KAMAJAYA Scholarship / Kisah/Kesaksian/Testimoni  / Kisah Penerima Beasiswa: Akhir dari Danau Hitam

Kisah Penerima Beasiswa: Akhir dari Danau Hitam

Selama ini aku mengandaikan diriku sedang menyeberangi Danau Hitam (Potterhead pasti tahu danau ini/tonton saja Film Harry Potter keempat) tanpa menggunakan perahu. Sudah lebih dari separuh aku menyeberangi danau ini, daratan sudah mulai terlihat jelas. Kalian tahu ‘kan? Bagaimana rasanya berada di dalam air? Ya, paling tidak secara teori. Dingin, sesak, dan penuh tekanan. Belum lagi di dalam danau ada ganggang-ganggang yang menghambat jalan, atau mungkin “begal” dalam bentuk duyung dengan trisulanya yang tajam? Perjalanan mulai berat dan melelahkan, ingin putar balik tapi sudah sejauh ini. Berat sekali untuk berdiri dan berjalan dengan baju yang basah, sepatu yang terhisap lumpur di pinggir danau. Begitulah yang aku rasakan saat itu.

Skripsi yang berujung buntu, sehingga aku mencari judul baru dengan topik yang baru. Puji Tuhan lancar, walaupun aku sempat mengeluh ini itu. Lalu saat seminar proposal, bapak dosen penguji memintaku untuk menambah 1 massa bangunan utama, yang mana di ketentuan tertulis bahwa aku boleh memilih kumpulan bangunan atau 1 bangunan utama dengan luas xxx. Oke, aku perjelas: ATAU, A-T-A-U sebut dengan lantang ATAU! Aku sudah bilang kalau boleh memilih dan aku memilih kumpulan bangunan beserta luasan yang sudah memenuhi syarat tersebut, tetapi si bapaaaaaakkkkkk…. keukeuh sekali saudara-saudara. Ya sudah, aku tambahkan 1 massa bangunan.

Saat itu sudah bulan Juli 2021, mulai TGA (Tugas Gambar Akhir) Agustus 2021. Aku harus cepat-cepat memikirkan bangunan seperti apa yang harus ada dalam kawasanku. Sebelum aku membuat desain, aku harus menganalisis dulu pelaku kegiatannya dan menghitung kebutuhan ruang. Sampai akhirnya, baru mulai fix setelah hari kesekian TGA. TGA sungguh amat melelahkan, 35 hari aku harus menyelesaikan gambar yang cukup kompleks. Di momen inilah ketahanan mentalku diuji. Daya juangku dipertaruhkan. Selama 2 bulan itu, aku sering baperan, makin over thinking, takut, khawatir dan sedikit-sedikit mau menangis. Aku memutuskan untuk berdoa Doa Novena 9x Salam Maria, untuk mengurangi rasa takut dan khawatirku. Aku tidak berdoa semoga aku lolos periode 1, tetapi aku berdoa untuk dikuatkan dan ditabahkan dalam berproses. Jika nantinya aku tidak lolos periode 1, aku tidak menyalahkan doa yang tidak terkabul, melainkan mengiklaskan dan menerima kenyataan kalau aku belum layak untuk lolos.

Pernah waktu itu, baru seminggu TGA berjalan, temanku membuat story dengan foto gambar kerjanya yang tidak sengaja aku lihat. Aku down. Aku menahan diri supaya tidak terlalu terpengaruh. Akhirnya, 2 hari setelahnya aku menelepon tante yang di rumah. Aku ceritakan semuanya, perasaanku saat itu sambil menangis. Jarang-jarang aku menangis di depan tanteku. Lalu pada akhirnya, aku dikuatkan dengan kata-katanya, yang aku ingat, “Namanya proses ya berat, fokus sama diri sendiri, tetap berdoa.”

Hari-hari berlalu, aku harus mengumpulkan target tiap minggunya. Lalu, bagaimana jika target belum selesai? Tetap kumpul, yang penting ada dulu, nanti lanjutin lagi. Saran dari temanku yang sudah melewati masa ini. Belum selesai ini, sudah ada target baru. Aku yang bekerja dengan tempo pelan, mulai kelabakan. Pada akhirnya di pertengahan TGA, aku mulai berserah diri, dan memiliki feeling bahwa aku akan lanjut ke periode 2. Aku menyampaikan isi pikiranku ini kepada Bi dan Fani (selaku kawan seperjuangan dan sobat receh untuk pikiran tetap waras). Mereka bilang kepadaku, untuk menyelesaikan periode ini semaksimal kekuatanku dulu, setidaknya aku sudah mencoba dan tahu seperti apa TGA ini berjalan. Entah mengapa ada kata-kata dari Bi yang terngiang sampai sekarang, “Coba kamu lawan diri sendiri,” yang mana, kata-kata dia mirip dengan kotbah romo, “Sebagai pengikut Yesus, kita harus menyangkal diri sendiri. Maksudnya kita mampu melawan keiginan-keinginan duniawi manusia.” Maksud Bi, aku harus mencoba mempertahankan periode 1 ini, adakalanya punya pemikiran seperti itu tapi coba dilawan rasa ingin menyerah itu.

Tiga puluh hari berlalu, akhirnya hasil evaluasi final keluar. Seperti dugaanku, nilaiku tidak mencukupi untuk lanjut pendadaran, bisa dibilang nyaris pendadaran. Namun, aku disarankan untuk remidi. Aku sudah capek, aku minder dan ingin lanjut saja ke periode 2, karena banyak yang belum terselesaikan. Remidi cuma 3 hari, yang pastinya tidak akan bisa memperbaiki semua gambar. Yakin? Puaskah? Pertanyaan yang selalu berputar dalam benakku. Enggak, jawabku. Di sisi lain, aku ingin segera menyelesaikan ini. Aku ingin mendapatkan kegembiraan yang berlimpah bersama sobat-sobatku atas apa yang kami lalui. Ingin cepat-cepat merasakan kelegaan dan berpesta. Akhirnya, aku harus tetap mengusahakan dan mengambil kesempatan ini. Pada malam deadline pengumpulan remidi, aku berkata kepada Bi kalau aku punya feeling, aku akan lolos pendadaran. Dia membalas ucapanku, “Percaya sama feeling-mu.”

Kan. Feeling-ku benar, aku lolos. Ujian pendadaranku jatuh pada tanggal 19 Oktober 2021, dan aku akan diuji oleh salah satu dosen bergenre horror-thriller di kampus, Pak X namanya. Ajaibnya, aku sudah 3x berturut-turut, mau tidak mau ambil kelas beliau. Sejak awal mengerjakan skripsi, aku selalu bilang, “Semoga aku tidak diuji Pak X.” Eh, ternyata jodoh tidak kemana. Jika ditanya pendadaran seperti apa, aku akan menjawab, “Biasa aja, seperti asistensi.” Aku tidak disudutkan oleh penguji, melainkan diberi banyak sekali kritik yang sangat membangun. Aku merasa sudut pandangku diperluas. Pak X tidak seseram kata orang-orang. Kritikan dari beliau menambah pengetahuanku dan memperluas pikiranku. Sejauh aku mengerjakan skripsi dan TGA, banyak sekali hal-hal yang kurang dan luput dari pemikiranku. Ternyata, mendesain itu sangat sulit.

Akhirnya, semua peserta pendadaran dinyatakan lulus. Aku mendapat nilai B. Sudah cukup buatku, terutama untuk hasil gambar kerjaku selama TGA. Tidak ada yang perlu disesali. Aku tahu, aku tidak sempurna, memang tidak sempurna. Semua ini akan aku rayakan apa adanya. Terima kasih Tuhan, aku dapat menyelesaikan pendidikanku dengan baik, masih dalam keadaan tubuh yang sehat jasmani dan rohani.

Aku sangat bersyukur dan berterima kasih. Tuhan menurunkan berkat atasku melalui kebaikan orang-orang di sekitarku. Mulai dari keluarga, teman-teman yang lugu nan unyu dan minim drama kehidupan, pihak Beasiswa KAMAJAYA yang sudah membantu perkuliahanku dan membantu mengenal diri lebih dekat melalui konseling, dan orang-orang yang secara ikhlas menjadi tempat curahan uneg-unegku. Tanpa aku sadari, aku tidak sendirian ketika aku sedang kesulitan. Aku sangat bersyukur dan berterima kasih. Tuhan, kiranya Engkau melimpahi mereka dengan berkat-Mu. Amin.

Yogyakarta, 6 November 2021

Brigitta Pramesthi Saraswati
Mahasiswa Program Studi Arsitektur UAJY Angkatan 2017
Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-3

No Comments

Post a Comment

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA