa, keyakinan, dan kerja keras dari Papa dan Mama selama kurang lebih 5 tahun, keluargaku pun berhasil keluar dari badai itu dan situasi keluarga menjadi lebih baik dan stabil. Meskipun sudah berhasil melewati badai di awal kehidupan rumah tangga mereka, Papa dan Mama masih berusaha mencari peruntungan yang lebih baik lagi dan hal inilah yang membuat Papa sering gonta-ganti pekerjaan yang membuat keluargaku harus pindah-pindah dan mendapat gelar sebagai “keluarga nomaden”. Kurang lebih dari 5 pulau yang ada di Indonesia, sudah ada 4 pulau yang sudah pernah ditinggali keluargaku. Setelah kurang lebih 16 tahun berusaha mencari peruntungan yang lebih baik, kami pun akhirnya berhasil menemukannya di Pulau Sumatera tepatnya di Kota Medan. Papa berhasil diterima di suatu perusaha asing yang ada di Kota Medan dengan gaji dan posisi yang sangat menggiurkan. Memang benar keadaan dan kehidupan keluargaku jauh lebih baik ketika Papa bekerja di perusahaan itu. Bagiku sendiri di masa itu merupakan masa yang sangat aku rindukan sekarang. Aku sangat menyesal karena waktu itu aku masih kurang bersyukur atas apa yang sudah Tuhan berikan kepadaku. Banyak hal baru yang bisa keluargaku rasa dan dapat di masa itu, salah satunya yang paling tidak terlupa adalah ketika kami berempat berlibur di Singapura. Itu memang masa yang paling membahagiakan. Namun ternyata, kehendak Tuhan berkata lain.

Setelah 6 tahun bisa merasakan semua berkat yang begitu melimpah yang Tuhan berikan pada masa itu, kami pun diminta Tuhan untuk kembali menjalani kehidupan yang sederhana lagi. Papa harus dipensiundinikan dari perusahaannya. Yang paling menyakitkannya lagi, berita tidak mengenakkan ini kami dapatkan di hari ulang tahun Papa yang ke-50 tahun. Jujur ini merupakan hal yang membuat kami sangat terpukul. Mengapa? Jadi setelah Papa bekerja di perusahaan itu, keluargaku pun akhirnya semakin punya keyakinan yang besar bahwa rencana-rencana masa depan yang begitu indah yang sudah kami rencanakan sejak dulu ketika keluarga kami masih di masa-masa sulit bisa kami wujudkan. Salah satunya rencana untuk kelanjutan studiku dan adikku. Namun seperti tertulis dalam alkitab, manusia hanya bisa berencana akan tetapi Tuhan yang menentukan mana yang terbaik bagi ciptaan-Nya. Dari kutipan inipun keluargaku berusaha untuk bangkit kembali dan juga kami sudah pernah ada di fase ini sebelumnya, sehingga kami percaya kami mampu untuk keluar lagi dari fase ini. Karena berita ini juga aku, adikku, dan orang tuaku harus kembali ke Makassar dan tinggal dengan Nenek dan Kakek.

Kami pun sekarang hidup hanya dari uang pesiun yang Papa dapatkan dari perusahaannya yang jumlahnya sangat pas-pasan untuk kehidupan kami selanjutnya dan uang itu pun hari demi hari akan berkurang karena digunakan untuk membayar biaya kehidupan sehari-hari dan juga biaya kuliahku dan adikku. Syukurnya masih ada Nenek dan Kakek yang terkadang membantu kami dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tanpa mereka mungkin aku dan adikku akan menjadi korban putus sekolah, karena hanya berpegang dengan uang pensiunan Papa yang juga jumlahnya makin sedikit tentu saja tidak akan cukup untuk membiayai kuliahku dan adikku. Hingga hari ini, kurang lebih sudah 2 tahun, Papa masih berusaha untuk melamar ke suatu perusahan dan sayangnya belum juga diterima di perusahaan manapun. Mungkin karena faktor usia, yang mana Papa juga sudah berusia lebih dari setengah abad dan situasi pandemik ini.

Papa dan Mama saat ini melakukan pekerjaan serabutan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, yang mana penghasilannya juga tidak menentu, kadang dalam sebulan ada kadang juga tidak ada. Sedangkan aku dan adikku juga belajar untuk memulai bisnis online bersama. Terkadang, kami sering merasa sedih ketika kita melihat foto-foto ketika masih di Medan. Yang paling membuat kami sedih adalah semua terjadi di waktu yang kurang tepat, karena di masa ini aku dan adikku sedang butuh-butuhnya biaya untuk kuliah. Di masa ini juga harusnya Papa dan Mama yang membantu Nenek dan Kakek yang sudah tua dan sakit-sakitan, sedangkan kami malah yang menumpang dan merepotkan mereka. Tetapi keluargaku tahu betul bahwa Tuhan tidak akan memberikan masalah yang melebihi kekuatan umat-Nya. Kami juga percaya bahwa dengan doa, keyakinan, dan kerja keras serta sedikit kesabaran segala hal yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin. Untuk itu, selain berusaha kami juga sedang belajar untuk lebih dekat lagi dengan Tuhan dan selalu mengandalkan Tuhan dalam kehidupan kami.

Sejak kecil hingga sekarang, aku selalu bersekolah di sekolah Katolik. Jadi, pendidikan formal pertama yang aku dapatkan adalah TK. Di masa TK, aku dikenal sebagai anak yang pintar, rajin, dan berani mencoba meskipun aku masih pemalu di masa itu. Setelah TK, aku melanjutkan studi ke SD. Mulai dari SD inilah keseriusan dan ambisiku dalam belajar mulai terbangun. Sejak SD hingga SMA, aku sering mendapatkan peringkat 1 dan 2, baik di tingkat kelas ataupun secara paralel. Tak hanya itu, aku juga aktif mengikuti kegiatan-kegiatan (baik karena kemauan sendiri ataupun karena menjadi utusan sekolah) perlombaan atau olimpiade mulai dari tingkat regional hingga nasional yang tak jarang aku membawa juara setelah mengikutinya. Tak hanya semangat dalam belajar, sejak SD juga aku mulai tertarik dengan kegiatan organisasi, baik itu yang ada di gereja, sekolah, ataupun masyarakat.

Saat ini, aku sedang melanjutkan studiku di Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) pada program studi Informatika dan tahun ini adalah tahun keduaku. Awal masuk kuliah aku sempat khawatir akan kesulitan beradaptasi di Kota Jogja dan juga adaptasi dengan perkuliahanku. Aku sendiri menginjak Kota Jogja baru sekali saat aku mendaftar ke UAJY dan prodi yang aku daftarkan di UAJY pun berbeda 180° dari jurusan yang sebelumnya sudah aku targetkan ketika nanti masuk ke tingkat perguruan tinggi. Namun setelah hidup kurang lebih 6 bulan di Jogja dan setelah 2 semester aku lalui di jurusan Informatika, seketika kekhawatiranku menjadi berubah. Kini yang aku khawatir adalah apakah aku masih bisa melanjutkan studiku hingga lulus sarjana nanti dengan situasi ekonomi keluargaku saat ini?

Berkuliah di UAJY adalah berkat dari Tuhan yang selalu aku syukuri hingga hari ini. Banyak pengalaman dan hal positif yang aku dapatkan sejak kuliah di UAJY. Sejak kuliah di UAJY, aku menjadi pribadi yang lebih dewasa, bertanggung jawab, dan mandiri berkat kegiatan-kegiatan yang aku dapatkan dan ikuti selama berkuliah di sini. Semua pengalaman dan hal positif ini aku dapatkan karena keaktifanku dalam mengikuti kegiatan organisasi, mulai dari himpunan mahasiswa, kelompok studi, UKM, komunitas, dan juga mengikuti berbagai kegiatan kepanitian dari event yang diadakan di UAJY. Selain itu, hal yang paling membuatku bersyukur bisa di terima di universitas ini adalah program beasiswa yang dimiliki oleh UAJY sangat banyak.

Selama 3 semester ini, aku masih bisa melanjutkan studiku berkat beasiswa yang ada di UAJY. Dan untuk tahun ketiga ini, aku ingin mencoba mendaftarkan diri ke KAMAJAYA Scholarship. Dan Puji Tuhan, aku bisa diterima menjadi bagian dari keluarga KAMAJAYA Scholarship. Bisa menjadi bagian dari keluarga KAMAJAYA Scholarship sendiri adalah berkat Tuhan yang lainnya yang sampai saat ini sangat aku syukuri. Dengan adanya bantuan dari KAMAJAYA Scholarship ini membuatku semakin semangat dalam menjalani studiku.

Jika ditanya soal mimpi, aku ingin di masa depan bisa menghasilkan karya yang dapat berguna untuk semua orang, terkhusus di bidang teknologi sehingga semua orang bisa merasakan kemudahan dan kenikmatan hidup di tengah teknologi yang canggih. Dan aku juga berharap bisa menjadi orang yang dapat membawa kebahagiaan dan hal baik/positif serta perubahan ke arah yang lebih baik bagi kehidupan orang lain. Intinya, aku ingin hidupku bisa melayani/membantu orang lain. Dan untuk mewujudkan mimpiku ini, aku terus berusaha belajar dengan giat, membangun relasi, dan mengasah softskill yang aku miliki dengan mengikuti dan bergabung di berbagai kegiatan kepanitiaan atau organisasi di kampus. Aku juga belajar bahasa asing, sehingga aku bisa membangun relasi dan memudahkanku untuk bertukar informasi yang bermanfaat dengan orang dari seluruh dunia. Serta yang tak kalah penting dari semuanya yang harus ada dalam diri kita ketika ingin mewujudkan mimpi kita adalah doa, keyakinan, dan kerja keras.

No Comments

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA