Coretan Mahasiswa: Pancasila di Kamar Kos, Kesaktiannya dalam Hidup Mahasiswa
Hampir semua orang dapat menyebutkan kelima sila Pancasila di luar kepala. Kita sudah menghafalnya sejak SD, tetapi seberapa sering kita benar-benar memikirkannya di luar upacara bendera? Coba lihat media sosial. Perbedaan pendapat yang sepele saja bisa berubah menjadi saling serang. Semua orang bebas bersuara, tetapi tidak semua mau mendengarkan. Dari situ saya merasa nilai-nilai Pancasila sering kali terlupakan justru pada saat kita paling membutuhkannya.
Karena itulah tanggal 1 Oktober, yang diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila, layak untuk direnungkan. Peringatan ini berakar pada peristiwa tahun 1965, ketika Pancasila tetap dipertahankan sebagai dasar negara Indonesia. Namun, bagi saya, kesaktian Pancasila tidak berhenti pada lembaran sejarah. Nilai-nilainya ternyata sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, termasuk sebagai mahasiswa.
Salah satu contohnya adalah kehidupan di kos. Bagi banyak mahasiswa, kuliah berarti merantau dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Di kos, kita bertemu dengan orang-orang dari daerah, suku, dan agama yang berbeda. Bisa jadi dalam satu atap ada yang berangkat ke gereja, ada yang ke masjid, dan ada pula yang beribadah di tempat lain. Kebiasaan dan latar belakang keluarga mereka pun tidak sama. Menurut saya, inilah gambaran sederhana tentang bagaimana Pancasila hidup dalam kenyataan.
Perbedaan itu tidak seharusnya menjadi penghalang untuk berteman. Kita tetap bisa saling menyapa, bahkan mengerjakan tugas kuliah bersama. Hal-hal kecil seperti ini membuat hubungan semakin akrab dan suasana kos terasa lebih nyaman. Dari sana kita belajar bahwa perbedaan agama dan latar belakang bukanlah alasan untuk saling menjauh. Sebaliknya, perbedaan justru membuka kesempatan untuk saling mengenal dan menghargai.
Sikap saling menghargai inilah yang sejalan dengan nilai-nilai Pancasila. Sila pertama mengajarkan kita untuk menghormati orang lain dalam menjalankan agama dan kepercayaannya. Semangat sila ketiga tercermin ketika mahasiswa dari beragam suku dan agama dapat berteman dan bekerja sama dengan baik. Bagi saya, makna persatuan baru benar-benar terasa ketika kita bisa hidup berdampingan dengan orang yang berbeda dari kita, bukan hanya ketika berkumpul dengan orang-orang yang sama.
Pengalaman serupa juga dapat kita temui di luar kos, misalnya di organisasi kampus atau saat bekerja paruh waktu. Di sana kita berhadapan dengan orang-orang yang karakter, pendapat, dan kebiasaannya tidak selalu sama dengan kita. Dari situ kita sadar bahwa bekerja sama tidak berarti semua orang harus sependapat. Kadang kita justru perlu belajar mendengarkan dan mencari jalan tengah yang dapat diterima bersama.
Pada akhirnya, kesaktian Pancasila bukan sekadar sejarah yang kita peringati setiap 1 Oktober. Maknanya juga hadir dalam tindakan sehari-hari kita sebagai mahasiswa: menyapa teman yang berbeda agama, mengerjakan tugas bersama tanpa memandang latar belakang, dan menghargai pendapat orang lain. Menjaga Pancasila tidak harus lewat hal-hal besar. Semuanya bisa dimulai dari cara kita memperlakukan orang-orang di sekitar kita. Semoga kita, sebagai mahasiswa, terus menjaga dan menerapkan nilai-nilai tersebut, di kampus maupun di mana pun kita berada.
Gambar oleh Michal Dziekonski dari Pixabay











No Comments