KAMAJAYA Scholarship / Lentera Atma  / Lentera Atma: Kisah Seorang Supir Angkot di Manado

Lentera Atma: Kisah Seorang Supir Angkot di Manado

Cerita ini sempat viral di Facebook tahun 2015 dan ditayangkan di Tribun Manado. Kisah ini terjadi pada sebuah angkutan kota dari pusat Kota Manado menuju Malalayang. Pengemudi angkot itu seorang anak muda, di dalam angkot duduk 4 orang penumpang. Masih ada 4 kursi yang belum terisi. Seperti biasa di tengah jalan, angkot-angkot saling menyalip untuk berebut penumpang.

Namun ada pemandangan aneh, di depan angkot tersebut ada seorang ibu dengan 3 orang anak remaja berdiri di tepi jalan. Setiap ada angkot yang berhenti di hadapannya, si ibu bicara sebentar kepada supir angkot, lalu angkot itu melaju kembali. Kejadian ini terulang beberapa kali.

Ketika angkot tersebut berhenti, si ibu bertanya, “Dik, lewat terminal ya?”

Sopir angkot tersebut menjawab, “Ya.” Tetapi anehnya, si ibu tidak segera naik.

Dengan suara perlahan dan malu, ia berkata, “Tapi saya dan ke-3 anak saya tidak punya ongkos.”

Sambil tersenyum, sopir itu menjawab, “Tidak apa-apa, Bu. Naik saja.” Ketika si ibu tampak ragu-ragu, sopir mengulangi perkataannya, “Ayo, Bu. Cepat naik. Tidak apa-apa …”

Sungguh luar biasa! Di saat jam sibuk dan angkot lain saling berebut penumpang, tapi si Sopir muda ini merelakan 4 kursi penumpangnya untuk si ibu dan anak-anaknya. Ketika sampai di terminal, 4 orang penumpang gratisan ini turun. Si Ibu mengucapkan terima kasih kepada Sopir.

Di belakang ibu itu, seorang penumpang pria turun lalu membayar dengan uang Rp20.000,-. Ketika sopir hendak memberi kembalian, pria itu menolak dan mengatakan bahwa uang itu untuk ongkos dirinya serta 4 orang penumpang gratisan tadi. Kejadian ini berulang, penumpang yang turun berikutnya memberikan uang Rp50.000,- dan menolak kembalian. Demikian juga dengan penumpang-penumpang lainnya. Semua membayar lebih dan menolak kembalian.

Seorang Ibu miskin, seorang Sopir yang baik hati dan penumpang-penumpang yang budiman. Mereka saling mendukung untuk berbuat kebaikan. Sungguh sebuah pemandangan yang indah. Seandainya semua orang selalu berbuat baik, maka dunia ini terasa begitu indah.

Di jaman sekarang yang serba modern, hampir semua hal diukur dengan uang. Semua orang berlomba-lomba mencari uang. Namun di balik kehidupan materialistik ini, ternyata masih banyak orang baik.

Mari kita terus berbuat baik. Sekecil apa pun nilainya akan sangat besar manfaatnya bagi sesama kita yang membutuhkan.

Image by riza april from Pixabay

No Comments

Post a Comment

×

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA