Opini: Usia 20-an, Antara Ambisi dan Kebingungan

Kita tidak harus tahu segalanya di usia 20-an. Masa ini adalah tentang tumbuh, tersesat, mencoba lagi, dan belajar bahwa hidup tidak selalu menuntut jawaban yang pasti. Mungkin usia 20-an bukan tentang menemukan tujuan akhir, melainkan tentang menemukan arah.
Persimpangan di Usia 20-An
Memasuki usia 20-an rasanya seperti berdiri di persimpangan jalan. Ada banyak arah yang bisa dipilih, tetapi tidak semuanya terlihat jelas. Di usia ini, kita mulai sering mendapatkan pertanyaan tentang masa depan:
“Setelah lulus mau kerja di mana?”
“Mau jadi apa?”
“Sudah punya rencana lima tahun ke depan?”
Pertanyaan sederhana itu kadang membuat kita merasa seharusnya sudah memiliki semua jawaban. Seolah-olah di usia 20-an kita harus sudah tahu akan menjadi siapa, bekerja sebagai apa, tinggal di mana, dan seperti apa masa depan yang ingin kita bangun. Padahal, hidup tidak sesederhana itu.
Tidak Semua Orang Berjalan dengan Kecepatan yang Sama
Kita hidup di zaman ketika pencapaian orang lain begitu mudah terlihat. Buka media sosial, kita bisa melihat teman yang sudah mendapatkan pekerjaan, memenangkan perlombaan, membangun bisnis, pergi ke berbagai tempat, mendapatkan beasiswa, atau menyelesaikan pendidikan lebih cepat. Lalu tanpa sadar kita bertanya:
“Kok dia sudah sejauh itu?”
“Kenapa aku masih di sini?”
“Apa yang salah dengan aku?”
Padahal, kita hanya melihat sebagian kecil dari perjalanan mereka. Kita melihat hasilnya, tetapi tidak selalu melihat kegagalan, rasa takut, perjuangan, dan waktu panjang yang mereka lalui sebelum sampai di sana. Begitu juga dengan diri kita: sering kali kita lupa menghargai perjalanan sendiri karena terlalu sibuk melihat perjalanan orang lain.
Kita Boleh Berubah Pikiran
Ketika kecil, mungkin kita pernah ditanya ingin menjadi apa: dokter, guru, polisi, arsitek, pengusaha, atau atlet. Namun, semakin bertambah usia, kita mulai menyadari bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana masa kecil. Apa yang dulu kita inginkan belum tentu masih menjadi sesuatu yang kita inginkan sekarang—dan itu tidak salah.
Kita berhak berubah pikiran, berhak mencoba jalan yang berbeda, dan berhak menyadari bahwa sesuatu yang dulu kita perjuangkan ternyata bukan lagi sesuatu yang ingin kita lanjutkan. Hidup bukan tentang memenuhi ekspektasi orang lain, melainkan tentang menjalani kehidupan yang benar-benar kita pilih.
Pelan Bukan Berarti Tertinggal
Ada saatnya kita merasa berjalan terlalu lambat. Teman-teman sudah melangkah lebih jauh, sementara kita masih berusaha menyelesaikan satu per satu persoalan di depan mata. Namun, berjalan pelan bukan berarti tidak bergerak.
Banyak orang membutuhkan waktu lebih lama untuk menemukan jalannya. Ada yang harus bekerja terlebih dahulu sebelum melanjutkan pendidikan, ada yang menghadapi keadaan berbeda yang membuat perjalanannya tidak sama dengan orang lain. Kita tidak pernah benar-benar tahu beban yang sedang dibawa seseorang. Karena itu, kita perlu berhenti mengukur kehidupan dengan ukuran yang sama. Tidak semua orang harus sampai di tempat yang sama pada usia yang sama.
Penutup
Usia 20-an bukanlah perlombaan. Ia adalah masa belajar, masa mencoba, masa tersesat, dan masa menemukan arah. Tidak apa-apa jika kita belum tahu semua jawaban sekarang. Yang penting, kita tetap melangkah, tetap belajar, dan tetap memberi ruang bagi diri sendiri untuk tumbuh.
Yogyakarta, 24 September 2026
Frisca Yunita
Mahasiswa Program Studi Arsitektur UAJY Angkatan 2025
Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-10











No Comments