Life Must Go On

Sebelum adanya pandemi ini saya sudah berjanji kepada diri saya sendiri, keluarga, dan dosen pembimbing konseling untuk menyelesaikan skripsi saya dalam waktu satu semester. Puji Tuhan atas berkat dan penyertaan-Nya, atas doa bapak ibu dan teman-teman semua, saya dapat menyelesaikan tugas akhir saya dalam waktu satu semester dan mendapatkan nilai yang memuaskan.

Di waktu awal pandemi pada bulan Maret 2020, saya merasa resah dan berpikir tidak dapat mencapai janji yang pernah saya buat sebelum adanya pandemi ini. Apakah saya dapat menyelesaikan skripsi dalam satu semester, itulah yang ada pada benak saya selama dua bulan ketika virus corona menyerang Indonesia dan semua masyarakat Indonesia dilarang bepergian ke luar rumah dan akses ke kampus pun semua ditutup untuk menjaga keselamatan mahasiswa, dosen dan staff Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Ketika awal pandemi, jujur saya kehilangan motivasi dan semangat untuk mengerjakan skripsi. Sempat satu bulan saya tidak menyentuh skripsi dan hanya membagikan kuisioner untuk mencari data dengan cara menghubungi satu per satu teman saya untuk membantu mengisi kuisioner. Kemudian, dilangsungkan bimbingan secara online via ZOOM. Memang skripsi saya ada sedikit kemajuan saat itu, tetapi saya sendiri merasa kurang puas dengan kemajuan yang saya sudah kerjakan. Pada saat itu, ada teman saya yang meminta bantuan untuk merevisi bab 5 skripsinya. Begitu saya mendengar teman saya sudah hampir selesai, seketika hati saya tergerak lagi untuk mengerjakan skripsi lagi, mengejar ujian pendadaran bulan Juni 2020 dan mendaftar ujian pada bulan Mei 2020.

Pada akhir bulan April 2020, bisa dibilang saya melunasi hutang saya, karena satu bulan kemarin saya menunda skripsi. Setiap hari tidak pernah absen, dari bangun tidur hingga kembali tidur lagi saya mengerjakan skripsi 24 jam, saya berada di depan laptop seharian, membaca dengan cermat untuk memahami isi jurnal, mempelajari alat analisis yang baru, menginterpretasikan hasil analisis, dan memahami bagaimana suatu hipotesis dapat diterima atau ditolak.

Menjelang tanggal pendaftaran ujian pun sebenarnya skripsi saya masih belum sempurna, saya merasa masih ada beberapa yang mengganjal. Sehingga tiba pada saatnya hari terakhir untuk mendaftar ujian pendadaran pada tanggal 18 Mei 2020, tidak luput dari beberapa tragedi, banyak syarat-syarat yang masih belum saya kumpulkan. Tetapi Puji Tuhan pada hari terakhir pendaftaran, saya masih bisa mendaftar sidang untuk maju ujian pada bulan Juni 2020.

Pada tanggal 9 Juni 2020, saya maju ujian pendadaran dengan dosen pembimbing saya Pak Budi Suprapto, dosen penguji saya Ibu Shelly dan Ibu Nadia. Meskipun pendadarannya dilaksanakan secara online melalui Microsoft Teams selama 30 menit, waktu pendadaran cukup membuat saya menjadi sangat tegang dan deg-degan. Puji Tuhan saya bisa lulus sidang dan mendapatkan nilai yang memuaskan dan saya dapat mengikuti yudisium pada bulan Juni 2020.

Terima kasih atas dukungan dan doa dari orang tua saya, teman-teman sesama Penerima Beasiswa KAMAJAYA dan terutama untuk bapak/ibu donatur KAMAJAYA Scholarship yang telah membantu dan mengantar saya hingga ke titik ini. Semoga Tuhan membalas kebaikan Bapak/Ibu.

Tasikmalaya, 28 Juni 2020
Cynthia Dewi Tjoa
Penerima Beasiswa KAMAJAYA
Mahasiswa Program Studi Manajemen UAJY Angkatan 2016

No Comments

Post a Comment

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA