Kisah Penerima Beasiswa: Berani Gagal
Saya, Yohanes Rajalindu Sanjaya, mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Atma Jaya Yogyakarta Angkatan 2025, sekaligus penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-10, ingin berbagi refleksi mengenai perjalanan hidup dan pembelajaran yang saya alami. Setiap kesulitan yang saya jalani telah membentuk saya menjadi pribadi dengan mental yang lebih kuat serta semangat untuk terus melangkah.
Memasuki dunia perkuliahan merupakan titik awal bagi saya untuk belajar menjadi lebih dewasa, bertanggung jawab, disiplin, dan konsisten. Tantangan terbesar adalah membagi waktu antara kuliah, pekerjaan, dan tugas akademik. Hidup sederhana sudah menjadi bagian dari keseharian saya, karena sejak kecil orang tua menanamkan nilai kemandirian. Untuk mengelola keuangan, saya terbiasa memasak sendiri dan membawa bekal ke kampus, sehingga dapat menghemat pengeluaran sekaligus menabung.
Sebagai mahasiswa Manajemen, saya menyadari bahwa pembelajaran di kelas perlu dilengkapi dengan pengalaman nyata. Awal semester dua menjadi momentum keberanian saya untuk memulai usaha kecil dengan menjual camilan basreng di kantin kampus. Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa berbisnis bukanlah hal mudah: mengelola keuangan, mengatur persediaan, dan menganalisis peluang pasar merupakan tantangan yang harus dihadapi dengan kesungguhan.
Selain itu, saya berusaha memperluas pengalaman melalui kegiatan organisasi. Pada semester awal, saya mengikuti kepanitiaan PKKMB Universitas. Meski sempat ragu, saya memberanikan diri mendaftar dan akhirnya diterima sebagai staf divisi keamanan, mendampingi lebih dari 2.200 mahasiswa baru. Selama satu bulan, saya memperoleh pengalaman berharga dalam menyusun peraturan, melatih koordinasi antardivisi, menyampaikan pendapat, dan bekerja sama dalam tim. Saat ini, saya juga aktif di UKM Koperasi Mahasiswa sebagai staf divisi operasional yang bertugas mengatur persediaan minuman sachet serta menganalisis minat pembeli.
Mengatur waktu antara kuliah dan kegiatan luar kampus memang melelahkan, namun setiap rasa letih selalu saya maknai sebagai bagian dari proses pembelajaran. Ada kalanya muncul pertanyaan tentang arti hidup, terutama ketika menghadapi kegagalan. Namun, saya percaya bahwa kegagalan bukanlah akhir, melainkan kesempatan untuk merenung dan belajar. Setiap kegagalan mengandung pelajaran berharga yang membentuk kita menjadi lebih baik.
Mengatasi kegagalan bukanlah perkara mudah, tetapi dapat dilakukan dengan sikap yang tepat. Langkah pertama adalah menerima kenyataan bahwa kegagalan adalah bagian dari proses, bukan akhir dari perjalanan. Dari penerimaan itu, kita belajar untuk bangkit kembali dengan strategi yang lebih matang. Kegigihan menjadi kunci: terus mencoba meski pernah jatuh, tetap berjuang meski hasil belum sesuai harapan. Dengan kegigihan, setiap kegagalan berubah menjadi batu loncatan menuju keberhasilan. Doa dan refleksi juga menjadi sumber kekuatan, mengingatkan bahwa perjuangan kita tidak pernah sia-sia selama dijalani dengan kesungguhan.
Dalam perjalanan saya, kegigihan berarti berani mencoba kembali meski pernah gagal. Ketika usaha kecil yang saya jalankan tidak menghasilkan keuntungan seperti yang diharapkan, saya tidak berhenti begitu saja. Saya belajar memperbaiki strategi pemasaran, mengatur ulang keuangan, dan mencari masukan dari teman-teman yang lebih berpengalaman. Begitu pula dalam organisasi, ketika pendapat saya tidak diterima, saya berusaha memahami sudut pandang orang lain dan tetap berkontribusi dengan cara lain. Kegigihan membuat saya tidak berhenti pada satu kegagalan, melainkan menjadikannya bahan bakar untuk terus berjuang. Saya percaya bahwa keberhasilan bukanlah hasil dari satu langkah besar, melainkan akumulasi dari banyak usaha kecil yang dilakukan dengan konsisten meski sering kali disertai kegagalan.
Kegagalan dapat dialami siapa saja, kapan saja, dan dalam bentuk apa pun. Namun, besar kecilnya pembelajaran bergantung pada cara kita menyikapinya. Bagi saya, kegagalan adalah bagian dari perjalanan menuju keberhasilan. Langkah kecil yang dilakukan hari ini merupakan persiapan untuk melangkah lebih tinggi esok hari. Pesan yang ingin saya sampaikan kepada pembaca adalah: “Di dunia ini hanya ada dua kegagalan: kegagalan karena pernah mencoba, dan kegagalan karena tidak pernah mencoba.”


Yogyakarta, 24 September 2026
Yohanes Rajalindu Sanjaya
Mahasiswa Program Studi Manajemen UAJY Angkatan 2025
Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-10











No Comments