KAMAJAYA Scholarship / Lentera Atma  / Lentera Atma: Belajar dari Semut

Lentera Atma: Belajar dari Semut

Pernahkah Saudara melihat koloni semut sedang berjalan beriringan rapi, atau yang sedang bekerja sama mengangkut makanan? Ketika bertemu dengan semut lain dari arah berlawanan, terlihat mereka seperti saling menyapa satu sama lain. Semut juga menjadi perumpamaan dalam Amsal 6:6-9 “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen. Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu?”.

Istilah yang sering kita dengar sekarang ini adalah “malas gerak” atau “mager”, dianggap sebagai pembenaran saat rasa malas menguasai diri dan tidak produktif, lebih memilih berdiam diri sepanjang hari. Mager dianggap sebagai hal yang wajar dan manusiawi. Memang betul rasa mager tersebut wajar dilakukan. Namun, jika kita malas sepanjang waktu dalam hidup dan melewatkan banyak hal yang lebih baik dilakukan apakah dapat ditoleransi? Rasa malas, menunda-nunda pekerjaan, mengulur waktu memang membuat badan terlena, keasyikan dengan berleha-leha akan membuat diri kita tertinggal jauh dari orang-orang yang sedang berjuang.

Hidup kita tidak selalu berjalan lancar sesuai ekspektasi, banyak rintangan dan masalah-masalah yang harus kita hadapi. Perjuangan hidup dengan teratur dapat membawa kita menuju hidup yang ideal. Semut yang sedang mencari makan, namun menemukan pemangsa atau terhalang batuan-kayu atau tembok tinggi, alih-alih diam atau berbalik ke rumahnya, semut tersebut akan segera mencari jalan lain untuk melewati rintangan tersebut. Salomo, sang raja bijaksana juga pernah menasihati rakyatnya agar pergi dan belajar kepada semut. Rajin bekerja kala musim panas, agar saat musim dingin yang sangat menyulitkan bagi binatang sekecil semut, mereka memiliki persediaan yang cukup sebagai bentuk pemeliharaan Sang Pencipta.

Saat orang sudah berjuang, kita masih bersantai. Saat orang sudah terjatuh, kita masih santai. Saat orang sudah bangkit, kita masih santai tidak berbuat apa-apa. Saat orang sudah berhasil memanen hasil jerih payahnya, saat itulah kita tersadar bahwa selama ini kita tidak melakukan hal apa pun, hanya menonton perjuangan mereka, sambil membandingkan diri mereka “lebih beruntung” hanya untuk menghibur diri sendiri.

Image by Here and now, unfortunately, ends my journey on Pixabay from Pixabay

No Comments

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA