KAMAJAYA Scholarship / Kisah/Kesaksian/Testimoni  / Senja di Tempat Berbeda

Senja di Tempat Berbeda

Setelah lulus SMA dua tahun lalu, dengan keterampilan dasar yang saya miliki, saya memberanikan diri untuk mencari pekerjaan di kota industri yang dekat dengan negara Singapura, yaitu Batam. Benar, mencari pekerjaan bukanlah hal yang mudah. Apalagi hanya mengandalkan ijazah SMA, tidak punya pengalaman kerja sebelumnya, syukur-syukur mempunyai kemampuan bahasa asing, mungkin menjadi pertimbangan HRD untuk mempekerjakan saya saat itu.

Sedikit cerita tentang di mana, dengan siapa, dan bagaimana saya hidup di Batam. Tinggal dengan saudara dari Bapak saya, Tante dan Om dengan 2 anak gadisnya. Tidak selalu manis, tapi juga tidak selalu pahit. Bulan pertama dan kedua saya mencari pekerjaan ke sana-sini menjadi operator perusahaan industri, waitress di restoran/hotel, pegawai administrasi, bahkan penjaga toko di mall, dan berharap di antaranya ada yang memanggil saya untuk interview. Tapi itu harapan saya, bukan kehendak Tuhan. Di bulan ketiga tante saya mulai bertanya “Bagaimana lamaranmu, Nel? Kok belum ada yang panggil interview?” Sedikit sedih, dan semangat saya sedikit berkurang.

Nella (kiri) bersama dengan Gesti (tengah) dan Maria (kanan), saat bekerja di Matahari Department Store (Tahun 2017).

Minggu pertama di bulan ketiga di perantauan, tidak satupun telepon atau SMS yang masuk untuk memanggil saya interview. Kehidupan nyata yang sakit ini semakin terasa. Belum dapat pekerjaan, tidak punya uang, cara saudara-saudara saya (anak dari om dan tante saya) yang seenak-enaknya menyuruh saya mengerjakan ini dan itu di luar tanggung jawab saya (di rumah keluarga, saya punya pekerjaan seperti memasak untuk makan siang, mencuci baju Tante dan Om, membersihkan rumah dan mencuci piring). Saya selalu punya tempat favorit, kebetulan Tante dan Om mempunyai rumah bertingkat yang atasnya belum direnovasi. Saya selalu pergi ke atas, di saat senja menunggu malam datang dan duduk di bawah langit hitam yang bertaburan bintang (meskipun tidak setiap malam ada bintang).

Namanya perantau, sakit hati hanya bisa dipendam sendiri, susahnya hidup dinikmati sendiri. Saya sering merasakan kasihan kepada diri sendiri saat itu. Karena takut kedengaran seisi rumah, saya selalu pergi ke tempat favorit saya untuk menangis. Banyak hal yang saya sesali saat itu dan banyak pertanyaan yang terbersit di pikiran saya, “Mengapa saya miskin? Mengapa sulit mencari pekerjaan? Mengapa anak tante saya menjengkelkan? Mengapa saya tidak kuliah saja? Mengapa dan mengapa?” Saat saya menulis cerita ini, saya tersadar betapa labilnya saya waktu itu.

Tetapi namanya rezeki, Tuhan sudah atur, bahkan jauh dari yang kita pikirkan. Saat itu ketika saya memasak makan siang di dapur, handphone saya berdering dan kabar menyenangkan itu pun telah tiba. HRD dari hotel yang pernah saya kirimkan lamaran kerja, memanggil saya untuk bekerja sebagai waitress di restoran hotel, Nagoya Hill Hotel namanya. Amat senang, untuk pertama kalinya saya bekerja. Saat itu gaji yang saya terima Rp 3.300.000,00 bersih karena makan dan transportasi, hotel yang tanggung. Tapi saya bekerja di hotel tersebut hanya dua bulan saja, karena saat saya bekerja di hotel, perusahaan Matahari Department Store menghubungi saya untuk bekerja. Saya meninggalkan pekerjaan sebagai waitress dan bekerja sebagai kasir di Matahari Department Store karena beberapa alasan yaitu lebih dekat dari rumah, gaji yang lebih tinggi, diberi BPJS ketenagakerjaan, diberi uang lembur dan bonus.

Semua pekerjaan memiliki tingkat kelelahan masing-masing. Dulu sewaktu saya menjadi waitress, tangan saya yang sakit karena mengangkat piring-piring besar dari meja tamu ke meja penyimpanan piring kotor. Sewaktu saya menjadi kasir, kaki saya yang sakit karena berdiri selama 8 jam tanpa duduk. Tetapi dari semua pekerjaan itu, saya sangat menikmati saat senja di jalan sepulang kerja. Berjalan di bawah langit dengan indahnya matahari yang terbenam menyambut malam saat itu semua lelah sesaat hilang. Saya menyadari banyak hal, tentang hidup yang saya jalani. Tuhan selalu punya waktu terbaik, saat waktu itu tiba, segalanya terasa lebih baik dan beban hidup terasa lebih ringan.

Nella (kiri) dan Maria (kanan).

Setiap bertemu senja sepulang kerja, saya terpikir untuk kuliah. Saya merasa seperti mustahil saya bisa kuliah, namun pikiran saya tidak bisa berhenti memikirkan betapa bahagianya jika bisa mengecap bangku perkuliahan. Tidak berhenti di situ, bukan sekedar angan-angan, saya mulai memikirkan tabungan. Saya menabung hingga tabungan saya terkumpul lumayan. Di samping saya menabung, saya juga mengirim gaji saya sebagian untuk keluarga di kampung karena orangtua saya mengandalkan uang itu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Uang itu terkumpul lumayan, saya mulai memilih universitas yang saya pikir uang itu cukup untuk membiayai saya. Pertama dan satu-satunya adalah Universitas Atma Jaya Yogyakarta, walaupun sebenarnya uang saya kurang banyak untuk menutupi uang pangkal, tapi saya terlanjur cinta dengan universitas ini. Setelah 8 bulan bekerja di Matahari Department Store, saya pamit kepada supervisor dan manajer saya untuk mengatakan hal sebenarnya, yaitu saya akan kuliah. Mereka adalah orang baik yang sangat pengertian dan mereka sangat mendukung saya untuk kuliah.

Greget, takut, tapi juga bahagia. Orangtua saya tidak tahu kalau saya ke Yogyakarta untuk tes masuk universitas. Karena saya yakin, seandainya mereka tahu, akan banyak nasehat untuk mempertimbangkan saya kuliah atau tidak, saya hanya mendengar isi hati saya saat itu. Tiga minggu setelahnya, pengumuman hasil tes akhirnya keluar. Benar, nama saya saat ini ada di pengumuman hasil ujian masuk Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Saya diterima di Fakultas Teknobiologi. Namun yang selanjutnya saya pikirkan adalah orangtua saya, saat itu saya berdoa sebelum mengatakan yang sejujurnya. Alih-alih siapa tahu dengan doa, hati Bapak dan Ibu saya terbuka. Memang benar, doa mengabulkan segalanya. Ibu saya sudah kesana kemari untuk meminjam uang yang akan saya bawa untuk membayar uang pangkal. Hanya dengan kuasa Tuhan dan doa sajalah, semua biaya dapat dilunaskan.

Kembali pada senja, jika dua tahun lalu saya menikmatinya di jalan sepulang kerja, saat ini saya menikmati senja indah sepulang kuliah. Mungkin hanya senja bagi kebanyakan orang di luar sana, tapi senja mengingatkan saya apa yang saya perlu dan pada siapa saya meminta. Seakan ingin terlihat tegar, saya hanya menyuarakan dari dalam hati “lulus dengan membanggakan, mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, dan menjadi teladan bagi orang banyak” di setiap senja datang. Saya selalu melakukannya, untuk membuat diri saya lebih baik lagi dalam berproses.

Yogyakarta, 24 Oktober 2018
NELLA (Semester 3, Fakultas Teknobiologi UAJY)
Penerima Beasiswa KAMAJAYA

No Comments

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA