KAMAJAYA Scholarship / Penerima Beasiswa  / Periode 2019/2020  / Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Claudiana Novita Penabur

Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Claudiana Novita Penabur

Claudiana Novita Penabur

Tanggal Lahir:
Kota Asal:
Studi:

8 November 1998

Ruteng, Flores, NTT

Fakultas Hukum Prodi Ilmu Hukum semester 5 (Oktober 2019)

Claudiana Novita Penabur

Mahasiswi Fakultas Hukum UAJY Prodi Ilmu Hukum

Cerita Nova

Nama lengkap saya Claudiana Novita Penabur. Biasa dipanggil Nova. Tapi, keluarga biasa memanggil saya Ova. Saya adalah anak sulung dari 3 bersaudara. Saya lahir dan dibesarkan di Ruteng, Flores, pada tanggal 8 November 1998. Sedikit cerita, mengapa nama panggil saya Nova bukan Novi. Karena kata Mama, nama Novi lebih dulu sudah dipakai oleh tante saya, adik sepupu dari Mama, sehingga saya diberi nama Nova. Lalu marga saya, mengikuti marga ayah saya. Keluarga kami beranggotakan 5 orang. Nama ayah saya Benediktus Penabur dan mama saya Melania Jaut. Saya punya dua orang adik, yaitu Paulus Van Dherssen Penabur yang sekarang duduk di kelas 2 SMA seminari dan Yuliana Marianty Penabur yang sekarang duduk di kelas 6 SD.

Kami sekeluarga berdomisili di Kota Ruteng, Kabupaten Manggarai, Kecamatan Langke Rembong, Flores, NTT. Saya memulai pendidikan saya di TKK St. Maria Fatima Cewonikit, kemudian di SD Inpres Dongang, lalu di SMP Negeri 1 Langke Rembong, dan terakhir di SMA Negeri 2 Langke Rembong. Saya memulai TK sampai mengakhiri SMA masih di Kota Ruteng. Saat TK dan SD, saya adalah murid yang otaknya benar-benar lamban. Lalu ketika saya SMP, kelemahan lama saya saat di SD terhadap Matematika tetap tidak berubah. Namun, berkat bantuan seorang teman, saya dapat masuk dalam 5 besar kelas saat kelas 8. Kemudian, ketika saya duduk di bangku SMA, Bahasa Jerman menjadi mata pelajaran favorit saya saat itu. Hingga ketika saya duduk di kelas 11 diutus ikut perlombaan Bahasa Jerman, tapi batal karena alasan sekolah tidak ada biaya. Sejak saya lahir sampai kelas 2 SD, kami menetap dan tinggal di Desa Lempe yang berada di Kota Ruteng. Sejak saya lahir, saya dirawat Nenek, karena Bapa dan Mama harus bekerja. Sejak lahir, saya tidak pernah meminum ASI dari Mama karena saya menolak. Mungkin karena saya terlahir prematur dengan berat hanya 9 ons, sehingga saya hanya bisa meminum susu formula yang mahal. Padahal saat itu, kehidupan ekonomi Bapa dan Mama tidak bisa dikatakan baik sampai harus meminjam beras dan uang pada tetangga. Saya dititipkan pada tetangga jika orang tua pergi bekerja. Bapa sebagai petani kebun dan Mama sebagai karyawan hotel. Lalu ketika saya duduk di kelas 2 SD, Bapa dan Mama memutuskan pindah rumah yang baru ke Desa Leda yang masih terletak di pinggir Kota Ruteng di bawah kaki gunung, karena rumah yang lama tidak mempunyai lahan yang cukup untuk Bapa memulai usaha berternak babi. Secara keseluruhan, tetangga kami baik juga simpatik dan rata-rata bekerja sebagai petani. Setiap bulan Mei dan Oktober, kami rajin mengikuti doa Rosario bersama. Daerah perumahan kami lingkungannya aman dan rukun. Kami sering dinasihati untuk menjadi anak yang baik dan itu memberi efek yang baik.

Sejak kepindahan kami, Bapa sesekali suka mabuk, berjudi, tidak sering ke gereja atau berdoa Rosario. Saya tidak suka dengan sifat keras dan kasar Bapa. Sedikit kesalahan kecil kami lakukan akan membuat Bapa marah dan tidak segan-segan memukul. Saya bahkan pernah ditendang sampai-sampai tidak bisa berjalan. Dipukul dan dibentak menjadi hal yang menakutkan jika mengingat sosok Bapa. Namun seiring berjalannya waktu, hal tersebut sekarang tidak pernah terjadi lagi. Sedangkan Mama kebalikan dari sifat Bapa. Mama adalah wanita yang lembut dan penyayang. Kehidupan keluarga kami dengan tetangga sangat terjaga kerukunannya. Baik ketika di rumah yang lama dan di rumah yang baru. Hingga saat ini, kami sering mengunjungi tetangga lama kami. Kami juga sering berbaur bersama tetangga baru kami di setiap kegiatan kompleks perumahan kami.

Sejak awal, kehidupan keluarga kami tidak bisa dikatakan baik. Bapa dan Mama hanya tamatan SMA, mereka yang berasal dari kampung datang ke Kota Ruteng untuk bersekolah. Hasil kebun dan ternak Bapa yang musiman tidak bisa kami harapkan karena hasilnya yang kurang memuaskan. Kami sering kecewa karena bibit babi yang kami harapkan tidak berhasil karena mati atau terkena penyakit. Tapi kami hanya bisa pasrah, tidak berhenti berusaha dan selalu berdoa. Dari beternak babi, sedikit banyaknya sangat membantu untuk memenuhi kebutuhan keluarga kami, seperti untuk uang sekolah, kebutuhan rumah, dan lain-lain. Pernah Bapa beternak babi sampai 14 ekor. Hasil dari beternak babi, sedikit demi sedikit Bapa dan Mama membuat rumah yang awalnya berdinding papan dan sering kemasukan air diganti dengan rumah berdinding bata. Tapi semenjak Bapa sering mengeluh sakit asam urat dan sakit pinggang, kami hanya dapat berternak babi 2 ekor karena mencari makan untuk ternak babi juga sangat susah dan membersihkan kandang juga harus setiap hari. Semua usaha Bapa dan Mama sekarang ini masih dijalankan secara perlahan-lahan. Berharap Tuhan akan memberikan rezeki yang melimpah untuk keluarga kami. Kekuatan saya adalah rasa semangat yang selalu muncul untuk memulai hal baru.

Saya adalah anak yang dengan kemampuan akademis rata-rata. Tapi saya tetap berjuang untuk dapat meningkatkan prestasi dengan seluruh kemampuan saya, tidak perduli betapa sulit dan susahnya itu. Saya kesulitan saat mengikuti suatu organisasi karena harus mengeluarkan banyak uang untuk pengumpulan dana dari kegiatan yang kami buat. Padahal, keadaan keuangan Bapa dan Mama saat ini benar-benar dikatakan tidak baik. Untuk menghindar atau mundur pun saya tidak bisa karena sudah terikat aturan dalam organisasi. Saya benar-benar bingung untuk semua persoalan yang saya hadapi saat ini. Terkadang, kemampuan otak saya bisa menjadi lamban dan hal itu membuat saya sulit memahami penjelasan yang dipaparkan dosen saat berada di dalam kelas. Untuk bertanya pun saya merasa grogi dan tidak percaya diri. Sehingga saya hanya bisa bertanya pada teman untuk menjelaskannya. Saat mengerjakan tugas pun saya kesulitan, apalagi jika harus diketik. Saya kesusahan untuk mengerjakannya karena tidak mempunyai laptop. Beruntung ada handphone yang bisa sedikit membantu mengatasi hal tersebut, meskipun saya sangat membutuhkan laptop untuk tugas yang lebih besar nantinya. Saya ingin mengutarakan keinginan saya untuk mempunyai laptop pada Bapa dan Mama. Namun, saya tidak tega untuk lebih memberatkan pikiran Bapa dan Mama saat ini yang sedang benar-benar kesusahan mencari rezeki dan saya hanya bisa bertahan, sabar, juga berdoa kepada Tuhan agar diberikan jalan keluarnya.

Ketika saya bertemu jalan buntu dalam persoalan hidup saya, saya selalu meminta pertolongan pada Tuhan agar diberikan kekuatan menjalaninya. Tidak hanya meminta ini dan itu, tetapi juga tak lupa berterima kasih dan selalu bersyukur atas apa yang Tuhan berikan kepada saya. Benar-benar mengandalkan Tuhan untuk menyertai dan membimbing langkah hidup saya. Setiap hari Minggu, saya akan ikut melaksanakan perayaan ekaristi di gereja. Saya beruntung karena gereja yang letaknya tidak jauh dari kost tempat saya tinggal yaitu di daerah Pringwulung, cukup dengan berjalan kaki ke gereja dan saya pasti tidak akan melewatkan hari Minggu dengan sia-sia. Sesekali juga saya akan mengikuti misa pagi jika tidak ada kuliah pagi. Tapi sekarang ini, saya tidak mengikuti misa pagi karena takut terjadi hal buruk di jalan. Apalagi saya hanya seorang diri.

Saya mempunyai teman-teman yang seru dan baik. Mereka selalu hadir dengan tawa dan canda jika saya merasa sedih. Kami juga selalu saling bertukar cerita juga pikiran dalam membahas seputar kuliah atau kampus dan berbagi informasi penting yang harus diketahui. Sejak mengenal mereka, pikiran saya lebih terbuka karena kami sering saling berdiskusi untuk membahas banyak hal. Saya merasa beruntung berteman dengan mereka karena mereka bisa membantu saya jika saya mengalami kesulitan dalam pelajaran dan mereka dengan senang hati membantu.

Akhir-akhir ini, kondisi keuangan keluarga semakin memburuk. Usaha Bapa dan Mama saat ini belum memberi hasil. Ternak babi kami juga sedang dalam masalah karena terkena penyakit. Tentunya membutuhkan uang untuk pengobatan ternak babi kami. Bapa dan Mama kebingungan untuk mencari solusinya begitu pun saya. Ditambah saat ini, saya banyak mengikuti kegiatan kampus yang mengharuskan saya mengeluarkan uang untuk kegiatan tersebut. Sampai-sampai, saya harus memotong uang makan dan belanja saya. Sementara orang tua saya hanya mengirimkan uang Rp 100.000,00 per minggu dan uang tersebut lebih banyak dipakai untuk kegiatan kampus seperti mengikuti seminar, kepanitiaan, bakti sosial, dan lain-lain. Itupun masih tidak cukup. Bapa dan Mama harus membayar segala keperluan rumah dan sekolah kami. Adik laki-laki saya yang bersekolah di seminari juga membutuhkan uang yang banyak untuk sekolahnya. Begitu pun adik saya yang sebentar lagi akan memasuki SMP, pasti membutuhkan biaya banyak.

Sempat terlintas di pikiran saya untuk bekerja paruh waktu, tapi tidak memungkinkan karena bertabrakan dengan jadwal kuliah. Mama juga sempat mengatakan mungkin untuk semester berikutnya saya harus berhenti kuliah. Mendengar Mama mengatakan hal itu membuat saya benar-benar sedih. Apalagi sekarang, Bapa semakin sering mengeluh sakit-sakitan. Sebeginikah kenyataannya? Ingin melakukan sesuatu tapi tidak
tahu harus melakukan apa. Hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar diberikan jalan keluar dan
menjalaninya dengan kesabaran dan semangat yang tidak pernah putus.

Saya ingin orang tua saya bahagia dengan melihat saya berhasil. Saya ingin bekerja di salah satu firma hukum yang terkenal atau di kantor diplomat luar negeri atau di kantor ASEAN. Saya ingin mendapat kesempatan dan pengalaman bekerja di luar negeri, lalu kembali ke tanah air untuk turut memajukan bangsa Indonesia dengan bekal ilmu dan pengalaman yang saya punya. Sejauh ini, hanya tekat dan keberanian yang saya miliki, serta semangat untuk tetap berjuang mencari ilmu sebanyak-banyaknya.

Ketika saya mendapat Beasiswa KAMAJAYA, ini merupakan jawaban dari doa yang terus kami panjatkan. Betapa bahagianya Bapa dan Mama mendengar berita ini. Saya berharap, teman-teman yang lain bisa mendapatkan apa yang seperti saya dapatkan untuk membantu biaya kuliah tanpa memberatkan orang tua.

1 Comment

  • Y. Bara

    Reply 25 February 2020 13:04

    Sharing yang menarik dari Ova membuat saya sebagai orang muda menjadi bersemangat untuk tetap berusaha. Karena ketika sudah ada jalan sekalipun, kalau tidak diusahakan ya tetap tidak akan terbuka dan didapatkan.

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA