KAMAJAYA Scholarship / Penerima Beasiswa  / Periode 2017/2018  / Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Maria Scholastica Pangastuti

Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Maria Scholastica Pangastuti

Maria Scholastica Pangastuti

Tanggal Lahir:
Kota Asal:
Studi:

17 Februari 1996

Temanggung, Jawa Tengah

Fakultas Teknobiologi UAJY semester 7 (Oktober 2017)

Maria Scholastica Pangastuti

Mahasiswi Fakultas Teknobiologi UAJY

THE SHOW MUST GO ON

Saya Maria Scholastica Pangastuti. Teman-teman dan kerabat memanggil saya Asti. Saya putri kedua dari tiga bersaudara yang seluruhnya perempuan. Sejak kecil saya tinggal dalam keluarga besar yang terdiri dari keluarga inti saya, nenek serta kedua tante adik dari ibu saya. Saya lahir di rumah nenek saya. Waktu itu orang tua saya masih menumpang di rumah nenek. Kebahagiaan dan keceriaan memenuhi rumah itu dengan kehadiran kami bertiga yang riwil. Seiring berjalannya waktu, ketika saya berumur 5 tahun, keluarga kecil kami pindah ke tempat yang lebih besar. Rumah kami ini masih berada dalam satu kota dengan rumah nenek.

Ketika umur saya 5 tahun, saya duduk di bangku TK, sedangkan kakak saya duduk di bangku SD, dan adik saya masih balita dan belum sekolah. Kedua orang tua saya bekerja sejak pagi hingga sore hari. Setiap pagi, kami harus bangun pagi-pagi termasuk adik saya yang paling kecil. Kami harus sudah rapi dan sarapan maksimal pukul 6 pagi. Ibu saya menyiapkan semua kebutuhan pagi-pagi buta. Setelah itu sekitar pukul 6 pagi, ibu berangkat menuju tempat kerjanya. Ibu saya bekerja sebagai guru SMA di salah satu sekolah swasta di Kota Magelang. Kendaraan umum tempat kami tinggal cukup sulit, sehingga bapak saya setia mengantar ibu saya ke terminal. Kemudian ibu harus naik bus umum untuk ke tempat kerjanya. Bapak saya bekerja sebagai guru di sebuah SMK di Temanggung. Setelah mengantar ibu, bapak mengantar adik saya ke rumah nenek. Sedangkan kakak saya dan saya diantar ke sekolah yang kebetulan sekolah kami berada di satu tempat. Di rumah nenek, adik saya dirawat oleh nenek dan tante, adik dari ibu saya.

Setiap anggota dalam keluarga saya dituntut untuk disiplin dan saling kerja sama. Sejak kecil, saya diajari untuk membantu pekerjaan rumah. Mula-mula saya diajari untuk mencuci piring sendiri setelah makan. Terkadang saya diajari memasak juga oleh nenek. Saya diajari menggunakan pisau, memarut kelapa, menghaluskan cabai, dan lain sebagainya. Tak jarang saya diminta untuk menyapu rumah nenek. Setiap hari saya harus mengerjakan minimal satu pekerjaan rumah itu.

Suatu peristiwa besar menimpa saya. Ketika saya duduk di kelas 1 SD, bapak saya meninggal dunia. Menurut diagnosis dokter, penyebabnya adalah jantung koroner. Peristiwa tersebut membuat ibu saya menjadi single parent. Ibu saya berjuang mati-matian, memulai strategi baru dengan menabung di sana-sini, mendaftar asuransi pendidikan dan kesehatan untuk kami dan lain sebagainya. Ibu yang sangat hebat. Saya sayang sekali dengan ibu saya. Kehidupan saya tidak banyak berubah, kebutuhan saya tetap tercukupi. Terkadang saya rindu kehadiran bapak saya. Ibu saya juga terkadang menangis di malam hari. Tapi saya yakin, dengan keceriaan ketiga putrinya, kami dapat menutupi kesedihan itu. Didikan ibu saya tetap keras dan disiplin, kami bertiga tumbuh menjadi perempuan kuat dan mandiri.

Hampir 7 tahun lamanya ibu saya menjadi single parent, ibu saya mengalami kecelakaan. Singkat cerita, ibu saya hanya dapat bertahan satu malam. Pendarahan di dalam otaknya sangat parah dan tidak bisa diselamatkan.

Air mata tak kunjung habis, terus-menerus mengalir sepanjang pemakaman ibu. Kegiatan di sekolah saya jalani tanpa semangat, tidak seceria dulu, tidak sesemangat dulu, semua biasa saja. Banyak orang yang menghibur saya, tapi sia-sia. Setiap malam saya menangis karena merindukan ibu saya. Setelah itu, saya bersama kakak dan adik saya dikumpulkan oleh keluarga besar kami dan diberi nasehat. Inti nasehat itu adalah kami harus rukun dan terus bekerja sama. Kami juga tidak boleh khawatir soal pendidikan, kami harus belajar tekun, tetap menatap masa depan dengan penuh keyakinan. Kami harus jadi orang yang baik. Saya tersadar. Saya lupa akan hal itu. Saya punya teman-teman yang menghibur saya, saya punya nenek dan tante yang akan terus menemani keseharian saya. Saya juga punya saudara yang bisa mengisi hidup saya dengan keceriaan. The show must go on. Saya harus kembali.

Maria Scholastica Pangastuti Foto DiriSetelah peristiwa itu, saya tinggal bersama nenek. Rumah kami dikontrak oleh orang lain. Saya kembali meneruskan pendidikan saya. Di sekolah saya tetap berusaha berprestasi. Kini saya telah menyelesaikan 6 semester di Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Selama saya kuliah di sini, saya mendapat bannyak pengalaman. Saya mengikuti salah satu UKM PSM. Latihan sehari-hari di PSM memang bisa dibilang kejam. Saya harus tampil sempurna di panggung. Rasanya campur aduk ketika bermain di atas panggung Pre-Competition Asian Pasific Chior Games. Berat rasanya beban di pundak saya, selain saya harus tampil saya juga harus menyiapkan penelitian saya. Akan tetapi, saya sangat senang ketika saya dapat ikut berjuang dalam Asian Pasific Chior Games di Srilanka bulan Oktober 2017 nanti.

Selain itu, saya bergabung dalam Komunitas Garuda Katolik. Komunitas ini mendorong saya untuk mengikuti pelayanan dan bakti sosial. Di komunitas ini saya banyak berperan dalam kegiatan pelayanan paduan suara di gereja maupun di kampus. Saya berusaha menularkan ilmu-ilmu dalam bernyanyi kepada teman-teman. Ketika bakti sosial, saya mendapatkan nilai yang berharga, yaitu bersyukur atas semua yang kita punya. Semangat dalam menjalani hidup dalam diri pun tumbuh kembali.

Pelajaran yang menarik saya ambil ketika saya harus menyelesaikan Kerja Praktek di PT. Perkebunan Tambi. Saya senang bisa bertemu orang luar dan tentunya teman-teman universitas lain. Kami bisa saling berbagi pengalaman maupun pengetahuan di kampus. Saya bangga dapat mempresentasikan pengolahan teh kepada 8 pengawas di sana. Untungnya, saya dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.

Saatnya saya memasuki dunia skripsi, yang konon ditakuti oleh banyak mahasiswa. Penelitian yang harus dilakukan di fakultas saya cukup kompleks. Penelitian saya rancang sederhana, tapi pada kenyataanya sangat detail dan memerlukan biaya yang tidak sedikit. Demi mendapatkan gelar sarjana, penelitian ini harus saya jalani dan harus saya selesaikan. Walaupun saya harus sedikit terseok-seok, saya harus tetap optimis. Setelah lulus nanti, entah keberuntungan akan membawa saya kemana, sekolah lanjut atau bekerja. Saya ingin menjadi ahli bioforensik yang handal.

No Comments

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA