KAMAJAYA Scholarship / Berita  / KAMAJAYA Scholarship: Wadah Come Back Alumni untuk Bangsa

KAMAJAYA Scholarship: Wadah Come Back Alumni untuk Bangsa

Tepat hari ini, Selasa, 31 Juli 2018 di sebelah sisi relung hati Universitas Atma Jaya Yogyakarta sebuah benih harapan di semai untuk tujuan mengangkat derajat kehidupan yang lebih baik. Benih itu ialah KAMAJAYA Scholarship yang kini genap berusia 1 (satu) tahun.

Usia yang masih belia namun terus bergerak dan menjangkau para alumni untuk mau berkontribusi bagi bangsa dan almamater. Hingga kini KAMAJAYA Scholarship telah membiayai 15 (lima belas) orang mahasiswa untuk tetap meneruskan pendidikannya di UAJY. Para penerima KAMAJAYA Scholarship berasal dari berbagai daerah dan beragam latar belakang suku, agama dan budaya.

Barangkali muncul pertanyaan dalam benak anda, apa itu Kamajaya Scholarship? Sepintas, KAMAJAYA Scholarship (KS) adalah sebuah program beasiswa sarjana yang diperuntukan bagi mahasiswa/mahasiswi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY). KS adalah hasil dari come back para alumni kampus UAJY yang terpanggil dalam membantu para pengejar mimpi di kampus tersebut.

KS terilhami dari nilai-nilai yang dijiwai kampus UAJY seperti unggul, inklusif, humanis dan berintegritas. Pengejawantahan dari nilai-nilai universal UAJY tersebut kemudian difokuskan dalam bentuk penawaran kesempatan kepada anak-anak bangsa yang berasal dari keluarga tidak mampu yang mempunyai kemampuan akademis baik serta punya semangat untuk belajar dalam mengejar mimpi masa depan cemerlang di UAJY tanpa biaya.

Ide Pay It Forward

Ide awal KS adalah membantu yang tidak mampu, selanjutnya yang dibantu menjadi donatur lagi bagi yang lain. Istilahnya adalah pay it forward. Mengapa harus seperti itu? Karena para donatur awal tidak meminta donasinya dikembalikan setelah berhasil menempuh beasiswa di UAJY dengan beasiswa KS atau tidak ada ikatan dinas/kerja dengan penerima beasiswa tetapi harapannya adalah penerima beasiswa kelak menjadi penolong untuk sesama.

“Apa arti ijazah yang bertumpuk, jika kepedulian dan kepekaan tidak ikut dipupuk? Apa gunanya sekolah tinggi-tinggi, jika hanya memperkaya sanak diri dan famili?”, demikian kata Najwa Shihab dalam sebuah Episode Catatan Najwa yang sebetulnya menjadi otokritik bagi kita bersama terutama dalam kaitannya dengan kepedulian terhadap sesama ketika kita telah berada pada situasi aman.

Kaitannya dengan ide KS, secara konseptual KS mencoba untuk mengasah kepekaan berbasis humanisme dan sosial karena dalam pergaulan hidup kita semua adalah zoon politicon. Jadi, dengan berhasil mencapai tujuan hidup pribadi saja tidaklah cukup, sebaiknya kita juga ikut membantu mereka yang berjuang untuk meraih tujuannya. Perbuatan membantu tidak terbatas pada bernilai baik secara pertimbangan moral dan etika kemasyarakatan, namun juga secara religiusitas sebagai amal ibadah dan rasa syukur.

Hal ini pula, berkenaan dengan salah satu elemen konsep pendidikan Paulo Freire (1921-1997), seorang filsuf pendidikan dari Brazil dalam buku Pedagogy of the Oppressed (pendidikan kaum tertindas), yang menyatakan dehumanisasi adalah masalah manusia dan itu terjadi karena diciptakan akibatnya ada yang menderita. Pendidikan kritis ala Freire mengajarkan bahwa pendidikan seharusnya memanusiakan manusia yaitu membawa manusia keluar dari situasi penindasan atau membebaskan manusia dari belenggu. Humanisasi adalah jalan untuk menuju fitrah kemanusiaan tersebut. Tanpa humanisasi maka manusia tidak akan mencapai situasi bebas.

Langkah Awal

KAMAJAYA Scholarship kini mulai dikenal hampir seluruh civitas akademika UAJY. Ibarat kata, saat ini KS bagaikan jantung bagi para penerima beasiswa KS yang terus memompa kehidupan bagi mereka kini dan nanti selama masih di UAJY. Namun, siapa sangka langkah awal menjaga denyut nadi KS tidaklah mudah. Kala itu, belum banyak alumni yang mau bergabung baik dalam menata kelembagaan KS atau memberikan sumbangsih dana.

Donasi pertama kali didapat hanya Rp 500.000,- (lima ratus ribu rupiah) yang digunakan untuk setoran awal membuka rekening. Dengan modal nekad meskipun belum mengetahui dana selanjutnya berasal dari mana, KS membiayai 5 (lima) mahasiswa pada periode pertama beasiswa ini diberikan. Namun, kini hanya dengan komitmen donasi mulai dari Rp 50.000 per bulan maka donasi yang berputar telah mencapai sekitar Rp. 200-an juta dimana telah berhasil membantu 15 (lima belas) orang penerima beasiswa. Jumlah ini tentunya akan semakin bertambah seiring dengan bertambahnya donasi dan donatur.

Luar biasa bukan? Secara pribadi saya sangat mengapresiasi kehadiran beasiswa KS tersebut. Sebab beasiswa pendidikan ini mengingatkan saya kepada pentingnya seseorang mencapai derajat pendidikan yang baik dan berkualitas. Pendidikan sendiri mempunyai fungsi untuk membentuk watak, kepribadian serta peradaban yang bermartabat secara inovatif, responsif, kreatif, dan berdaya saing.

Pendidikan yang diharapkan kiranya mampu memanusiakan manusia dan mengubah pola perilaku dan tanggungjawab dalam pergaulan di masyarakat. Saya teringat lagi kata Malala Youzafsai, pegiat pendidikan dan Penerima Nobel Perdamaian 2014 asal Pakistan yang menyatakan “with guns you can kill terrorists, with education you can kill terrorism.” Dengan kata lain, dengan pendidikan yang berperikemanusiaan, kejahatan sekalipun dapat ditumpas.

Bantu Topang

Apakah kemudian KS akan menjadi penopang para pengejar mimpi di UAJY? Saya masih meyakini hal tersebut. Namun, pada titik tertentu saya mengkhawatirkan bila niat baik ini tidak ditopang dengan bantuan dari kita semua terutama para alumni UAJY.

Apakah anda pernah bertanya dalam hidup seperti seorang Ignatius Loyola (1491-1556), “mereka adalah orang-orang yang sama seperti aku, jadi mengapa aku tidak bisa melakukan seperti apa yang telah mereka lakukan?” Mereka tersebut merujuk kepada orang-orang yang mempunyai misi dan semangat yang sama untuk membantu orang lain atau mewartakan kabar baik bagi sesama manusia. Loyola yang tidak lain adalah seorang mantan Ksatria Spanyol rela meninggalkan kehidupan yang bergelimangan harta dan menanggalkan jubah kebesaran kekuasaan demi mencapai keutamaan hidupnya yaitu memuliakan kebesaran sang Pencipta.

Apakah kita sebagai alumni UAJY rela untuk mengusik kenyamanan diri kita sesaat dengan menunjukan perhatian dan sokongan kepada anak-anak yang kurang beruntung secara ekonomis agar mereka dapat terus kuliah?

Kiranya kita, para alumni yang sudah sukses dalam berkarir, usaha dan hidupnya berani keluar dari zona nyaman, bahu-membahu membantu menopang keberlanjutan KS agar semakin banyak anak-anak bangsa yang meraih pendidikan tingginya.

Mari kita kembali pulang untuk melihat kampus kita atau menjadi saksi keberhasilan anak-anak bangsa. Karena benih unggul telah disemai di UAJY untuk seterusnya bertumbuh dan berbuah. Nadi kehidupan terus berdetak di bawah atap rumah kampus kita untuk memberikan seribu makna tiada perbuatan yang setara dengan kasih kepada sesama.

Yogyakarta, 31 Juli 2018
Korneles Materay
Alumni Fakultas Hukum UAJY
Angkatan 2013

No Comments

Post a Comment

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA