KAMAJAYA Scholarship / Opini  / Opini: Kasih

Opini: Kasih

Terlahir sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara, merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri buat saya. Memang benar kata orang, bahwa anak bungsu lebih disayang daripada kakak-kakaknya. Lebih disayang, lebih spesial, dan lebih dimanja. Sebagai anak bungsu perempuan, sudah bukan rahasia umum lagi kalau anak bungsu perempuan akan selalu menjadi anak kesayangan ayahnya. Hal itu benar terjadi pada saya, saya sangat dekat dan dimanja oleh ayah saya.

Namun hal ini tidak selalu terjadi pada semua orang, tidak semua anak bungsu selalu dimanja dan penuh kasih sayang. Anehnya, hal ini juga terjadi pada saya. Bagaimana bisa? Semua hal-hal manis, rasanya dimanja dan diperhatikan oleh orang tua sudah saya rasakan, tapi perlahan saya mulai kehilangan akan kehangatan kasih sayang tersebut. Satu per satu orang pergi, termasuk ayah saya. Semenjak beliau pergi, saya sedih sekali. Saya kehilangan gairah, motivasi, bahkan saya tidak tahu mau berjalan ke arah mana. Dari awal yang saya sudah pernah merasakan segala sesuatu yang ingin saya lakukan mampu difasilitasi oleh keluarga saya, sekarang rasanya seperti segala fasilitas saya ditarik kembali. Saya sudah merasakan ketika perekonomian keluarga sempat jatuh, saya sempat semakin drop.

Menyadari realita yang semakin pahit, saya berusaha untuk mensyukuri dan memandang segala rintangan ini adalah suatu bentuk saya berproses menjadi lebih mandiri lagi. Tidak lupa setiap pesan dan segala ajaran etika moral yang pernah diajarkan ayah saya untuk tetap menjadi garam dan terang dunia. Hal ini memang benar, untuk terus mengasihi sesama walaupun pernah disakiti. Melalui Beasiswa KAMAJAYA ini, saya merasa teringankan secara finansial sehingga saya menjadi kembali fokus untuk menyelesaikan studi S1 saya.

Menurut saya pribadi, makna kasih sayang ialah bagaimana kita selalu memberi untuk sesama kita tanpa mengharapkan balasan. Dari pengalaman saya, setelah ayah pergi dan saya hilang arah, masih ada ibu saya. Hubungan saya dengan ibu saya memang tidak se-intens dengan ayah saya. Bahkan bisa dibilang kalau saya ini membangkang dengan ibu saya karena segala sesuatu tidak sesuai dengan kemauan ibu saya. Saya berusaha meyakinkan bahwa setiap keputusan yang saya ambil bukan semata-mata untuk kebahagiaan dan kepentingan saya sendiri, namun untuk perkembangan saya agar semakin mandiri dan tidak membebani ibu saya.

Perlahan tapi tak menentu, saya berusaha memperbaiki segala ketidaksesuaian yang ada. Itulah mengapa saya berpendapat bahwa tidak semua anak bungsu adalah anak kesayangan atau anak yang selalu dimanja oleh orang tua. Mungkin bahkan ada yang lebih dibawah saya akan hal ini, maka dari itu saya mensyukuri setiap keadaan saya. Di balik marahnya ibu saya, beliau selalu berdoa untuk saya, untuk setiap kesuliatan saya, pergumulan saya, kebahagiaan saya. Kadang saya sebagai anak masih bersikap egois, tidak memposisikan beratnya beban yang dipikul oleh ibu saya. Saya memberanikan diri untuk selalu keluar dari zona nyaman saya, dan berusaha untuk terus tahan banting agar dapat selalu ada dan selalu melindungi ibu saya yang semakin hari semakin menua.

Sebagai anak bungsu, bukan berarti saya harus selalu dimanja, tapi bagian terberatnya adalah bagaimana saya harus mandiri dan bertanggung jawab akan kehidupan keluarga saya nantinya. Karena keinginan saya saat ini adalah membahagiakan ibu, tidak ingin lagi membuatnya memikul apa yang seharusnya tidak ia pikul di masa tuanya.

Kasih sayang tidak harus selalu diwujudkan dalam bentuk materi. Dari hal kecil saja kita dapat merasakan kasih sayang dari orang di sekeliling kita. Misalkan dari ucapan selamat pagi, senyuman, segala sesuatu yang tidak dapat dibeli dengan uang. Hal-hal kecil ini selalu terjadi setiap hari, dari ibu yang selalu membangunkan setiap pagi untuk berangkat kuliah, membuatkan sarapan untuk anaknya hanya untuk memastikan anaknya tidak lelah dengan aktivitasnya nanti. Membawakan bekal makanan, dan tidak lupa selalu mendoakan saya setiap sebelum saya berangkat kuliah/beraktivitas. Terlihat seperti hal sepele, semua ini juga merupakan bentuk kasih sayang. Namun kadang, kita tidak menyadarinya.

Kasih itu memberi tanpa mengharap balas. Seperti lagu rohani yang dibawakan oleh Nikita Natashia, kasih itu pasti lemah lembut, kasih itu murah hati dan pasti memaafkan. Sama juga seperti Beasiswa KAMAJAYA yang selalu berbagi kasih untuk kami. Memfasilitasi dan men-support segala kebutuhan studi kami.

Yogyakarta, 14 Februari 2020

Hana Ariana
Penerima Beasiswa KAMAJAYA
Mahasiswa Program Studi Teknik Sipil UAJY, Angkatan 2016

No Comments

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA