KAMAJAYA Scholarship / Coretan Mahasiswa  / Coretan Mahasiswa: Menggunakan Teknologi untuk Pembelajaran Multibahasa: Tantangan dan Peluang

Coretan Mahasiswa: Menggunakan Teknologi untuk Pembelajaran Multibahasa: Tantangan dan Peluang

Judul pada tulisan ini merupakan tema dari Hari Bahasa Ibu Internasional pada tahun 2022. Dikutip dari situs Kemendikbud Ristek, bahasa ibu sendiri diartikan sebagai bahasa yang dipelajari pertama kali sejak kecil oleh seseorang secara alamiah dan menjadi dasar sarana komunikasi serta pemahaman terhadap lingkungannya. Perayaan atas “bahasa ibu” ini bermula dari orang-orang Bangladesh (yang berbahasa Bengali) yang memprotes keputusan Pemerintahan Pakistan Tengah yang menetapkan Bahasa Urdu sebagai bahasa nasional pada tahun 1952. Sampai pada akhirnya (setelah ditetapkannya peringatan Hari Gerakan Bahasa pada 21 Februari di Bangladesh), pada tahun 1999 UNESCO menetapkan tanggal 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional sebagai bentuk penghormatan kepada gerakan bahasa dan hak-hak etnolinguistik orang-orang di seluruh dunia.

UNESCO percaya bahwa pendidikan dengan dasar bahasa pertama atau bahasa ibu harus dimulai sejak usia dini karena hal ini merupakan dasar dari pembelajaran. Tema yang diusung pada tahun ini mendukung pengembangan pengajaran dan pembelajaran yang berkualitas dengan peran teknologi untuk memajukan pendidikan. Adanya teknologi dapat mempercepat upaya untuk memastikan kesempatan belajar seumur hidup secara adil dan inklusif. Seperti yang kita ketahui, pembelajaran jarak jauh akibat COVID-19 memaksa banyak negara termasuk Indonesia, untuk menggunakan teknologi agar kesinambungan proses belajar mengajar tetap berjalan. Namun, hambatan yang ada seperti akses internet dan peralatan yang dibutuhkan tidak selalu dapat mencerminkan keragaman bahasa.

Proses globalisasi sendiri mengancam bahasa sebagai identitas dan komunikasi. Pada situs PBB, disebutkan bahwa setiap dua minggu sebuah bahasa menghilang dengan membawa serta seluruh warisan budaya dan intelektual. Setidaknya, 43% dari sekitar 6.000 bahasa yang digunakan di dunia terancam punah dan hanya beberapa ratus bahasa saja yang benar-benar diberikan tempat dalam sistem pendidikan dan domain publik. Maka dari itu, Hari Bahasa Ibu Sedunia ini ada untuk melestarikan keragaman bahasa dan budaya di seluruh dunia. Mari kita terus melestarikan bahasa daerah seperti pada UU No. 24 Tahun 2009 agar bangsa Indonesia “mengutamakan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing”.

Image by athree23 from Pixabay

No Comments

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA