KAMAJAYA Scholarship / Kisah/Kesaksian/Testimoni  / Kisah Penerima Beasiswa: Tiga Kali Ditolak, Satu Pintu Terbuka, Perjalanan Saya Meraih Beasiswa KAMAJAYA

Kisah Penerima Beasiswa: Tiga Kali Ditolak, Satu Pintu Terbuka, Perjalanan Saya Meraih Beasiswa KAMAJAYA

“Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!”
(Roma 12:12)

Ayat ini menjadi salah satu pengingat bagi saya dalam menjalani perjalanan pendidikan yang tidak selalu mudah. Ada saat ketika apa yang sudah diusahakan dan didoakan belum memberikan hasil seperti yang diharapkan. Namun, saya belajar bahwa dalam setiap proses, saya perlu tetap memiliki harapan, bersabar ketika menghadapi kesulitan, dan terus bertekun dalam doa. Keyakinan itulah yang membuat saya tetap melangkah, meskipun jalan yang saya lalui tidak selalu mulus.

Sejak awal saya bertekad bahwa jika berkuliah di perguruan tinggi swasta, saya harus mendapatkan beasiswa. Saya menyadari bahwa kuliah di perguruan tinggi swasta membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Saya juga paham bahwa biaya sebesar itu akan menjadi beban yang berat bagi orang tua yang selama ini mendukung pendidikan saya. Karena itu, bagi saya beasiswa bukan sekadar keinginan, melainkan salah satu cara untuk meringankan beban keluarga sekaligus tetap mengejar cita-cita.

Perjuangan itu dimulai saat saya masih duduk di kelas 12 SMA. Saya mendaftar Beasiswa OSC Medcom dan memilih UAJY sebagai universitas tujuan. Saya melewati berbagai proses seleksi dengan penuh harap, tetapi langkah saya terhenti di tahap 2. Saat pengumuman keluar, yang saya rasakan hanyalah sedih dan kecewa. Semua usaha yang sudah saya lakukan terasa sia-sia, dan untuk sesaat saya sulit membayangkan bagaimana harus melangkah ke depan.

Namun, di tengah rasa kecewa tersebut, saya memilih untuk tetap percaya bahwa Tuhan memiliki rencana yang lebih baik. Saya percaya bahwa setiap kegagalan yang saya alami bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses yang sedang membentuk saya. Keyakinan tersebut membuat saya tetap bertahan dan tidak menyerah untuk terus mencoba. Meskipun tidak mudah, saya perlahan belajar menerima kenyataan itu dan menjadikannya bahan untuk berbenah. Saya mulai melihat bahwa hasil yang belum sesuai harapan tidak berarti perjuangan saya berhenti.

Saya tidak ingin berhenti di sana. Pada tahun 2025, saya kembali mencoba di UAJY melalui jalur beasiswa BPA, tetapi lagi-lagi belum menjadi rezeki saya. Akhirnya, saya mendaftar lewat jalur reguler dan diterima sebagai mahasiswa UAJY. Saat memasuki semester 2, saya mencoba mendaftar Beasiswa SPP Tetap, tetapi hasilnya tetap sama: tidak lulus. Setiap kali membuka pengumuman, nama saya tidak ada di sana.

Setelah tiga kali gagal di kampus yang sama, keraguan semakin nyata. Saya sempat bertanya-tanya apakah saya memang tidak cukup layak, bahkan ragu apakah dapat menyelesaikan pendidikan di universitas ini hingga lulus karena besarnya biaya yang harus dipenuhi. Pikiran-pikiran itu sering muncul setiap kali saya membayangkan masa depan kuliah saya. Namun, orang tua terus meyakinkan saya untuk melanjutkan pendidikan. Dukungan mereka membuat saya sadar bahwa saya tidak berjuang sendirian.

Di masa itu saya belajar bahwa kekhawatiran bisa tetap datang bahkan setelah kita berhasil melewati pintu yang kita perjuangkan. Meski begitu, saya memegang satu keyakinan: Tuhan pasti membukakan jalan. Di tengah keraguan itu, saya tetap mencari informasi tentang berbagai program beasiswa. Dari sanalah saya menemukan KAMAJAYA Scholarship. Setelah membaca informasinya dan berdiskusi dengan orang tua, saya memutuskan untuk mencoba dan berharap yang terbaik. Saya mendaftar dengan hati yang pasrah.

Proses seleksinya pun tidak mudah. Meski begitu, saya tetap menyiapkan semuanya satu per satu. Puji Tuhan, saya berhasil lolos ke tahap wawancara. Ketika hari pengumuman tiba, saya terkejut. Pada pengumuman-pengumuman sebelumnya, nama saya tidak pernah ada. Kali ini, nama saya ada di sana!

Puji Tuhan, saya dinyatakan sebagai salah satu penerima Beasiswa KAMAJAYA dan menjadi bagian dari Angkatan ke-10. Rasa syukur saya sulit diungkapkan dengan kata-kata. Kegagalan yang dulu terasa berat kini seperti anak tangga yang menuntun saya ke tempat ini. Bagi saya, beasiswa ini bukan hanya bantuan biaya pendidikan, tetapi juga bukti bahwa usaha dan doa tidak pernah sia-sia. Saya berkomitmen untuk memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya melalui kesungguhan dalam belajar dan sikap yang bertanggung jawab.

Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa kegagalan bukanlah akhir, melainkan proses yang membentuk diri. Setiap penolakan mengajari saya untuk lebih sabar, lebih gigih, dan lebih bersyukur atas setiap kesempatan yang datang. Jika ditanya apakah orang yang sudah berkali-kali gagal meraih beasiswa masih berpeluang berhasil, jawaban saya adalah ya, selama kita mau terus mencoba, tetap berdoa, dan tidak membiarkan penolakan menentukan nilai diri kita.

Bagi siapa pun yang sedang berjuang dan berkali-kali menerima penolakan, jangan biarkan hal itu membuatmu berhenti. Tidak apa-apa untuk kecewa, tidak apa-apa untuk merasa lelah, tetapi jangan berhenti percaya bahwa masih ada kesempatan lain. Teruslah mencoba, karena kita tidak pernah tahu kesempatan mana yang akan membawa kita pada apa yang selama ini kita harapkan. Mungkin jalannya tidak selalu seperti yang kita bayangkan, tetapi percayalah bahwa setiap proses memiliki waktunya sendiri.

Yogyakarta, 30 September 2026

Jovita Ivana Rerung Allo
Mahasiswa Program Studi Teknik Sipil UAJY Angkatan 2025
Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-10

No Comments

Post a Comment