KAMAJAYA Scholarship / Penerima Beasiswa  / Periode 2020/2021  / Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Yovita Erlinda Setiawan

Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Yovita Erlinda Setiawan

Yovita Erlinda Setiawan

Tanggal Lahir:
Kota Asal:
Studi:

9 Juni 1996

Gombong

Fakultas Teknologi Industri Prodi Sistem Informasi semester 9 (Agustus 2020)

Yovita Erlinda Setiawan

Mahasiswi Fakultas Teknologi Industri UAJY Prodi Sistem Informasi

Banyak Hobi tapi Hanya Punya Sedikit Teman

Yovita menjadi model online shop (tas dan baju).

Nama saya Yovita Erlinda Setiawan, umur saya saat ini 25 tahun. Saat ini, saya baru saja menyandang status sebagai anak piatu. Saya berasal dan lahir dari daerah Ngapak, tepatnya di kota Gombong Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Selain menanyakan nama, yang selalu orang lain tanyakan kepada saya saat pertama kali berkenalan adalah tentang asal daerah saya. Saya besar di keluarga yang notabene didikan Tionghoa atau Chinese karena saya merupakan keturunan Chinese.

Dari kecil sampai beranjak remaja, saya diajarkan untuk berdagang dan berjualan. Hal itu membuat saya tidak malas bekerja hingga saat ini. Saya beragama Katolik dan sudah dibaptis dari lahir oleh kedua orang tua saya. Saya merupakan dua bersaudara, adik saya perempuan. Nama adik saya adalah Rafaela Ervina Setiawan. Perbedaan umur kami hanya satu tahun, tetapi yang membuat unik adalah perbedaan jarak waktu sekolah, adik saya baru memulai sekolah tiga tahun setelah saya.

Salah satu hasil desain Yovita.

Saya mempunyai hobi yang cukup banyak, yaitu fotografi, desain grafis, menjadi barista, dan bermain basket. Saya seharusnya memiliki banyak teman karena hobi saya banyak. Tetapi, dari dulu saya hanya memiliki teman yang sangat sedikit karena kesibukan saya yang diwajibkan oleh kedua orang tua saya. Kesibukan itu membuat saya tidak dapat bermain. Sudah besar pun saat ini saja, jika saya pergi hingga sore pasti tetap dimarahi.

Saya sangat menyukai dunia multimedia atau apa pun yang berhubungan dengan teknologi, karena menurut saya itu sangatlah keren. Dari kecil, saya memang sudah menyukai komputer. Awal mula saya menyukai komputer yaitu karena adanya warnet. Karena itu, saya bisa mengenal berbagai macam teknologi hingga saat ini. Itulah kenapa saya memilih jurusan kuliah saya saat ini yaitu Sistem Informasi. Saya memilih jurusan tersebut karena sesuai untuk saya. Ada pepatah yang sering saya dengar “lakukan pekerjaanmu sesuai dengan apa yang kamu suka, itu akan membuat lebih berhasil”. Dengan pemikiran seperti itu, saya bersemangat untuk menjalani pendidikan di Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Hasil karya fotografi Yovita.

Saat awal perkuliahan, saya mengalami cukup banyak permasalahan. Mulai dari permasalahan keluarga saya, permasalahan itu membuat saya mengalami naik turun dalam kuliah saya. Keluarga saya jatuh bangun dalam kebangkrutan berulang kali, apalagi ketika saat keluarga saya harus membangun mulai dari nol lagi. Pada tahun 2017 awal setelah satu tahun saya kuliah, ibu saya divonis menderita kanker usus stadium 4 yang membuat kami sekeluarga cukup syok. Berbagai macam pemeriksaan dijalani oleh ibu saya. Pemeriksaan itu cukup mengeluarkan banyak biaya karena tidak seluruh biaya ditanggung oleh BPJS. Kami sekeluarga cukup lelah dari segi tenaga dan finansial karena ibu saya harus menjalani pengobatan di kota yang berbeda dan saya harus mengantar-jemput. Kondisi itu yang membuat saya terpaksa harus bolos kuliah. Pada saat itu, ibu saya diberikan vonis hanya memiliki umur 6 bulan, yang membuat kami sekeluarga bertekad untuk merawat dan memaksimalkan waktu kami untuk beliau.

Belajar bisnis kopi.

Kejadian seperti itu membuat adik saya yang tadinya tidak ingin kuliah menjadi mempunyai harapan. “Saya ingin menjadi perawat, dan menyembuhkan ibu saya,” begitu katanya. Tapi, Tuhan berkata lain. Setelah berjuang selama 3 tahun, pada tanggal 3 Agustus 2020 yang lalu, ibu saya akhirnya dimerdekakan dari rasa sakitnya. Ibu saya berpulang ke rumah Bapa yang ada di surga.

Belajar menjadi Barista.

Satu minggu sebelumnya, 27 Juli 2020, nenek saya yang saya rawat dan tinggal dengan saya dari kecil juga berpulang kepada Bapa di surga. Jadi, ketika hari di mana nenek saya meninggal, pada saat itu ibu saya kritis dan koma. Saya dan sekeluarga harus menghadapi cobaan ini. Kami kehabisan tenaga mengurus pemakaman nenek saya, di mana pada saat yang bersamaan juga saya harus menjaga ibu saya di rumah sakit yang berbeda. Dan yang membuat saya cukup sedih, saya belum bisa membahagiakan ibu saya secara maksimal. Saya hanya bisa membalas, mengurus kematian ibu saya hingga ke pemakaman oleh diri saya sendiri. Hanya itu yang bisa saya lakukan untuk ibu saya terakhir kali. Semenjak ibu saya meninggal sampai saat ini, ayah saya tidak mau bekerja bahkan sekalipun hanya membereskan rumah. Hingga saat ini, kegiatan saya berjualan di pasar dan membereskan seluruh isi rumah menggantikan peran ayah saya sebagai tulang punggung keluarga. Terlebih lagi mengurus mengenang tujuh, empat belas hari, empat puluh hari, dan seterusnya yang diurus oleh saya sendiri.

Sekarang, saya harus menjadi pengganti ibu saya untuk adik saya. Saat ini, saya ingin menemani ayah saya di kota kecil ini. Sehari-hari saya hingga tidak ada waktu bermain karena selama seharian saya harus bekerja dan membereskan rumah. Saya harus tetap melanjutkan hidup untuk keluarga saya. Saya memahami ayah saya kehilangan ibu kandung dan istrinya dalam waktu seminggu. Semangat saya saat ini adalah saya harus tetap berhasil dan menunjukkan niat saya untuk menjadi sukses untuk ibu saya yang sudah berada di surga. Saya bercita-cita mempunyai bisnis sendiri, dengan harapan saya bekerja bisa mempunyai banyak waktu luang untuk keluarga.

Kopi yang dibuat Yovita.

Saat ini jika di waktu senggang, cara menghilangkan rasa stres saya adalah dengan datang ke salah satu kedai kopi tradisional di kota saya untuk belajar mengenai kopi. Saya sangat tertarik dengan dunia kopi. Dengan kopi tersebut, bisa menghasilkan uang dan relasi yang cukup banyak dan luas. Selain belajar mengenai kopi, dunia kopi, juga bisnis kopi, saya juga belajar tentang Food & Beverages dari orang-orang yang harus pulang ke kota kecil ini karena di-PHK. Saya banyak belajar mengenai dunia bisnis perkulineran saat ini dan bagaimana bisa survive dari masalah perekonomian di pandemi saat ini. Selain itu, saya juga tertarik untuk belajar bahasa Korea di waktu senggang saya di pasar saat berjualan. Saat ini, saya hanya berteman dengan internet. Saya bisa menambah wawasan saya selagi saya menunggu perkuliahan dimulai.

Kenangan terakhir dengan ibu saya adalah foto terakhir saya dengan ibu saya sebelum beliau pergi pada hari itu juga di tanggal 3 Agustus 2020. Ibu saya sempat menyadarkan diri meskipun tidak dapat berbicara. Akhirnya, saya meminta foto dengan ibu saya sebagai kenang-kenangan. Ternyata, pada saat itu juga merupakan momen terakhir saya bisa berkomunikasi dengan ibu saya setelah sadar dari koma. Yang membuat saya takjub, ibu saya mau menghadap kamera untuk berfoto dengan saya. Saya sangat merindukan ibu saya saat ini, rasa bersalah dan penyesalan terhadap ibu saya sangatlah banyak. Yang membuat saya mempunyai beban dan tanggung jawab untuk diri sendiri agar menjadi seorang anak yang ibu saya inginkan.

No Comments

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA