KAMAJAYA Scholarship / Coretan Mahasiswa  / Coretan Mahasiswa: “Aman Kok”, Dua Kata yang Tak Pernah Benar-Benar Menenangkan

Coretan Mahasiswa: “Aman Kok”, Dua Kata yang Tak Pernah Benar-Benar Menenangkan

Pagi ini langit Jogja biru sekali. Teman kosku menyibak tirai sambil berkata, “Cerah banget, enak ya.” Aku tersenyum dan mengiyakan. Padahal beberapa menit sebelumnya, ponselku baru saja menampilkan foto kiriman Ibu: langit yang warnanya entah abu-abu atau kuning, dengan matahari pucat seperti terbungkus kain tipis. Di bawahnya hanya ada satu kalimat, “Agak pekat hari ini, tapi aman kok.”

Aku menatap dua kata itu lama sekali.

Sudah cukup lama aku merantau untuk tahu bahwa “aman kok” dari orang tua jarang berarti benar-benar aman. Kadang itu cara mereka menahan cerita agar anaknya tidak ikut cemas. Dan justru karena itulah aku jadi lebih cemas.

Sejak itu muncul kebiasaan baru yang tidak kusadari kapan mulainya. Sebelum membuka pesan dari siapa pun, aku membuka aplikasi cuaca untuk kota tempat rumahku berdiri. Aku memandangi angka-angka yang tidak sepenuhnya kupahami, seolah dengan begitu aku bisa ikut berjaga. Lalu aku beralih ke grup keluarga, menanyakan hal-hal kecil. Pertanyaan yang bagi orang lain mungkin terdengar sepele, tapi bagiku itu satu-satunya cara untuk tetap hadir di sana.

Yang paling sulit adalah betapa biasanya hidupku di sini. Aku tetap berangkat kuliah, tetap mengerjakan tugas, tetap tertawa bersama teman-teman. Tidak ada yang tahu bahwa di tengah dosen menjelaskan materi, separuh diriku sedang berada ribuan kilometer jauhnya. Badanku duduk di kelas, tapi pikiranku berdiri di depan pintu rumah, ikut menatap langit yang tak kunjung cerah. Dan setiap kali aku menyadari bahwa aku bisa bernapas lega sementara keluargaku tidak, ada rasa bersalah yang pelan-pelan menyesakkan, seperti sesuatu yang diam-diam menekan dada.

Mungkin inilah sisi merantau yang jarang diceritakan. Orang-orang sering bicara tentang rindu masakan rumah atau sepinya kamar kos. Hampir tidak ada yang bicara tentang rasa tak berdaya ketika rumah sedang tidak baik-baik saja dan kita hanya bisa menunggu kabar dari jauh. Aku tidak bisa membawakan apa pun, tidak bisa menggantikan siapa pun, hanya bisa bertanya, “Gimana di sana?”

Namun, aku mulai paham bahwa peduli tidak selalu berbentuk tindakan besar. Kadang hanya pesan singkat yang dikirim tepat waktu, telepon yang sengaja dipanjangkan, atau kesabaran mendengar cerita yang sama dua kali. Mungkin di luar sana ada banyak mahasiswa rantau lain yang juga sedang menjaga rumahnya dari jauh dengan cara sesederhana ini.

Selama ini kukira jarak hanya soal kilometer. Ternyata jarak juga soal langit yang kita tatap, hari-hari yang tampak sama tetapi terasa sangat berbeda bagi orang-orang yang kita sayangi. Aku tidak bisa mengubah apa yang terjadi di sana. Namun aku belajar bahwa hadir tidak selalu harus dengan tubuh. Ada hadir yang cukup dengan mau bertanya, mau mendengar, dan tidak pura-pura baik-baik saja.

Dari sini aku juga belajar untuk lebih peka. Di sekelilingku pasti ada teman yang senyumnya terlihat biasa saja, padahal pikirannya sedang pulang ke rumah yang jauh. Mungkin mereka tidak butuh nasihat, cukup ditanya, “Keluargamu gimana kabarnya?” Karena pada akhirnya, merantau bukan hanya tentang seberapa jauh kita pergi, tetapi seberapa tulus kita tetap pulang—meski hanya lewat pesan, telepon, dan doa.

No Comments

Post a Comment