Opini: Menguji Kesaktian Pancasila dalam Keseharian Mahasiswa

Setiap tanggal 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Biasanya, hari tersebut diperingati dengan upacara dan berbagai kegiatan untuk mengenang perjalanan sejarah bangsa. Namun, saya selalu memikirkan satu pertanyaan sederhana: “Di mana letak ‘kesaktian’ Pancasila bagi kita sebagai mahasiswa hari ini?”
Bagi saya, Pancasila tidak seharusnya hanya terasa sakti ketika dibacakan dalam upacara atau saat kita diminta menghafalkan kelima silanya. Maknanya justru akan terasa ketika kita mampu membawanya ke dalam kehidupan sehari-hari, sebab tantangan yang dihadapi mahasiswa hari ini tentu berbeda dengan tantangan bangsa pada masa lalu.
Kita hidup di zaman yang serba cepat. Informasi dapat diperoleh hanya dengan membuka ponsel, pendapat dapat disampaikan kapan saja melalui media sosial, dan kita dikelilingi oleh orang-orang dengan latar belakang serta cara berpikir yang beragam. Di satu sisi, keadaan ini memberikan banyak kesempatan untuk berkembang. Namun, di sisi lain, hal ini juga membuat kita mudah terpecah hanya karena perbedaan pendapat.
Sebagai mahasiswa, saya melihat kampus sebagai salah satu tempat paling nyata untuk belajar tentang keberagaman. Dalam satu kelas saja, kita bertemu dengan orang yang berasal dari daerah berbeda, memiliki kebiasaan berbeda, hingga cara pandang yang tidak selalu sama. Kadang-kadang perbedaan pendapat dalam diskusi terasa cukup menyebalkan, dan muncul keinginan untuk mempertahankan argumen sendiri karena merasa paling benar. Namun, dari situ saya belajar bahwa hidup bersama tidak selalu berarti semua orang harus memiliki pendapat yang sama. Mungkin justru di situlah Pancasila diuji.
Pada sila pertama, kita diingatkan untuk menghargai kehidupan beragama. Sila kedua mengajarkan kita untuk memperlakukan sesama secara adil dan beradab. Sila ketiga mengajak kita menjaga persatuan di tengah keberagaman, sila keempat mengajarkan pentingnya musyawarah, dan sila kelima mengingatkan kita tentang keadilan sosial. Semua itu terdengar sederhana karena sudah sering didengar sejak duduk di bangku sekolah. Namun, melaksanakannya ternyata tidak sesederhana mengucapkannya.
Sebagai mahasiswa, saya melihat bahwa mengamalkan Pancasila tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Ketika kita menghargai teman yang berbeda keyakinan, kita sedang belajar menerapkan toleransi. Ketika kita mau mendengarkan pendapat teman dalam diskusi, kita sedang belajar bermusyawarah. Ketika kita membagi tugas kelompok secara adil, kita sedang belajar tentang keadilan. Bahkan, memilih untuk tidak menyontek atau melakukan plagiarisme adalah bagian nyata dari pengamalan Pancasila. Kejujuran mungkin tidak selalu memberikan hasil yang paling instan, tetapi dari sanalah kepercayaan dibangun.
Selain di dunia perkuliahan, tantangan lain datang dari media sosial. Setiap hari kita berhadapan dengan arus informasi, berita, opini, kritik, hingga perdebatan tanpa batas. Kita memang memiliki kebebasan untuk berbicara, tetapi kebebasan tersebut juga membawa tanggung jawab. Seseorang begitu mudah menulis sesuatu di media sosial tanpa memikirkan dampaknya bagi orang lain, padahal kita bisa berbeda pendapat tanpa harus saling merendahkan, dan mengkritik tanpa harus menghina.
Menjadi mahasiswa yang mengamalkan Pancasila di era digital bukan berarti harus selalu berorasi tentang Pancasila. Justru, kita dapat menunjukkannya melalui cara kita menggunakan kebebasan yang kita miliki. Kita sering menyebut diri sebagai agen perubahan dan kaum intelektual, tetapi terkadang kita terlalu jauh membayangkan perubahan besar sampai lupa bahwa perubahan juga bisa dimulai dari hal-hal yang paling dekat.
Hal-hal tersebut mungkin terlihat kecil dan tidak langsung mengubah Indonesia dalam satu hari. Namun, bukankah kehidupan sebuah bangsa dibangun dari kebiasaan kecil jutaan orang? Di sinilah Pancasila tetap relevan. Ia tidak meminta kita menjadi sempurna, melainkan mengingatkan kita tentang bagaimana seharusnya hidup bersama sebagai manusia dan bagian dari bangsa Indonesia.
Pada akhirnya, kesaktian Pancasila bukan hanya persoalan bagaimana ia bertahan dalam sejarah masa lalu, tetapi juga kemampuan nilai-nilainya untuk tetap menjadi pedoman di tengah perubahan zaman. Jika generasi terdahulu berjuang mengangkat senjata untuk mempertahankan kemerdekaan, tugas kita hari ini adalah menjaga agar kemerdekaan itu tetap bermakna. Perjuangan kita mungkin seputar menghadapi tugas, ujian, organisasi, dan melawan rasa malas, tetapi setiap generasi memang memiliki bentuk perjuangannya masing-masing.
Maka, ketika tanggal 1 Oktober datang, saya tidak ingin Pancasila sekadar menjadi teks yang dihafal tanpa salah. Kesaktiannya diuji lewat cara kita memperlakukan orang lain, menggunakan kebebasan digital dengan bijak, dan menjaga kejujuran di tengah godaan untuk berbuat curang. Selama nilai-nilai itu hidup dalam tindakan sehari-hari kita, Pancasila tidak akan pernah kehilangan tempat dan kesaktiannya di tengah arus zaman.
Yogyakarta, 1 Oktober 2026
Airin Zilla Pratama Tutu
Mahasiswa Program Studi Teknik Sipil UAJY Angkatan 2026
Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-10
Gambar oleh Nyayur Fx Studio dari Pixabay











No Comments