Opini: Menolak LGBT Tidak Berarti Membenarkan Kekerasan

Di era media sosial, perdebatan mengenai LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) menjadi salah satu topik yang kerap memancing reaksi keras di masyarakat. Perbedaan pandangan mengenai isu ini sering kali berujung pada pertengkaran, penghinaan, bahkan tindakan kekerasan. Saya sendiri memiliki pandangan yang tidak sejalan dengan konsep LGBT. Namun, ketidaksetujuan tersebut tidak berarti saya membenarkan tindakan merendahkan, memukul, atau mempermalukan orang yang dianggap sebagai bagian dari kelompok tersebut.
Menurut saya, setiap orang berhak memiliki pandangan, nilai, dan keyakinan masing-masing terhadap suatu persoalan. Ketidaksetujuan merupakan bagian dari kebebasan berpikir dan berpendapat. Akan tetapi, kebebasan tersebut tidak seharusnya dijadikan alasan untuk memperlakukan orang lain secara tidak manusiawi. Kita perlu membedakan antara menolak suatu gagasan dan menyerang seseorang karena identitas atau orientasi seksualnya. Keduanya merupakan hal yang berbeda.
Hal yang paling memprihatinkan adalah maraknya konten di media sosial yang menampilkan penghinaan atau tindakan kekerasan terhadap individu yang dianggap LGBT. Lebih mengkhawatirkan lagi, terdapat akun maupun komunitas yang mengaku melakukan hunting terhadap orang-orang yang mereka curigai sebagai LGBT, termasuk melalui penggunaan istilah seperti hunting boty. Praktik semacam ini berisiko menjadikan seseorang sebagai sasaran intimidasi, persekusi, dan kekerasan hanya berdasarkan penilaian sepihak. Padahal, kecurigaan bukanlah bukti bahwa seseorang telah melakukan kesalahan.
Jika seseorang tidak setuju dengan LGBT, mengapa ketidaksetujuan tersebut harus diwujudkan melalui pemukulan, ejekan di depan umum, atau upaya mempermalukan seseorang di internet? Apakah tindakan seperti itu benar-benar menyelesaikan persoalan, atau justru menunjukkan bahwa kebencian telah mengalahkan kemampuan untuk berpikir secara rasional? Menurut saya, kekerasan tidak akan membuat suatu pendapat menjadi lebih benar. Sebaliknya, kekerasan justru menutup ruang dialog dan menghilangkan kesempatan untuk menyikapi perbedaan secara dewasa.
Masyarakat seharusnya mampu menyampaikan kritik tanpa kehilangan rasa kemanusiaan. Kita boleh berbeda pendapat, mempertahankan nilai yang diyakini, dan mendiskusikan persoalan LGBT secara terbuka. Namun, diskusi tersebut harus dilakukan tanpa ancaman, penghinaan, maupun tindakan main hakim sendiri. Setiap orang tetap memiliki martabat dan berhak memperoleh perlindungan dari kekerasan, terlepas dari apakah kita menyetujui pilihan atau identitas mereka.
Pada akhirnya, saya percaya bahwa menolak LGBT dan menolak kekerasan terhadap kelompok LGBT bukanlah dua sikap yang saling bertentangan. Seseorang dapat mempertahankan pandangannya sekaligus menolak perlakuan yang tidak manusiawi terhadap orang lain. Bagi saya, ukuran kedewasaan suatu masyarakat bukanlah seberapa keras mereka menyerang pihak yang berbeda pandangan, melainkan seberapa besar kemampuan mereka mengendalikan diri ketika menghadapi perbedaan. Kita tidak harus menyetujui semua hal untuk tetap memperlakukan sesama manusia dengan hormat.
Yogyakarta, 21 Oktober 2026
Richard Hendrawan
Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi UAJY Angkatan 2023
Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-9AMAJAYA Angkatan ke-9
Gambar oleh Boris Å tromar dari Pixabay











No Comments