KAMAJAYA Scholarship / Coretan Mahasiswa  / Coretan Mahasiswa: Antara Skripsi, Shift dan Senyum yang Dipaksakan

Coretan Mahasiswa: Antara Skripsi, Shift dan Senyum yang Dipaksakan

Menjadi mahasiswa semester akhir katanya adalah masa yang paling menegangkan. Ada skripsi yang harus dikejar, dosen pembimbing yang harus dihubungi, dan revisi yang datang lebih sering daripada notifikasi promo. Di tengah semua itu, aku memutuskan menambah satu “mata kuliah” baru: bekerja sambil kuliah. Awalnya, keputusan ini terlihat masuk akal. Aku bisa memiliki penghasilan sendiri, tidak selalu meminta uang kepada orang tua, dan sekaligus belajar mengenal dunia kerja. Aku bekerja di sebuah properti vila yang berada di bawah naungan sebuah CV, dengan posisi sebagai marketing communication. Dalam bayanganku, hari-hariku akan diisi dengan mencari KOL, menganalisis ulasan vila di OTA, membuat konten, dan mendesain materi promosi. Pekerjaan kreatif, sesuai bidang, dan tentu saja menjadi kesempatan untuk belajar lebih dekat tentang dunia hospitality.

Kenyataannya ternyata sedikit berbeda. Di brosur, hospitality adalah tentang keramahan. Di lapangan, hospitality berarti tetap tersenyum saat keadaan tidak sedang baik-baik saja. Tamu harus dilayani sepenuh hati, sementara hati sendiri kadang terasa tinggal setengah. Yang paling melelahkan bukan selalu tamunya, melainkan suasana kerjanya. Ada tekanan, ada komentar yang tidak enak didengar, dan ada situasi yang membuatku bertanya, “Ini aku sedang bekerja atau sedang mengikuti uji ketahanan mental?” Sejak saat itu, aku mulai memahami bahwa dunia kerja tidak selalu seindah deskripsi yang tertulis dalam lowongan pekerjaan.

Soal jobdesk, aku sempat mengira itu adalah daftar tugas yang jelas dan terstruktur. Ternyata, jobdesk di tempatku lebih mirip saran. Di atas kertas, aku adalah seorang marcomm. Namun, di lapangan aku juga mengurus lima properti vila sekaligus, ikut menangani farm, membantu urusan keuangan, dan mengerjakan berbagai tugas hospitality lainnya. Pagi masih membalas ulasan tamu di OTA, siang tiba-tiba harus pindah ke farm, sore merapikan laporan keuangan, lalu malam masih ditagih konten yang belum diunggah. Kalau sesekali mengeluh, jawabannya hampir selalu sama: “Ya kan sekalian, biar belajar.” Belajar memang penting, tetapi kalau boleh jujur, aku juga ingin belajar bagaimana caranya agar gaji cukup sampai akhir bulan.

Nominal yang kuterima tidak besar, sementara tenaga, waktu, dan pikiran yang dikeluarkan terasa tidak sebanding dengan beban pekerjaannya. Kadang aku menghitung ongkos bensin, uang makan, dan biaya cetak skripsi, lalu berpikir bahwa mungkin aku bekerja bukan untuk menabung, melainkan untuk menutupi biaya bekerja itu sendiri. Belum lagi urusan bolak-balik yang menghabiskan banyak waktu dan energi. Pagi ke kampus untuk bimbingan, siang buru-buru ke kantor agar tidak terlambat, lalu berpindah dari satu vila ke vila lain, sesekali mampir ke farm. Malam pulang dalam keadaan lelah, tetapi masih teringat bahwa revisi Bab III belum disentuh sama sekali. Jalanan sudah seperti rumah kedua. Kadang aku merasa motorku ikut lelah dan diam-diam ingin resign lebih dulu daripadaku.

Ada masa ketika aku bertanya kepada diri sendiri, “Kenapa aku masih bertahan?” Jawabannya tidak selalu heroik. Kadang karena butuh uang. Kadang karena sudah terlanjur menjalani. Kadang karena aku ingin membuktikan bahwa aku mampu menghadapi semuanya sekaligus. Namun, dari situlah aku mulai menyadari sesuatu. Selama ini aku mengira belajar hanya terjadi di ruang kelas dan perpustakaan. Ternyata, dunia kerja dengan segala drama dan ketidakadilannya juga mengajarkan banyak hal yang tidak pernah dibahas dalam silabus perkuliahan.

Aku belajar membaca ulasan tamu dan memahami apa yang sebenarnya mereka inginkan sebagai pelanggan. Aku belajar membuat konten dan desain dalam waktu yang sempit. Aku belajar mengatur keuangan, mengelola waktu di antara dua kewajiban yang sama-sama menuntut, serta tetap profesional meskipun suasana kerja tidak selalu ideal. Yang paling penting, aku belajar mengenali seperti apa lingkungan kerja yang sehat dan seperti apa yang tidak. Pengalaman tersebut membuatku memahami bahwa kemampuan teknis bukan satu-satunya hal yang perlu dimiliki seseorang untuk bertahan di dunia kerja. Ada kesabaran, kemampuan beradaptasi, dan keberanian untuk menetapkan batas yang sama pentingnya.

Mungkin ini adalah pelajaran yang tidak akan kudapatkan dari mata kuliah mana pun: bahwa tidak semua tempat kerja layak dipertahankan selamanya, dan bahwa mengenal batas diri bukan berarti lemah. Pengalaman ini memang tidak selalu menyenangkan. Namun, setidaknya aku membawa pulang bekal yang tidak pernah tertulis di transkrip nilai. Aku belajar bahwa bekerja keras dan mengorbankan diri sendiri adalah dua hal yang berbeda, dan tidak semua tantangan harus diterima atas nama proses belajar.

Sebagai mahasiswa semester akhir, perjuanganku memang belum seberapa. Aku hanya sedang berusaha menyelesaikan skripsi, mencari nafkah kecil-kecilan, dan menjaga kewarasan di antara keduanya. Dari situ aku belajar bahwa setiap orang memiliki medan perjuangannya masing-masing, dan tidak ada yang perlu dibandingkan. Jadi, kalau ada yang bertanya bagaimana rasanya kuliah sambil bekerja di tempat yang penuh drama, jawabannya sederhana: capek, iya; kesal, sering. Namun, justru dari situlah aku belajar bertahan, sekaligus belajar kapan harus berhenti bertahan. Untuk saat ini, biarlah aku menyelesaikan semuanya satu per satu: revisi skripsi, shift kerja, ulasan OTA, konten media sosial, laporan keuangan, dan perjalanan bolak-balik yang seolah tidak ada habisnya. Karena sebentar lagi, semoga aku bisa merdeka dari skripsi, dan dari jobdesk yang sebenarnya bukan jobdesk-ku.


Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay

No Comments

Post a Comment