KAMAJAYA Scholarship / Penerima Beasiswa  / Periode 2020/2021  / Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Yusril Mahendra Pratama

Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Yusril Mahendra Pratama

Yusril Mahendra Pratama

Tanggal Lahir:
Kota Asal:
Studi:

3 Mei 1999

Yogyakarta

Fakultas Teknik Prodi Arsitektur semester 7 (September 2020)

Yusril Mahendra Pratama

Mahasiswa Fakultas Teknik UAJY Prodi Arsitektur

Ingin Terus Menyebarkan Kebaikan

Nama saya Yusril Mahendra Pratama biasa dipanggil Yusril, Mas Map dan beberapa kawan SMK memanggil saya Cino. Panggilan “Cino” disematkan kepada saya karena saya pernah bercerita kalau saya memiliki darah Tionghoa dari almarhum buyut dari keluarga ibu saya. Waktu itu, saya bergabung di organisasi pecinta alam pelajar menengah atas. Saat itulah, panggilan Cino disematkan kepada saya dan juga sebagai nama rimba saya. Namun, teman satu angkatan lebih sering memanggil saya Map atau Mas Map karena nama akun instagram saya bernama “yusril.map” yang singkatan dari nama belakang saya.

Sedang menjadi pembaca doa, pembaca kode etik pecinta alam saat prosesi pelantikan anggota baru TMC, Bukit Turgo, 2015.

Saya lahir di Yogyakarta, 3 Mei 1999. Saya hidup berpindah-pindah karena mengontrak. Saya tinggal bersama ibu dan kakak laki-laki tiri saya sedangkan bapak saya pisah ranjang dengan Ibu karena merasa ada ketidakcocokan jika hidup seatap. Namun, Bapak dan Ibu masih berstatus menikah. Saya tumbuh besar dan dirawat oleh orang tua saya hingga saya masuk TK karena pada masa itu saya masih sangat diperhatikan dan diajari segala sesuatu. Hingga saya kelas 6 SD, Ibu sibuk bekerja serabutan dengan membuka warung sedangkan Bapak kerjanya tidak jelas. Di saat-saat seperti itu, antara Bapak dengan Ibu ada kurang komunikasi yang berakibat tidak harmonisnya rumah tangga.

Sebetulnya, Bapak memiliki gelar yang tinggi. Bapak menempuh pendidikan S1 hukum di UII dan mengambil S2 kenotariatan di UGM. Dulu waktu Ibu awal kenal dengan Bapak, Bapak bekerja sebagai notaris namun masih bekerja dengan koleganya di kantor koleganya. Dan setelah menikah, Bapak membuat kantor notaris di Temanggung dengan mengajak temannya sebagai karyawannya. Namun, karena sifat Bapak yang buruk akhirnya SK notaris Bapak dicabut dan tidak lagi menjadi sebagai pengacara ataupun notaris hingga sekarang. Dalam kondisi demikian, Ibu membantu Bapak dengan menjual perhiasan dan warisan dari Kakek dan Nenek hanya agar Bapak jadi seorang notaris dan demi kehidupan yang lebih layak agar anak-anaknya tidak hidup dalam kesusahan. Namun, karena sifat dan watak Bapak yang tidak baik maka semua juga sia-sia. Sekarang, Ibu banting tulang kerja serabutan untuk menghidupi keluarga dengan memasak pesanan orang-orang baik itu partai besar, kecil hingga jajanan kecil. Kakak saya sedang mencari-cari kerja namun memang belum rezekinya, sekarang sedang serabutan juga jualan online dan membantu teman-temannya.

Saya anak tunggal dari pernikahan Ibu dan Bapak saya. Saya memiliki seorang kakak perempuan dan seorang kakak laki-laki dari pernikahan Ibu yang sebelumnya. Selama ini, ekonomi keluarga dibantu kakak saya yang sudah mapan dan mentas dan juga sudah menikah. Mereka tinggal di Jakarta karena pekerjaannya juga berada di sana. Saya menjadi tidak terurus dari SMP hingga sekarang karena Bapak tidak pernah mengajak saya berkomunikasi sama sekali sejak masuk SMP, sedangkan Ibu sudah terlalu capek karena bekerja seharian. Semua hal baik akademik maupun non-akademik saya dapatkan dari teman-teman sekolah dan dari lingkungan saya tinggal. Beruntungnya saya adalah waktu saya SMP saya diajak bergabung di komunitas Remaja Islam Masjid di lingkungan saya oleh kakak kelas SMP saya yang sekaligus tetangga saya. Di situlah saya belajar banyak hal, mulai dari sopan santun, tata krama dan masih banyak hal yang bisa saya petik dari situ. Sedangkan untuk hal akademik, saya tidak terlalu pintar yang berakibat ranking saya selalu berada di tingkat menengah ke bawah. Namun, saya percaya memang semua manusia pasti ada hal yang tidak dikuasai dan dikuasai.

Sedang berkoordinasi dengan panitia lain, Rumah Noto Plankton, Tahun 2019.

Waktu SMP, saya sangat suka pelajaran Fisika karena saya sangat mudah mengerti pelajarannya. Saya orangnya pendiam dan dari situ saya tidak terjerumus ke dalam pergaulan yang tidak sehat selama masa sekolah saya. Masa-masa SMP saya yang paling nakal hanyalah mencoba-coba merokok dan pada masa itu belum terlalu sering karena pengenalan pada hal yang baru. Menginjak SMK kelas 3, saya mulai merokok karena saya sangat stress, orang tua sering bertengkar karena masalah komunikasi dan satu hal lainnya. Saya tidak tahu pelarian yang seperti apa lagi karena dulu saya pernah lari ke dunia game. Namun, saya menjadi bingung karena untuk bermain game membutuhkan uang yang cukup banyak apalagi untuk anak seumuran saya waktu itu. Saya tidak memiliki laptop, komputer pun bergantian dengan kakak saya.

Kenapa saya memilih masuk SMK ketimbang SMA? Karena saya diberi gambaran oleh kakak ipar saya yang seorang arsitek lulusan UGM. Dia menggambarkan kalau arsitek uangnya banyak dan kerjanya juga hanya menggambar dan mendesain. Lalu saya mantapkan pilihan masuk SMK jurusan Teknik Gambar Bangunan. Kehidupan saya di SMK menambah wawasan saya. Di masa SMK ini saya mengenal namanya pecinta alam, menghargai segala ciptaan Tuhan, menghargai dan menjaga alam, dan kegiatan-kegiatan lain yang berhubungan dengan alam. Di sinilah kemampuan berpikir saya secara kritis dan visioner ditempa, mulai dari menjalankan acara pendidikan lanjut bagi adik-adik kelas saya yang hanya berbekal 5 orang dari angkatan saya. Sungguh suatu pengalaman yang sangat berharga jika diingat-ingat, saya dapat mengajarkan berbagai macam hal kepada saya untuk menjadi manusia yang lebih baik dan mencintai dan melestarikan alam.

Bapak saya sudah tidak menafkahi keluarga sejak saya kelas 5 SD dan selama itu juga saya tidak pernah diberi uang saku selayaknya anak-anak lain. Terkadang, saya iri melihat anak lain yang keluarganya lengkap, saling menyayangi satu sama lain dan hidup bahagia sebagaiman mestinya anak umur segitu diberikan kasih sayang orang tua dan dibimbing oleh orang tua.

Sedang briefing dan preparation alat untuk melakukan susur goa dengan teknik SRT, Goa Jomblang, 2016.

Waktu berpindah ke masa kelulusan SMK, saya memantapkan pilihan untuk langsung bekerja karena gelar dan ilmu dari SMK setara dengan D3 Arsitektur. Namun, kakak pertama saya membujuk untuk kuliah saja dan akan membiayai pendidikan saya hingga lulus. Awalnya, saya mencari S1 Arsitektur UII dan sudah menjalani 3 kali tes masuk yang mana tes kedua hanya lolos S1 Teknik Sipilnya. Lalu, saya mencoba D3 ATA YKPN. Saya diterima D3 ATA YKPN tetapi saya pikir akan sia-sia karena saya merupakan lulusan SMK. Saya pikir, ilmu dan gelar yang didapat dari D3 nantinya juga kurang lebih sama dengan yang saya dapatkan selama saya SMK.

Tiba-tiba, kakak ipar mengenalkan saya dengan teman kuliahnya dulu yang juga dosen mengajar di Universitas Atma Jaya Yogyakarta yaitu dosen prodi Arsitektur. Akhirnya, saya mencoba peruntungan mendaftar di sana pada gelombang ANTARA paling akhir dan hari terakhir tes. Saya langsung diterima. Betapa senangnya saya memberitahu ibu saya mengenai hal ini.

Kondisi ekonomi keluarga saya yang pas-pasan membuat saya mencari kerja sambilan sebagai driver ojol Grab. Dengan kerjaan itu, saya bersyukur dapat menutupi biaya-biaya tidak terduga dalam hal akademik saya dan bisa membantu ibu saya sedikit demi sedikit. Sulitnya membagi waktu antara bekerja dengan kuliah membuat nilai kuliah saya pas-pasan. Namun, pada semester akhir-akhir ini saya bertekad untuk tidak full bekerja dan fokus kuliah agar saya lulus tepat waktu. Waktu saya juga terbagi dengan berkegiatan sosial di lingkungan saya seperti mengikuti kerja bakti, pemasangan umbul-umbul pada waktu Agustusan, menyiapkan acara pengajian rutin bagi remaja masjid yang juga diikuti oleh bapak-bapak dan ibu-ibu dan masih banyak lagi.

Bersantai bermain gitar sembari menunggu peserta LPKK selesai outbond.

Saya memiliki kesadaran bahwa saya sebagai manusia harus berkelakuan dan bersikap baik terhadap semua makhluk hidup dan alam. Hal ini timbul karena saya hidup di jalanan dan mengais rezeki di jalanan sebagai driver ojol. Saya tahu betapa kerasnya hidup di jalan dan susahnya mencari uang di jalan. Sering saya bersedekah bagi pengamen angklung di tiap perempatan, membeli koran apabila bertemu dengan penjualnya di perempatan, bersedekah ke tukang parkir, pemulung dan saya sering membawa makanan kucing apabila di jalan saya menemukan kucing yang kelaparan.

Hal ini diperkuat oleh dikenalkannya saya dengan dunia Escorting Ambulance oleh komunitas Indonesia Escorting Ambulance (IEA) yang memiliki semboyan #berbuattanpaberharap. Merekalah yang membuat jiwa sosial saya semakin tumbuh besar, mereka bekerja tanpa mengharap imbalan. Pernah saya escorting ambulance sendiri saat saya ngojek di jalan, saya langsung matikan aplikasi dan men-escort ambulance karena saya tahu ambulance tersebut sedang membawa pasien rujukan kode 1 merah yang artinya harus segera mendapatkan penanganan pada RS yang dituju. Ini saya pelajari otodidak dengan melihat YouTube dan membaca beberapa tulisan dan jurnal tentang hal terkait escorting ambulance. Ada perasaan bergetar dalam hati saya. Saat sedang melakukan giat pengawalan ambulance, membuat badan saya serasa bergetar dan ada perasaan senang saat saya selesai men-escort ambulance yang cenderung ke haru yang kadang saya menangis di jalan sesaat setelahnya. Di manapun saya berada, kalau saya bertemu dengan ambulance emergency, saya langsung memberikan pengawalan hingga selamat dan segera sampai tujuan, selagi saya sedang tidak ada halangan apapun dalam perjalanan. Inilah yang memacu saya bahwa tujuan hidup saya adalah berbuat baik kepada sesama tanpa berharap apapun sesuai dengan semboyan IEA, #berbuattanpaberharap.

Istirahat menunggu acara setelah outbond LPKK 2019.

Pernah suatu kali saya mendapat orderan mengantarkan seorang wanita ke kursus komputer di RS mata dr. YAP. Awalnya saya kira dia adalah seorang pengajar yang ternyata seorang tuna netra dan siswa. Saya pun memberikannya tumpangan gratis dan hanya dibayar dengan doa agar saya diberi kekuatan dan rezeki yang melimpah agar tetap bisa berbuat kebaikan terus-menerus. Kadang, saya juga membeli dagangan dua orang tuna netra di sekitar SPBU Babarsari yang kebetulan saya habis isi bensin. Saya melarisi dagangan orang tersebut dan sedikit bersedekah. Karena saya tahu, bahwa memberi tidak akan membuatmu miskin, memberi dapat menularkan virus kebaikan kepada sesama.

Saya ingin terus dan terus belajar dan menyebarkan kebaikan. Dengan ini, saya berharap dapat berguna bagi KAMAJAYA Scholarship. Sesuai dengan misi KAMAJAYA Scholarship, saya juga ada angan-angan untuk menciptakan beasiswa/sekolah gratis bagi mereka yang tidak mampu dan memiliki potensi akademik yang baik. Ini menjadi semangat saya untuk terus belajar dengan giat, bekerja keras dan menyebarkan kebaikan.

No Comments

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA