KAMAJAYA Scholarship / Penerima Beasiswa  / Periode 2021/2022  / Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Nicolas Armando

Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Nicolas Armando

Nicolas Armando

Tanggal Lahir:
Kota Asal:
Studi:

24 April 2002

Bogor

Fakultas Teknik Prodi Arsitektur semester 4 (Juni 2022)

Nicolas Armando

Mahasiswa Fakultas Teknik UAJY Prodi Arsitektur

Menggapai Mimpi Satu per Satu

Halo, perkenalkan nama saya Nicolas Armando. Saya biasa dipanggil Armando oleh teman kecil saya atau saya juga biasa dipanggil Nico oleh teman yang baru mengenal saya. Nama Nicolas Armando diambil dari nama pemain bola. Bagi yang senang dan mengikuti perkembangan sepak bola pasti tahu Nicolas Anelka dan Diego Armando Maradona. Ya, mereka berdua adalah pesepak bola terkenal di dunia. Nama saya diambil dari kedua nama pesepak bola tersebut. Ayah saya gemar sepak bola dan memberikan nama saya dengan nama pemain bola dengan harapan anaknya dapat menjadi pesepak bola terkenal dunia. Saya sebetulnya ingin memenuhi harapan ayah saya karena saya pun penggemar sepak bola. Namun apa daya, sejak kelas 3 SD saya memakai kacamata minus, jadi saya tidak bisa jadi pemain bola profesional.

Saya lahir dan besar di Kota Bogor, sebuah kota yang terletak di dekat Ibu Kota Jakarta, juga dikenal sebagai Kota Hujan karena hampir setiap hari di sini hujan, termasuk musim kemarau juga hujan. Namun, saya senang tinggal di kota ini karena cuacanya sejuk dan merupakan kota yang indah. Sewaktu kecil, rumah kami tepatnya berada di sebuah gang, bernama Gang Jaya Tunggal. Meskipun berada di tengah kota, Jayatunggal sedikit jauh dari kesan modern. Kebanyakan keluarga di sini hidupnya sederhana dan pas-pasan. Jarang ada keluarga yang tergolong mampu. Meskipun ada, tetapi sedikit. Saya sejak kecil lebih banyak bermain dengan kakak saya, saya jarang bergaul dengan anak-anak sepantaran saya di lingkungan rumah dulu. Kalau dibilang kumuh tidak juga, dibilang modern tidak juga. Jadi menurut saya keadaan di Jaya Tunggal standar. Meski begitu, saya setiap tahun tetap ikut lomba 17-an untuk meramaikan kegiatan di lingkungan.

Keluarga kami merupakan keluarga kecil yang sederhana terdiri dari ayah, ibu, kakak, dan saya sendiri sebagai adik. Ayah asli Malang dan Ibu asli Bogor. Kami merupakan keluarga yang taat agama. Keluarga kami beragama Kristen Protestan. Setiap minggu kami pergi ke gereja, beberapa hari dalam satu minggu juga kami sering ada persekutuan dengan orang-orang gereja. Di rumah pun hampir setiap malam kami berdoa bersama sebelum tidur. Hubungan dengan tetangga-tetangga kami juga terjalin cukup baik. Ibu atau Ayah sering memberi makanan pada tetangga, begitu pun sebaliknya tetangga juga sering mengirim makanan kepada kami. Ayah juga aktif dalam kepengurusan RT dan saya sendiri aktif dalam mengikuti kegiatan pemuda di lingkungan RT saya.

Kami beberapa kali pindah rumah karena sebelumnya rumah kami kontrak, sampai akhirnya kami tinggal di rumah Nenek tetapi masih di Bogor. Waktu saya kecil, karena Ayah dan Ibu bekerja, saya dan kakak saya lebih sering diasuh oleh Nenek. Walau dengan Nenek, kami dibiasakan hidup mandiri dan tidak dimanjakan oleh Nenek. Nenek selalu mengajarkan bagaimana hidup mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Contohnya seperti berangkat ke sekolah sendiri, naik angkot tanpa diantar, melipat dan menyetrika pakaian sendiri, mencuci piring sendiri, dan masih banyak hal yang Nenek ajarkan kepada kami. Jujur, sebetulnya saya senang hidup dan sehari-harinya dengan Nenek. Namun, ada kalanya saya merindukan sosok ayah dan ibu. Kadang, saya ingin bermain bersama Ayah dan Ibu, liburan dengan Ayah dan Ibu, tapi itu jarang terjadi karena mereka sibuk mencari uang. Nenek selalu menanamkan kepada kami bahwa Ayah dan Ibu sibuk bekerja mencari uang untuk kebutuhan kami berdua. Maka dari itu, kami harus menjadi pribadi mandiri yang tidak merepotkan Ayah dan Ibu.

Nenek meninggal saat saya duduk di kelas 2 SMP. Sejak saat itu kami pindah rumah, tidak kontrak namun kredit KPR di salah satu perumahan. Pada saat itu, Ayah dan Ibu masih bekerja setiap hari, sedangkan Kakak sudah SMA. Mereka pulang malam setiap hari dan saya sering sendiri di rumah. Saya tidak merasa kesepian karena memang sejak kecil Nenek selalu menanamkan untuk hidup mandiri dan tidak menyusahkan orang lain.

Dulu, Ayah dan Ibu berjualan, membuka sebuah rumah makan sederhana di ruko, namun hanya bertahan 2 tahun karena kontrak ruko mahal. Setelah itu, Ayah dan Ibu tetap berjualan namun berpindah-pindah tempat. Pernah jualan di tenda pinggir jalan, pernah membuka warteg, pernah jualan keliling sayur matang, pernah membuka warung sembako, dan akhirnya Ayah melamar pekerjaan di sebuah perusahaan kopi dan Ibu menjadi pedagang di kantin sekolah.

Saat ini, ayah saya (48 tahun) bekerja sebagai karyawan swasta di perusahaan kopi sebagai sales kopi. Keseharian Ayah keliling dari pasar ke pasar untuk mengantarkan kopi pesanan toko-toko di pasar. Ayah sudah menjadi sales kopi selama lebih dari 10 tahun. Penghasilan Ayah cukup untuk kebutuhan sehari-hari membeli makan dan keperluan rumah tangga. Ibu saya (40 tahun) sekarang seorang ibu rumah tangga. Sebelumya, Ibu bekerja sebagai pedagang di kantin salah satu sekolah swasta. Sekolahnya tidak kecil, juga tidak besar namun ibu menjadi satu-satunya pedagang di kantin sekolah. Muridnya ada beberapa ratus, mulai dari SD hingga SMA. Kakak saya laki-laki (22 tahun) saat ini sedang menempuh semester 8 di salah satu universitas di Kota Bogor dan mengambil jurusan IT. Selain berkuliah, kakak saya juga membantu perekonomian keluarga dengan bekerja di salah satu perusahaan di Jakarta. Kakak pulang pergi setiap hari dengan kereta. Kakak membayar kuliahnya sendiri, selain itu juga kakak membantu Ibu dan Ayah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membantu membayar hutang Ayah dan Ibu.

Hutang ini bermula dari salah satu om saya (kakak Ibu) yang meminta bantuan Ibu untuk mencari pinjaman uang memakai nama Ibu. Setelah dipinjamkan, om saya tidak membayar hutangnya dan ibu saya yang harus membayar karena nama yang dipakai untuk meminjam uang adalah nama ibu. Hutang inilah yang sampai saat ini membebani kami. Sebelum pandemi saat Ibu masih berjualan di kantin, Ayah dan Ibu masih sanggup untuk menguliahkan saya sekaligus membayar hutang. Gaji Ayah kadang langsung habis untuk membayar hutang dan hasil penjualan Ibu yang harus menanggung kebutuhan sehari-hari seperti makan, bayar listik, bayar air, dan bayar cicilan rumah. Jika penghasilan Ibu tidak cukup atau ada keperluan mendesak lain, biasanya Kakak yang membantu Ayah dan Ibu dengan gajinya. Namun semenjak pandemi, usaha kantin Ibu tutup mengikuti kebijakan pemerintah belajar dari rumah. Sementara itu, hutang dan cicilan tetap harus dibayar tepat waktu atau dikenakan denda keterlambatan dan malah membuat hutang kami semakin besar. Sekarang, keluarga kami hanya mengandalkan gaji Kakak untuk kebutuhan hidup sehari-hari seperti membeli makan, keperluan rumah tangga, bayar tagihan listrik, air, cicilan rumah, dan membayar kuliahnya sendiri. Sedangkan gaji Ayah setiap bulan habis dibayarkan hutang.

Uang pendaftaran masuk kuliah saya masih tertunggak Rp 22 juta. Sebelumnya, saya masuk kuliah di UAJY dengan total biaya sekitar Rp 44 juta, bisa dicicil empat kali dan sudah dicicil dua kali. Sisa cicilan dua kali sebesar Rp 15 juta tertunggak karena pada saat itu kondisi pandemi dan Ibu tidak lagi mendapat uang. Puji Tuhan, saya mendapat beasiswa SPP tetap untuk Semester 2, sehingga saya masih bisa mengikuti kuliah. Jika tidak, mungkin saya sudah berhenti kuliah sejak awal Semester 2. Keluarga saya sedang berusaha semaksimal mungkin untuk mencari uang kuliah bagi saya.

Sekarang, Ibu mulai berjualan dari rumah. Ibu berjualan makanan secara online melalui GoFood dan GrabFood, namanya Dapoer Ngeboel Ciomas. Penghasilannya tidak menentu, tapi rata-rata sehari bisa mendapat Rp 100.000,00 (kotor). Cukup untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Sedangkan Ayah dan Kakak walaupun kondisi pandemi tetap bekerja secara offline, tidak WFH. Yang terdampak pandemi secara langsung adalah Ibu.

Meski keluarga kami sederhana atau terkadang pas-pasan, kami tetap menjadi keluarga yang bahagia. Saya sangat mencintai ayah, ibu, dan kakak saya. Terlebih kakak saya, dia adalah orang yang sangat spesial bagi saya. Sejak kecil, dia yang selalu menemani saya dan mengajak saya bermain ketika Ayah dan Ibu sibuk bekerja. Dia juga yang selalu menghibur saya ketika saya sedang sedih, dia selalu melindungi saya ketika saya berbuat salah. Sampai sekarang pun walau gajinya sering dipakai untuk kebutuhan keluarga, dia tetap menyisihkan sedikit uang untuk saya jajan.

Keadaan-keadaan yang seperti itu yang membentuk kepribadian saya menjadi Nicolas Armando yang sekarang. Saya memiliki karakter mandiri, tidak mengandalkan orang lain, tidak mudah menyerah, memiliki empati dengan orang lain dan pekerja keras. Namun tentu ada kelebihan ada juga kekurangan. Saya merasa belum mampu menguasai emosi saya, tidak sering tapi terkadang saat kondisi saya sedang down saya menjadi mudah marah terhadap orang lain. Saya juga terkadang terlalu memaksakan diri saya terhadap suatu pekerjaan sampai-sampai saya sakit. Karakter mandiri dan karakter tidak mengandalkan orang yang dimiliki oleh saya terbentuk sejak kecil. Seperti yang sudah saya ceritakan, saya ditinggal bekerja oleh kedua orang tua saya dan nenek saya mengajari saya untuk mandiri dan tidak mengandalkan orang lain. Sehingga sejak kecil saya sudah mandiri. Saya juga mempunyai tekad pantang menyerah atau bisa dibilang ambisius dan pekerja keras. Ketika melakukan suatu pekerjaan, saya selalu berusaha untuk mendapat hasil semaksimal mungkin. Bagi saya, jika bisa mendapat 10, kenapa harus mendapat 8. Namun, terkadang karakter yang seperti itu menjadi bumerang bagi diri saya sendiri. Beberapa kali jatuh sakit karena terlalu memaksakan diri. Saya juga memiliki karakter empati terhadap orang lain, saya dapat merasakan kesedihan orang lain, kemarahan orang lain, dan kekecewaan orang lain karena sering kali saya juga mengalaminya sendiri, jadi saya sedikit paham orang lain.

Saya juga memiliki kelebihan dalam hal desain, saya dapat mengoperasikan Adobe Illustrator, Adobe Photoshop, dan aplikasi lain yang berhubungan dengan desain. Sering juga saya mendapat pekerjaan untuk mendesain poster, logo, spanduk, dan lain-lain. Saya menyadari bahwa desain menjadi salah satu peluang saya untuk menatap masa depan. Ditambah dengan mengikuti program studi Arsitektur, saya semakin mantap untuk menjadikan desainer sebagai profesi saya nanti. Selain bidang seni, saya juga pandai dalam menulis. Saya sering menulis puisi sejak saya SMP. Beberapa kali saya mengikuti lomba puisi namun belum pernah menang. Saya juga sekarang menjadi penulis di Majalah Arcaka, Majalah Ilmiah Arsitektur. Puisi-puisi saya dibacakan oleh orang lain dan di-upload di Youtube dan Spotify. Jika berkenan, silahkan dengarkan puisi saya di channel Timtamdado. Desain dan kemampuan menulis menjadi bekal dan potensi saya untuk menatap masa depan.

Di kegiatan perkuliahan sekarang, saya juga aktif dalam organisasi. Saya tergabung sebagai penulis Majalah Arcaka, majalah arsitektur. Sekarang saya juga sedang menjadi panitia Sepekan Arsitektur 2021 juga menjadi panitia Wanaprasta 2021. Secara keseluruhan, menjadi mahasiswa arsitektur memang berat. Tugas-tugas yang diberikan cukup berat, tetapi saya berusaha untuk mengerjakan tugas secara maksimal. Seringkali saya tidur pagi untuk mengerjakan tugas. Namun bagi saya, itu adalah harga yang harus dibayar untuk membanggakan ayah, ibu, dan kakak saya yang sudah mati-matian membiayai kuliah saya.

Saya sedang mengembangkan skill wawancara, menulis, mendesain, dan editing software. Saya mengembangkannya dengan membuat channel YouTube yang berisi podcast dan puisi bersama teman saya, Timothy. Di masa depan, saya ingin menjadi seorang arsitek yang terkenal dengan karya-karya yang berbeda dari arsitek lain. Saya juga ingin menjadi penulis, serta berkeinginan untuk menjadi pembawa acara sendiri. Saya berharap modal dan skill yang saat ini masih terus saya asah dapat berguna bagi masa depan saya.

Saya sadar, saya mempunyai banyak mimpi untuk dicapai, maka dari itu saya tidak tinggal diam dan menyerahkan semua kebutuhan keuangan saya ke keluarga saya. Saya tidak ingin membebani mereka. Saya berusaha semaksimal mungkin mencari beasiswa ke sana kemari. Banyak mimpi yang belum saya capai, jika saya putus kuliah rasanya sulit menggapai mimpi-mimpi saya. Waktu itu, saya mendengar tentang Beasiswa KAMAJAYA dari Instagram. Setelah saya melihat-lihat dengan teliti, saya pikir ini merupakan kesempatan bagi saya untuk mendapatkan beasiswa. Saya minta izin dari orang tua saya untuk mengikuti beasiswa ini, dan tanpa berlama-lama saya langsung daftar beasiswa ini.

Puji Tuhan, setelah melalui proses yang lumayan panjang, saya berhasil dan dipercaya untuk menjadi Penerima Beasiswa KAMAJAYA mulai Tahun Akademik 2021/2022. Saya ingat waktu itu sedang pengumuman beasiswa melalui Zoom, ketika nama saya disebut sebagai penerima, ibu saya yang tadinya di kamar langsung melompat kegirangan dan menangis bahagia. Setelah saya tutup kamera dan matikan mic, saya pun terharu dan mengucap syukur kepada Tuhan Yesus, betapa baiknya Ia telah menjawab doa-doa saya.

Setelah diberikan kepercayaan sebagai Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan V, saya berjanji dan bertekad dalam diri saya untuk lebih semangat dalam menjalani hidup, termasuk dalam menjalani perkuliahan. Saya tidak ingin mengecewakan orang-orang yang telah mempercayakan saya untuk menerima beasiswa ini. Saya yakin, saya akan menggapai mimpi saya satu per satu.

Saya saat sedang berpodcast, berbincang-bincang dengan bintang tamu.
Saya sedang pelayanan untuk anak-anak Sekolah Minggu di Gereja.
Saya saat mengisi acara Ibadah Gereja secara online.
Saya saat menjadi MC di acara ulang tahun.

No Comments

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA