KAMAJAYA Scholarship / Penerima Beasiswa  / Periode 2020/2021  / Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Agnes Diah Puspitasari

Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Agnes Diah Puspitasari

Agnes Diah Puspitasari

Tanggal Lahir:
Kota Asal:
Studi:

26 Oktober 1998

Kediri

Fakultas Teknologi Industri Prodi Teknik Industri semester 7 (Agustus 2020)

Agnes Diah Puspitasari

Mahasiswi Fakultas Teknologi Industri UAJY Prodi Teknik Industri

Saya Telah Ditolong, maka Saya Juga Harus Menolong yang Lain

Perkenalkan nama saya Agnes Diah Puspitasari yang biasa dipanggil Agnes. Opung saya yang memberikan nama yang amat indah itu untuk saya. Beliau menyampaikan apa maksud dari nama saya yaitu Agnes yang berarti indah, baik, bersih dan nama salah satu nama santa yaitu Santa Agnes. Diah yang berarti naga, konon kata Opung dan Puspitasari yang berarti bunga. Saya lahir di Kediri, 26 Oktober 1998 pada saat ini saya berusia 21 tahun. Saya memiliki seorang kakak kandung perempuan yang berjarak 2 tahun di atas saya. Saat ini, Kakak telah bekerja sebagai seorang perawat. Mama bekerja sebagai teller bank dan Papa seorang driver. Pada Agustus 2021, Papa akan pensiun dari pekerjaanya karena kontrak kerjanya telah habis. Salah satu alasan saya harus lekas selesai karena jika semakin lama saya kuliah maka biaya yang harus dikeluarkan semakin banyak. Namun jauh sebelum Papa pensiun ini, keadaan ekonomi keluarga kami telah berubah begitu cepat.

Promosi Kelompok Studi Ergonomika kepada Mahasiswa Baru 2018.

Awalnya, Papa mendapatkan gaji yang lebih dari lembur yang beliau lakukan, seperti mengantar atasannya dan karyawan lain hingga larut malam. Namun karena tempat kerja Papa mengalami perampingan mulai dari kantor cabang hingga karyawan, semua keadaan yang awalnya kami yakin bisa untuk lalui, berubah seketika. Sedangkan gaji yang didapatkan Mama sebagai seorang teller bank hanya cukup untuk menutupi cicilan yang dia pinjam karena harus mencukupi kebutuhan kami hidup dan kuliah anak-anaknya.

Jika dihitung-hitung lagi, lembur tersebut sangat menolong keluarga kami. Padahal, Papa harus membiayai saya (semester 3 kuliah) dan kakak (semester 7 kuliah), membayar kost saya, kost Papa sendiri dan kost Mama. Papa tinggal di Jakarta, Mama di Surabaya, dan saya di Yogyakarta. Belum lagi Mama yang mulai sering sakit dan harus keluar masuk rumah sakit, karena vertigo yang dideritanya yang kadang tidak dapat diketahui kapan datangnya.

Semester 3 adalah semester terberat dalam hidup saya. Saya sempat mengalami kecelakaan saat pulang dari kampus. Pada saat itu, hujan sangat deras dan ternyata Yoyakarta sedang diterpa badai besar. Kecelakaan itu menyebabkan buku perpustakaan dan buku kuliah saya yang lain hanyut terlempar ke sungai karena kecelakan itu. Setibanya di kost, Mama memberikan pesan pada saya, beliau mengatakan bahwa saya harus menerima segala keadaan yang mungkin terjadi, yaitu berhenti kuliah. Pada saat itu jujur saya bingung, takut dan tidak tahu harus bagaimana lagi dengan hidup saya. Padahal, semester itu kuliah sedang sibuk-sibuknya. Saya jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit selama satu minggu. Saat itu, Mama juga sering sakit. Bahkan, saya sering pulang dengan meminjam uang kepada teman untuk pulang merawat Mama di rumah sakit karena terkena gejala stroke. Saya harus memandikan Mama dan membuat suasana menjadi nyaman. Meskipun saya sendiri lelah dan capek karena Mama yang kadang meminta ini itu tanpa kenal waktu. Masalah yang lain adalah Papa saya sempat tidak ada kabar dan ingin mengakhiri hidupnya. Mama sempat mengirimkan bukti perkataan Papa yang demikian. Benar-benar tahun yang sangat berat bagi saya.

Lelah saya ternyata dapat diukur dengan angka, yaitu IPK saya terjun bebas pada semester 3 karena kondisi keluarga yang sangat tidak baik. Namun saya tetap kekeh, saya harus kuliah bagaimanapun keadaan saya. Awalnya, saya pesimis apakah saya dapat mendaftar beasiswa jika ada riwayat IPK saya yang turun jauh kemarin. Saya masih memiliki tanggungan uang kuliah serta denda perpustakaan untuk buku yang hilang dan tunggakan yang belum terbayar pada semester-semester sebelumnya. Tanggungan tersebut terjadi karena saya selalu mencicil uang kuliah agar bisa lanjut perkuliahan saya. Sampai pada akhirnya, saya tidak dapat mengajukan surat permohonan untuk mencicil lagi. Saya benar-benar bingung pada saat itu. Saya sendiri di Yogyakarta tidak ada saudara dan hanya ada teman-teman saya.

Foto kegiatan ERGOCAMP 2018 oleh UGM.

Saya sangat ingat kejadian itu, saya harus bolak-balik ke kampus 2 untuk mengajukan surat permohonan pengajuan cicilan. Namun ditolak dan sampai pada seorang staff kantor keuangan yang menyampaikan kepada saya untuk menunggu hingga batas waktu maksimal pembayaran SPP Tetap. Karena saat itu, saya hanya mempunyai uang sebesar Rp 500.000 dari Rp 2.500.000 SPP Tetap yang harus saya bayar. Saat itu, sebenarnya saya telah mendaftar beasiswa SPP Tetap dari kampus, namun pengumuman datang setelah batas waktu pembayaran SPP Tetap sehingga saya harus membayar terlebih dahulu. Jika diterima, baru uang akan dikembalikan. Lantas saya pulang dan menangis di kost, saya ketakutan luar biasa. Yang dapat saya lakukan pada saat itu adalah berdoa. Saya berserah seutuhnya ke dalam tangan Tuhan Yesus, kalau memang saya harus berhenti saya ikhlas meskipun sakit.

Hingga pada akhirnya, saya dihubungi oleh seorang sahabat yang menolong saya untuk mendaftar Beasiswa KAMAJAYA. Awalnya, saya pesimis masuk karena tahun sebelumnya saya telah mendaftar namun tidak masuk tanpa saya tahu apa alasannya. Namun, saya lagi-lagi membawa semua keadaan dan langkah saya ke dalam nama Tuhan Yesus. Apa pun yang terjadi, jadilah Kehendak-Mu Bapa.

Segala persyaratan saya lakukan dan penuhi. Pembukaan pendaftaran memang dibuka sangat lama. Namun, saya terbiasa memenuhi segala persyaratan secepat mungkin. Saya takut jika saya melakukannya terlalu mepet, pasti hal yang tidak diinginkan akan terjadi. Hanya berjarak 1 minggu setelah pembukaan pendaftaran saya telah dinyatakan lengkap secara administrasi.

Pengumuman demi pengumuman mulai dari seleksi administrasi dan wawancara telah saya lakukan. Puji Tuhan Yesus, saya selalu masuk pada setiap pengumuman tersebut. Saya benar-benar berharap mendapatkan beasiswa ini.

Puji Tuhan, doa saya dikabulkan dan saya menjadi Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-4. Nenek dan Kakek lantas mengajak saya untuk berdoa dan memanjatkan syukur karena segala usaha dan harapan telah dikabulkan. Setidaknya saya dapat lebih fokus dalam kuliah.

Setelah masuk, tidak lantas membuat saya hanya sebatas menjadi penerima saja, namun saya telah memiliki komitmen bahwa saya harus membantu siapapun terutama teman-teman di dalam KAMAJAYA Scholarship jika saya mampu dan harus meningkatkan prestasi di kuliah.

Selama kuliah saya dapat menjadi asisten dosen mulai dari Semeser 4, 5, dan 6 ini. Saya menjadi asisten dosen untuk mata kuliah Ergonomika, Pengantar Rekayasa dan Desain, dan Perancangan Sistem Terpadu 1. Dari honorarium asisten dosen, saya dapat mencicil kekurangan saya dan mama, meskipun sedikit. Kegiatan lain yang saya lakukan adalah menjadi Ketua Kelompok Studi Ergonomika tahun 2018. Dengan kelompok studi tersebut, terdapat prestasi yang dapat disumbangkan ke kampus.

Saya sangat berharap dapat melihat keadaan sekitar saya dan menolong yang membutuhkan bantuan seperti yang diajarkan oleh Beasiswa KAMAJAYA ini. Saya telah ditolong maka saya juga harus menolong yang lain. Hidup telalu singkat untuk kita habiskan dengan hal-hal kurang berguna dan ingin memperkaya diri sendiri. Alangkah lebih baik jika dapat membantu orang lain semampu kita tanpa mengharap lebih.

Semoga keadaan akan semakin membaik dan Tuhan Yesus selalu memberkati setiap kita yang hidup saat ini.

No Comments

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA