KAMAJAYA Scholarship / Kisah/Kesaksian/Testimoni  / Pejah Gesang Nderek Gusti

Pejah Gesang Nderek Gusti

Perkenalkan, saya Dony Enggal Pamungkas, mahasiswa penerima beasiswa KAMAJAYA Scholarship angkatan kedua. Saya akan berbagi cerita mengenai jalan hidup saya dari awal masuk perkuliahan hingga dapat melaksanakan wisuda tanggal 29 Februari 2020 yang lalu.

Saat kelas 3 SMA menjelang datangnya Ujian Nasional, banyak teman-teman saya yang sudah merencanakan untuk melanjutkan kuliah di perguruan tinggi swasta. Saya yang sadar akan keterbatasan orang tua saya hanya mampu melihat dan berusaha untuk bisa masuk perguruan tinggi negeri. Namun, nasib berkata lain. Di saat teman-teman saya sudah mendapatkan perguruan tinggi untuk melanjutkan studi, saya masih bingung mau apa? Akhirnya karena pilihan orang tua, saya melanjutkan studi di salah satu perguruan tinggi swasta dengan jenjang D3.

Selama masa studi saya ini, sebenarnya saya merasa, “Untuk apa sekolah kalau bukan keinginan saya di sini?” Namun, saya hanya mengikuti keinginan orang tua yang takut apabila saya hanya berijazah SMA. Hari demi hari terlewati, saya mulai nyaman dengan keterpaksaan ini. Hingga suatu saat, orang tua saya menawarkan untuk pindah ke Universitas Atma Jaya Yogyakarta, namun dengan perjanjian untuk pembayaran kuliah ditanggung bersama. Saya menyanggupinya dan memutuskan untuk keluar dari perguruan tinggi tersebut, lalu saya bekerja sebagai marketing motor selama 5 bulan.

Saya akhirnya mendaftar di Universitas Atma Jaya Yogyakarta dan mengambil jurusan Teknik Sipil. Dalam proses masuk ke Universitas Atma Jaya Yogyakarta, tentunya tidak mudah bagi saya. Satu orang yang sangat berjasa bagi saya yaitu rama KACM saat itu, Alm. Rama Tri Wahyu yang membantu meringankan beban saya dengan mengajukan perpanjangan pembayaran uang masuk. Hari demi hari saya lewati dengan sangat senang berkuliah di jurusan yang saya inginkan. Saya juga masih sering menjadi makelar motor untuk memenuhi kebutuhan kuliah saya.

Pada tahun 2017 tepatnya bulan April, saya bekerja sebagai driver Gojek. Saat awal-awal menjadi driver GoJek, kuliah saya berantakan, IP saya turun drastis. Sesudah itu, saya berkomitmen untuk memprioritaskan kuliah saya daripada pekerjaan saya. Saya hanya narik di waktu luang, biasanya itu hari Jumat, Sabtu, dan Minggu dengan penghasilan yang boleh dibilang sangat besar bagi seorang mahasiswa saat itu. Setelah komitmen saya jalani, IP saya mulai naik sedikit demi sedikit.

Pada tahun 2018, krisis ekonomi melanda usaha ibu saya. Ibu saya memiliki usaha berjualan jajan pasar berupa lopis, cenil, dan ketan hitam. Bahan dasar utama dalam usaha ini adalah beras ketan. Pada awal tahun 2018, harga beras ketan melonjak bukan main, yang biasanya 1 karung Rp 300.000,00 naik hingga Rp 500.000,00. Ibu saya mengalami penurunan pendapatan, dan hal ini berlangsung dari awal tahun hingga hampir memasuki bulan puasa. Hal ini membuat ibu saya pusing bukan main di saat masih harus menanggung perkuliahan saya. Hasil dari pendapatan saya dari Gojek saat itu sering saya berikan kepada ibu saya untuk membayar pegawainya hingga ada pikiran di benak saya, “Apa ini akan membuat saya berhenti kuliah?”

Hingga akhirnya, ada kesempatan mendapatkan beasiswa dari KAMAJAYA Scholarship dan saya mendaftarkan diri. Sempat terpikir apakah saya bisa mendapat beasiswa ini? Saya hanya berdoa dan berusaha, Tuhan yang menentukan. Saat pengumuman siapa saja yang mendapatkan beasiswa, Puji Syukur kepada Tuhan karena saya menjadi salah satu penerima Beasiswa KAMAJAYA angkatan kedua.

Saya menjadi penerima Beasiswa KAMAJAYA mulai pada semester 5 tahun 2018. Saya menemukan banyak pribadi yang juga berusaha dengan keras agar mampu melalui dan menyelesaikan kuliahnya. Kami sempat mengadakan Makrab pada November 2018. Di sana, kami berbagi cerita bagaimana asal usul kami dan mengapa kami berjuang untuk mendapatkan beasiswa ini. Saya banyak belajar dari pengalaman penerima beasiswa lainnya karena perjuangan yang sudah mereka lalui, saya bersyukur bisa mendapatkan kesempatan ini dan kehidupan saya mulai membaik.

Seakan tak pernah berhenti kasih dan ujian-Nya, pada tahun 2019 awal, saya baru mengetahui bahwa saat saya masuk di Universitas Atma Jaya Yogyakarta pada tahun 2016, ibu saya meminjam uang yang tidak sedikit. Di sini saya sempat marah dan mengatakan kalau tidak punya dana lebih baik saat itu tidak usah dipaksakan. Hampir setiap 3 minggu sekali saya harus mengeluarkan banyak uang untuk membayar hutang ibu saya. Syukur kepada Tuhan. Karena penyertaan-Nya, hingga saya mampu melunasi hutang ibu saya. Namun, tidak hanya sampai di situ saja. Ibu saya ternyata juga menggadaikan BPKB motor saya. Hingga akhirnya, motor saya diambil pihak leasing pada tahun 2019 karena ibu saya tidak mampu membayar hutang pada leasing ini. Tentunya saya marah dan drop, motor yang saya gunakan untuk mencari uang harus disita. Hal ini terjadi 10 hari sebelum saya berangkat KKN, saya hanya bisa mengikhlaskannya.

Dalam perjalanan KKN saya di Ketapang, Kalimatan Barat, yang bekerja sama dengan Keuskupan Ketapang, saya belajar banyak hal. Satu hal terpenting yang saya dapatkan adalah bersyukur lebih baik daripada menikmati. Saya merasakan menjadi warga Tanjung Jelai Hulu, salah satu kecamatan di Ketapang dengan aliran listrik yang hanya tersedia jam 5 sore – 6 pagi. Tidak ada jalan aspal dan jarak sekolah yang jauh. Saya belajar bagaimana masyarakat di sana bisa bersyukur dengan keadaan seperti itu, kenapa saya tidak? Dengan segala ketersediaan fasilitas di Jawa? Setelah menyelesaikan KKN dan pulang ke Jawa, saya merasa berbeda. Penyertaan-Nya memang dahsyat dan ajaib. Saya mulai bersyukur dengan apa yang ada, saya berusaha dan menyerahkan semua kepada Tuhan.

Pada semester 7 tahun 2019 kemarin, saya sudah berkesempatan mengambil skripsi dan tentunya tidak akan saya sia-siakan kesempatan tersebut. Proses pengerjaan skripsi tersebut tidak mudah dan melelahkan, menghabiskan banyak biaya dan dana. Proses saya lalui dengan sabar dan semangat meskipun terkadang ada pada kondisi bosan, namun saya tetap komitmen kuliah nomor 1. Hingga akhirnya, saya melalui ujian pendadaran pada 10 Januari 2020, dan berhasil diwisuda pada 29 Februari 2020. Selama masa skripsi hingga wisuda, saya berdoa kepada Tuhan untuk memberikan pekerjaan pada saya sebelum saya lulus. Saya mengikuti tes di berbagai perusahaan agar saya bisa mendapatkan pekerjaan di saat status saya sudah sarjana. Jalan Tuhan memang dahsyat. Pada saat hari wisuda, saya dihubungi oleh salah satu alumni Teknik Sipil Universitas Atma Jaya Yogyakarta untuk ikut bekerja dengannya, tentunya kesempatan ini tidak saya sia-siakan. Tepat pada 9 Maret 2020, saya berangkat untuk mulai bekerja di Batam.

Jalan yang saya lalui memang berat, namun pasti ada orang lain yang memiliki pergumulan hidup lebih berat dari yang saya lalui. Prinsip hidup saya adalah melakukan apa yang bisa saya lakukan biar hasilnya Tuhan yang menentukan.

Dony Enggal Pamungkas
Penerima Beasiswa KAMAJAYA
Alumni Teknik Sipil UAJY Angkatan 2017

No Comments

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA