KAMAJAYA Scholarship / Kisah/Kesaksian/Testimoni  / Kisah Penerima Beasiswa: Solo Fighter

Kisah Penerima Beasiswa: Solo Fighter

“Solo fighter”, julukan yang mungkin cocok bagi Ibu. Menjadi dewasa tanpa sosok ayah mungkin menjadi beban yang berat dipikul. “Luka yang paling dalam yang tidak akan pernah hilang adalah luka perceraian”, kalimat yang mungkin tidak asing dan banyak disetujui bagi kebanyakan anak. Notabene seorang anak yang kehilangan orang tua akan sangat sedih dan menjadi beban tersendiri bagi seorang anak. Trauma perceraian menjadi hal yang mungkin tidak bisa dihindari untuk seorang anak. Kehilangan sosok ayah sejak kecil mungkin menjadi beban besar dan berdampak secara tidak langsung.

Namun tidak untuk saya, sedari kecil yang saya ingat bila bertanya soal ayah dan bila ditanyai saya hanya perlu menjawab kalau beliau “ke Semarang”. Memang sebuah beban dan tidak tahu kenapa saya tidak menyesali ketidakhadiran beliau. Namun mungkin berbeda ketika sudah dewasa, fase di mana saya mulai mempertanyakan semua dan mulai berandai-andai, berandai-andai bila beliau tidak pergi meninggalkan kami, berandai-andai bila beliau tidak memiliki keluarga baru, berandai-andai mungkin Ibu tidak perlu banting tulang untuk hidup kami.

Kekecewaan besar Ibu mungkin menjadikanku “objek pembuktian”, “…makanya sukses biar bapakmu tahu, Ibu bisa besarin kamu tanpa campur tangan dia”. Kalimat yang seakan membuat saya terdiam. Apakah saya hanya ajang dan objek pembuktian? Ketidakterbukaan Ibu tentang apa yang terjadi di masa lalu membuat saya juga enggan untuk bertanya. Saya takut membuka luka yang sudah lama Ibu coba sembuhkan. Pada akhirnya semua yang terjadi di masa lalu saya ketahui lewat saudara-saudara, Om, Pakde, maupun Bude. Ternyata beliau sosok yang memang sudah meragukan sejak awal. Namun ketulusan Ibu yang mungkin selalu mengejar beliau. Om pun cerita, bahwa om-lah yang sedari dulu dididik Ibu dari kecil, menjadi saksi kelahiranku, membantu memapah Ibu ketika hamil, mencarikan makanan saat rawat inap, sampai Ibu yang mengejar beliau ketika akan menikah, dan lain-lain. Bisa saja Ibu malu untuk bercerita, namun yang harus Ibu tahu adalah ia adalah sosok ibu yang sangat aku banggakan.

Kasih aku rasakan dari kecil, Bude-Pakde dari Tegal yang membantu membayar SPP SMA, Om dari Manggarai yang menggantikan memberi uang saku saat asrama SMP, Om dari Jakarta yang sering membantu keuangan Ibu, sampai kasih yang diberikan Beasiswa KAMAJAYA, dan masih banyak lagi. Mungkin bila bisa memutar waktu saya ingin menahan Ibu untuk tidak memasukkanku ke asrama ketika SMP, sehingga Ibu tidak perlu sampai aku SMA susah payah menggunakan uang penghasilan untuk membayar kredit, di mana Ibu membanting tulang terlalu keras. Apalagi untuk kuliah, sudah berapa usaha yang beliau lakukan untuk membayar semua kebutuhan kuliah. Sungguh betapa bersyukur saya bisa mendapat Beasiswa KAMAJAYA, sangat amat membantu Ibu. Entah berapa nominal yang perlu dibayarkan bila saya tidak mendapatkan Beasiswa KAMAJAYA.

Memang beberapa kali sudah diingatkan untuk membayar maupun mencicil tunggakan SPP yang terjadi sebelum saya diterima di Beasiswa KAMAJAYA. Beberapa kali diingatkan terus oleh pengurus Beasiswa KAMAJAYA, bahwa tunggakan SPP yang terjadi sebelum diterima Beasiswa KAMAJAYA tetap menjadi tanggungan orang tua. Namun apalah daya saya yang hanya bisa mengingatkan, perasaan saya pun juga tidak sanggup apabila Ibu sudah menjawab, “Minggu depan yo le, tak usahakan.”

Saya bukan orang yang konsumtif. Saya biasa menahan lapar supaya menghemat uang dan menunggu pulang untuk makan di rumah. Sekali pun saya sudah bilang, “Makan seadanya saja, uangnya disisain buat nyicil tunggakan SPP,” Ibu tetap mengusahakan memberi makan yang selalu bisa dinikmati. Apalah daya saya sebagai seorang anak bila mencampuri keuangan orang tua. Ibu semakin bertambah usia, namun tidak sedikit pun kasihnya berkurang.

Penyesalan mungkin hutang terbesar yang perlu dibayar. Saya tidak mau menyesal dengan tidak mengubah apa pun di hidup ini. Mulai dari hal kecil, kepercayaan dan kejujuran yang mungkin bisa saya terus pegang untuk orang-orang di sekitar saya seperti Ibu, Om, Pakde, Bude, almarhum kakak kembar saya, dan para sahabat saya. Merekalah yang menjadi alasan saya bertekad lebih besar dalam hidup. Kepentingan saya mungkin bukanlah hal prioritas lagi saat ini. Berkembang dan pertumbuh demi orang-orang yang sudah percaya kepada saya, dapat jadi beban namun dapat juga menjadi bahan bakar.

PR saya sekarang adalah menyelesaikan skripsi dan berusaha meringankan beban tunggakan SPP yang perlu Ibu bayar. Jumlahnya masih sangat besar, masih kurang Rp25.650.000,00. Saya tidak perlu membuktikan ke siapa-siapa, saya hanya perlu terus berkembang dan maju untuk orang-orang yang sudah percaya pada saya. Sekali lagi, apa pun yang terjadi pada hidup ini, semua tantangan, ujian, cobaan, pencapaian, Ibu tetap sosok yang paling kubanggakan dalam hidup. Yang perlu diyakini adalah “Everything will be okay in the end, if its not okay, then its not the end”.

Yogyakarta, 16 Mei 2024

Severinus Bhanu Adom Triyoga
Mahasiswa Program Studi Manajemen UAJY Angkatan 2020
Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-6

No Comments

Post a Comment

×

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA