KAMAJAYA Scholarship / Penerima Beasiswa  / Periode 2021/2022  / Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Jenni Yolanda Sagala

Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Jenni Yolanda Sagala

Jenni Yolanda Sagala

Tanggal Lahir:
Kota Asal:
Studi:

14 Januari 2001

Bukittinggi, Sumatera Barat

Fakultas Teknobiologi Prodi Biologi semester 5 (Desember 2021)

Jenni Yolanda Sagala

Mahasiswi Fakultas Teknobiologi UAJY Prodi Biologi

Life Goes On

Setiap kesusahan pasti ada jalan keluar, setiap kita yakin dan berusaha akan selalu ada jawaban. Perkenalkan nama saya Jenni Yolanda Sagala, saya biasa dipanggil Jenni, namun terkadang orang memanggil saya Jennie Blackpink karena ada artis K-POP yang sedang terkenal memiliki nama yang sama dengan saya. Saya genap berumur 20 tahun pada 14 Januari lalu. Saya lahir di Medan, namun dibesarkan dan bersekolah di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat.

Lahir di tengah keluarga yang sederhana, dari Bapak Sediman Sagala dan Ibu Nurlince Lumban Gaol. Saya memiliki 2 saudara laki-laki, 1 kakak, dan 1 adik. Hidup sederhana sudah saya alami sejak kecil hingga kuliah, namun saya bersyukur dan menikmati apa yang saya miliki yaitu keluarga yang lengkap. Sewaktu kecil ketika lahir hingga berumur 3 tahun, keluarga kami tinggal di Medan. Bapak dan ibu saya bekerja dengan berjualan sayuran di Pasar Pagi, pasar tradisional di Kota Medan. Bekerja dari subuh, membuat orang tua saya terpaksa meninggalkan abang saya yang berumur 4 tahun bersama saya yang masih berumur 1 tahun di rumah, kami dititipkan dengan tetangga yang sesekali memperhatikan kami di rumah.

Keputusan untuk pindah ke Bukittinggi dilakukan orang tua saya karena kehidupan selama di Medan tidak membaik. Awalnya, hanya Bapak yang merantau ke Bukittinggi, tetapi Ibu, Abang dan saya dititipkan di kampung halaman rumah Opung selama 2 tahun. Bapak bekerja sebagai tukang sayur keliling, setelah mengumpulkan uang dan mengontrak sebuah rumah kecil sederhana, lalu Bapak menjemput kami bertiga dari kampung. Kami tinggal bersama kembali setelah 2 tahun berpisah, tinggal dengan mengontrak. Lalu pada 2005, adik laki-laki saya lahir. Orang tua saya semakin semangat bekerja, bapak dan ibu saya berjualan sayur menggunakan sepeda.

Berjualan sayur ditekuni oleh orang tua saya. Beberapa tahun kemudian, beralih menjual baju dengan sistem kredit, usaha ini berjalan dengan lancar hingga kedua orang tua saya mampu menabung untuk membangun rumah sederhana sehingga tidak perlu mengontrak lagi. Orang tua saya mampu menyekolahkan 3 orang anaknya ke sekolah swasta Katolik yang bagus di daerah kami. Abang, saya dan Adik bersekolah di TK, SD, SMP Katolik dan saat SMA memilih untuk ke sekolah negeri karena biaya di swasta cukup mahal. Bersekolah SD, SMP, dan SMA saya selalu giat hingga menjadi langganan ranking di kelas. Tahun 2016, abang saya menamatkan pendidikan di sekolah menengah, lalu akan melanjutkan ke perguruan tinggi, namun tidak rezeki mendapatkan di PTN sehingga orang tua saya mengusahakan agar abang saya tetap berkuliah dan dipilihlah salah satu PTS di Kota Jakarta.

Biaya hidup dan uang SPP abang saya membuat orang tua saya kewalahan, hal ini disebabkan usaha dan pekerjaan orang tua saya mengalami kendala, yaitu banyak langganan yang mengambil barang namun kabur tanpa membayar sehingga orang tua saya mengalami kerugian. Modal yang terbatas membuat ibu saya berhenti berjualan baju, lalu beralih menjual gorengan dan makanan yang akan dititipkan ke warung. Ayah saya tetap berjualan baju kredit dengan modal seadanya. Kesulitan ekonomi tidak kian membaik, malah semakin menurun, hal ini menyebabkan saya takut bahwa bagaimana nasib saya ketika lulus SMA nanti, apakah bisa berkuliah atau tidak.

Tahun 2019, saya lulus SMA dan mengikuti SBMPTN, tetapi saya tidak diterima di PTN. Saya semakin galau karena takut jika akan semakin membebani orang tua saya. Bapak dan Ibu meyakinkan saya untuk tetap melanjutkan pendidikan di Universitas Swasta di Yogyakarta, yaitu Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Saya ragu dan takut karena biaya yang akan dikeluarkan oleh orang tua saya akan semakin besar mengingat abang saya juga masih berkuliah. Akhirnya setelah berdiskusi, saya tetap melanjutkan kuliah. Orang tua terpaksa menjual aset simpanan dan meminjam sejumlah uang dari Koperasi Simpan Pinjam demi menguliahkan saya. Dari situ, saya bertekad untuk hidup dengan hemat di Yogyakarta dengan menggunakan uang sebaik mungkin.

Hidup di perantauan membuat saya belajar mengatur uang kiriman dari orang tua secukupnya. Uang dikirim tidak tetap waktunya dan seadanya, yang penting saya bisa makan bergizi dan kebutuhan tercukupi. Kegiatan yang saya lakukan di luar jam kuliah yaitu mengikuti berbagai kepanitiaan dan aktif terlibat di Komunitas Garuda Katolik. Saya semakin semangat karena menemukan keluarga ke-2 di tempat kuliah. Semester 2 pertengahan, pandemi Covid-19 mulai menyebar, lalu saya memutuskan untuk kembali ke rumah dan berkuliah daring dari rumah, namun abang saya tetap di Jakarta karena fokus menyelesaikan skripsi. Kuliah daring saya lakukan sambil membantu Ibu membuat makanan dan menitipkan di warung, namun ini tidak berlangsung lama, karena saat pandemi banyak dagangan yang tidak laku, pembeli berkurang karena membatasi membeli makanan luar.

Usaha orang tua saya semakin terkendala, Bapak juga sudah tidak menjual baju, Ibu tidak menjual makanan. Orang tua saya beralih menjual buah jeruk di Pasar Tradisional. Usaha ini juga tidak lancar dan menyebabkan kerugian yang sangat besar, penyebabnya adalah jeruk yang dikirim ke tempat saya adalah jeruk kualitas rendah sehingga cepat busuk. Distributor jeruk telah menipu orang tua saya dengan mengirim buah yang tidak sesuai dengan harga yang diminta orang tua saya. Namun, orang tua saya tidak menyerah. Dengan modal seadanya, mereka kembali berusaha dengan berjualan sembako di Pasar tradisional. Usaha kecil ini dilakukan dengan sedikit khawatir takut rugi lagi.

Setelah 2 minggu membuka usaha sembako, pada Januari 2021 lalu, rumah saya kemalingan. Maling masuk ke rumah lalu membawa tas kerja yang berisi uang modal dan hasil berjualan dari awal. Maling hanya menyisakan uang Rp 2.000,00 di lemari orang tua saya. Kejadian ini merupakan pukulan yang sangat menyakitkan. Namun di balik itu, saya masih bersyukur karena sudah membayar SPP tetap beberapa hari sebelumnya. Jika belum, mungkin saya tidak dapat melanjutkan kuliah Semester 4. Setelah kejadian itu, orang tua saya tidak mau terpuruk, lalu kembali berusaha dengan menjual barang seadanya. Saya mendaftar beasiswa SPP Tetap dan mendapat potongan SPP Variabel, sehingga dapat meringankan sedikit biaya keluar, dengan bantuan orang-orang baik di sekitar kami.

Setelah berbagai kejadian menyakitkan pada keluarga kami, saya sering takut dan ragu dengan keadaan seperti ini. Apakah bisa saya menyelesaikan pendidikan hingga lulus dengan keadaan yang semakin lama semakin susah? Akan tetapi, orang tua selalu membimbing saya dan menyemangati agar tidak khawatir. Semua sudah diatur oleh Tuhan asalkan kita selalu berusaha karena hidup selalu berjalan. Tidak menyerah dan tepuruk begitu saja, saya mencoba mendaftar KAMAJAYA Scholarship dan saya sangat bersyukur serta berterima kasih kepada Tuhan, karena telah menjawab doa dan permohonan saya melalui perantara Bapak/Ibu yang baik telah menerima dan membantu saya. Ke depannya, saya akan berusaha dengan maksimal agar dapat lulus tepat waktu dan meniti karir di bidang lingkungan. KAMAJAYA Scholarship merupakan jawaban dari Tuhan atas pertanyaan-pertanyaan saya selama ini. Kesempatan baik ini akan saya gunakan sebaik dan semaksimal mungkin.

Outbond rangkaian Retret Lanjutan Garuda Katolik, Maret 2020.
Rangkaian kegiatan Retret Awalan Garuda Katolik, November 2019.
Rangkaian kegiatan Retret Awalan Garuda Katolik, November 2019.
Rangkaian kegiatan Retret Awalan Garuda Katolik, November 2019.
Kunjungan ke Taman Sari dalam kegiatan Jogja Istimewa, Oktober 2019.

No Comments

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA