KAMAJAYA Scholarship / Penerima Beasiswa  / Periode 2022/2023  / Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Severinus Bhanu Adom Triyoga

Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Severinus Bhanu Adom Triyoga

Severinus Bhanu Adom Triyoga

Tanggal Lahir:
Kota Asal:
Studi:

28 Januari 2002

Yogyakarta

Fakultas Bisnis dan Ekonomika Prodi Manajemen semester 6 (Juli 2023)

Severinus Bhanu Adom Triyoga

Mahasiswa Fakultas Bisnis dan Ekonomika UAJY Prodi Manajemen

Penebusan Pelayanan

Severinus Bhanu Adom Triyoga, nama yang diberikan kedua orang tua saya ketika lahir, dengan nama Adom sebagai nama panggilan saya. Nama yang sangat jarang ditemui oleh kebanyakan orang. Kata Ibu, Adom berarti ayem, adem, tapi entah kenapa saya justru mudah emosi. Selalu ada yang memantik dari dalam diri saya supaya dapat mengontrol dan menahan emosi, walaupun ada sesuatu yang meledak di pikiran saya. Saya lahir dan besar di Kota Yogyakarta pada 28 Januari 2002 dengan tempat tinggal yang sampai saat ini masih sama, yaitu rumah peninggalan simbah kakung. Saat saya masih kecil, saya sangat ingat kondisi rumah saat itu sangatlah ramai dan ekspresif. Simbah yang sangat menyayangi cucu-cucunya membuat kondisi rumah sangat hidup. Simbah juga memberikan nama panggilan khusus kepada saya yang sekarang digunakan oleh Pakde dan teman-teman dekat saya untuk memanggil saya, yaitu Atop. Nama yang lebih unik dan aneh, tapi entah kenapa ketika saya dipanggil Atop, saya lebih merasa ayem dan merasa “diperhatikan”.

Saya adalah anak ketiga. Namun, sekarang saya adalah anak tunggal. Fakta yang baru saja saya ketahui secara rinci belum lama ini, kurang lebih beberapa tahun terakhir. Bukan masalah tidak peduli untuk tidak pernah bertanya kepada orang tua, namun hanya berpikir kalau memang mereka tidak mau cerita karena suatu hal. Kejadian yang hampir sama seperti bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi dengan kedua orang tua saya. Semua adalah tentang “karena apa”. Namun, terkadang tahu kapasitas dan tidak semua harus diketahui menjadi hal yang banyak disarankan orang sekitar. Mungkin semua hanyalah masalah waktu, sampai Ibu siap untuk bercerita dan pada situasi yang mendukung tentunya.

Saya besar di keluarga besar yang mendukung atau bahkan keluarga besar tetaplah “keluarga” bagiku, tidak ada “besar” tidak ada ”inti”. Saya dan Ibu pun merasa sangat nyaman dan aman bila bersama seluruh keluarga kami. Tidak sedikit dari mereka selalu simpati dengan saya dan Ibu. Kami selalu diberi perhatian, dikunjungi, sering berkomunikasi via telepon bersama dengan Ibu, dan masih banyak lagi. Kakak perempuan dari Ibu sering memberiku sangu dan ketika SMA pun SPP saat kelas 12 Pakde dan Bude membantu dengan membayarkan SPP saat itu.

Pada saat SMP, om saya (anak dari kakak perempuan yang lain Ibu) sering memberiku sangu berkala ketika berasrama. Walaupun uang tidak sampai pada saya, namun tentu dapat membantu Ibu ketika membayar SPP yang tidak kecil karena berasrama. Tidak jarang saya menyalahkan keputusan masuk asrma karena menguras tabungan dan Ibu harus meminjam. Namun, bagaimanapun juga Ibu selalu ingin memberikan yang terbaik. Saya pun sangat sadar dengan kondisi ekonomi Ibu, seorang single parent yang selalu berusaha memberi yang terbaik untuk saya. Oleh karena itu, saya tidak menuntut Ibu untuk selalu memberi sangu kepada saya. Saya pun tidak pernah meminta nominal tertentu, kecuali saat ada acara wajib dan khusus yang membutuhkan dana.

Sangu yang diberikan saudara-saudara saya juga selalu saya berikan kepada Ibu karena pasti ada sesuatu yang lebih mendesak dibanding hanya sekedar menabung. Saya pun bukan seseorang konsumerisme, sering tidak makan seharian karena sedang di luar dan selalu memilih makan di rumah saja. Kondisi yang memang cukup berbeda dan terkadang “menghambat”. Namun, semua hilang ketika saya melihat ibu dan lebih suka bersyukur.

Pemberian selalu hadir di dalam kehidupan, itu yang diyakini Ibu dan juga saat ini saya yakini. Saat SD, tidak jarang bahwa saya pulang jalan kaki. Jarak yang cukup jauh ketika saya masih kecil dengan bawaan tas besar. Saat SMA, saya tidak punya kendaraan dan Ibu selalu pulang jam 4 sore, teman-teman yang sangat baik selalu bergantian mengantar saya pulang. Hal itulah yang membuat saya memiliki hutang budi besar kepada mereka, dan tidak bisa dipungkiri bahwa saya peduli dengan mereka. Ketika kuliah, akhirnya saya mendapat motor dari Beda, yang saat itu mendapat motor baru. Namun karena keadaan tertentu saat ini, motor Pakde berkurang satu dan motor yang dulu saya gunakan sekarang dipakai kembali oleh Pakde. Kondisi sekarang masih sama dengan dulu, teman-teman saya mengulurkan tangannya dengan meminjamkan motornya untuk bergantian ketika kelas. Tidak jarang kami saling antar jemput karena menggunakan motor bersama.

Sedari kecil, rumah Simbah bisa dibilang ramai penghuni. Mulai dari kakak sepupu, Bude, Pakde, Ibu, Om, dan lain-lain. Saya tidak merasa memiliki keluarga inti, karena saya merasa semua adalah keluarga inti. Sejak kecil, saya sudah ditinggal bapak saya, dan saya tidak pernah mempermasalahkan itu. Saya memiliki keluarga yang semuanya perhatian, membantu, dan sayang kepada saya. Namun tahun demi tahun, orang yang tinggal di rumah makin hari makin berkurang, mulai dari Simbah Kakung yang meninggal, om saya yang merantau ke Jakarta, Bude yang pindah ke Bantul, Simbah Putri yang menyusul Simbah Kakung, Pakde, kakak sepupu, dan sekarang tinggal saya dan Ibu. Saya dan kedua anak dari Pakde tersebut sering bermain. Anak kedua Pakde seumuran dengan saya, umur kami hanya berbeda 40 hari. Namanya Beda, dan kami berada pada TK yang sama yaitu TK Graha Asih Anak. Kami berada di TK yang sama bersama dengan salah satu teman Penerima Beasiswa KAMAJAYA yaitu Marselino Adimas Visi Pratama (Nino). Kemudian saya melanjutkan Sekolah Dasar di SD Johanes Bosco (JBS), yang sebenarnya tidak saya inginkan dulu. Saya dulu hanya ingin bersekolah di SD Kanisius Gayam bersama dengan teman-teman TK dan Beda tentunya.

JBS menjadi lingkungan yang sangat berbeda dengan teman-teman saya sebelumnya. Mereka ada dalam keluarga yang cukup berada (secara ekonomi), jadi perlu waktu untuk menyesuaikan diri tentunya. Kemudian, saya melanjutkan Pendidikan SMP di Asrama Marsudirini Muntilan. Sekolah yang juga tidak saya inginkan di awal, saya dulu juga hanya ingin bersekolah di SMP JBS bersama dengan teman-teman SD, Beda, dan bertemu Bude (Ibu Beda) yang juga menjadi kepala sekolah di sana. Namun, cerita “pendekatan” saya dimulai di sana.

Kehidupan asrama tentu sangatlah padat, terjadwal, dan pasti tidak nyaman. Di mana setiap hari saya harus pergi ke gereja sebelum berangkat sekolah, mencuci sendiri, makan seadanya, hidup semakin sederhana. Kehidupan yang menarik yang memaksa saya menjadi seorang yang lebih dekat dengan Tuhan. Melakukan rutinitas seperti itu bukan berarti monoton. Meskipun bukan sebuah perubahan rohani yang sangat besar dalam kehidupan, namun membuka mata saya lebar-lebar tentang relasi yang perlu dibangun dengan Tuhan. Berhubungan dengan Tuhan berarti berhubungan dengan sesama (terdekat sampai yang jauh atau asing).

Kemudian saya melanjutkan SMA di SMA Kolese Debritto, sekolah yang sama di mana saya mengasah rohani dan rasa. Namun, butuh waktu selama itu untuk keluar dari zona nyaman dan berani untuk masuk komunitas resmi yaitu patemon. Menjadi anggota patemon dan komsos menjadi kegiatan yang paling sering saya lakukan saat ini. Dan pada titik tertentu, telah sampai pada titik “saya mencintai pekerjaan ini”. Pekerjaan yang tidak menghasilkan namun saya sangat menikmatinya, bertugas di hari raya besar, pernikahan yang bahagia, tahbisan, komuni, krisma, dan hari raya besar lainnya. Saya sangat senang untuk bisa membantu orang-orang, terutama membantu umat mengikuti misa. Bisa membantu dan melayani sesama menjadi sebuah bonus karena saya cukup menikmati tugas tersebut. “Penebusan” mungkin menjadi kata yang tepat untuk tugas itu.

Saya memilih masuk Universitas Atma Jaya Yogyakarta semata-mata hanya ingin membantu Ibu. Saya sadar hal tersebut membuat saya memiliki risiko besar di belakang saya. Walaupun saya memang suka dengan Ilmu Ekonomi, namun bagaimana pun sedari awal saya menetapkan tujuan dan mengambil keputusan adalah untuk membantu dan memuliakan nama Ibu. Kehidupan kuliah yang online membuat saya perlu beradaptasi. Tidak mudah namun juga tidak sulit. Hingga sekarang, saya cukup menikmati ketika mengerjakan tugas tertentu walaupun merasa tertekan karena beberapa waktu selalu tabrakan dengan beberapa acara yang perlu diurus. Baiknya semasa kuliah, saya lebih aktif berkegiatan dibanding SMA.

Beberapa kegiatan sudah saya lakukan namun yang sampai sekarang masih berjalan adalah komsos. Beberapa pelayanan lainnya yang cukup menguras tenaga adalah pada tahun 2020, yaitu saat beberapa kegiatan bertabrakan. Kegiatan tersebut adalah menjadi sekretaris Panitia Natal selama 2 periode, menjadi bendahara Program Kerja Divisi Himpunan, menjadi pembimbing kelompok, tugas kuliah, dan tugas Komsos. Semua kegiatan tersebut sangat menyita waktu namun saya merasa lega dan senang ketika semua sudah terlalui.

Sangat senang juga akhirnya saya dapat aktif dan keluar dari zona nyaman untuk mencari kesibukan yang berguna untuk ke depannya. Pada liburan piala dunia, saya sempat mengambil kerja part time, keinginan sedari dulu yang baru terwujud. Walaupun hanya bekerja sebagai waitress di tempat makan yang dimiliki teman saya, namun tidak bisa dipungkiri bahwa saya dapat belajar dari mana saja. Bukan masalah gengsi ketika bekerja sebagai waitress, justru itu yang coba saya pelajari, dan masih banyak lagi, seperti komunikasi dengan orang lain, memposisikan diri, dan lain-lain. Saat ini, saya juga berencana mengikuti magang yang ditawarkan oleh salah seorang dosen saya. Semoga hal ini dapat berguna untuk masa depan saya.

No Comments

Post a Comment

×

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA