KAMAJAYA Scholarship / Kisah/Kesaksian/Testimoni  / Aku, Rasa, dan Pilihan

Aku, Rasa, dan Pilihan

Semester 4, banyak rasa yang menggambarkan semester 4. Senang, khawatir, bimbang, syukur, ya … itulah perasaan yang menggambarkan semester 4. Kadang, aku tak paham tentang perasaan ini. Rasa senang, syukur, bimbang sering menjadi satu. Bahkan rasa tersebut sampai sekarang masih berada dalam diriku. Mungkin karena aku belum siap saja. Kadang, aku bersyukur karena Tuhan selalu memberiku kesempatan untuk terus belajar. Kadang, aku merasa senang karena hal tersebut, aku merasa senang karena Tuhan membentuk diriku sesuai dengan mimpiku. Tapi, aku juga merasa bingung dan khawatir, apakah aku mampu? Melihat situasi yang sekarang ini, aku berpikir bahwa tidak ada yang lebih penting daripada mempersiapkan masa depan. Tapi aku selalu begitu, aku selalu menerima peluang yang bisa mengembangkan softskill-ku. Sebelum aku cerita tentang semester 4-ku, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada Suster Florentina. Waktu aku bimbingan dengan Suster Florentina karena nilaiku yang turun secara drastis, Suster Florentina mengatakan, “Buah dari nilai adalah pengalaman dan di semester 4 nilaimu akan naik.” Kata-kata tersebut yang selalu aku ingat dan menjadi penyemangat di semester 4 kemarin. Ternyata memang benar, nilaiku naik.

Membantu orang tua di rumah (membungkus kulit lumpia untuk dijual).

Di semester 4 ini, aku menerima tawaran yang sebelumnya sempat terlintas dalam pikiranku, namun sempat juga hilang dalam pikiranku. Aku mendapat tawaran untuk menjadi calon ketua HMPSA (Himpunan Mahasiswa Program Studi Akuntansi). Aku memang sempat berdoa kepada Tuhan, agar aku bisa diberi kesempatan lagi untuk belajar memimpin, karena aku memiliki cita-cita untuk terjun ke dunia politik. Jadi, aku ingin mengembangkan softskill-ku di UAJY ini. Awalnya, aku senang karena aku mendapatkan tawaran itu, kemudian aku menerima tawaran tersebut. Sampai pada akhirnya kuliah dilaksanakan secara online, fokusku terpecah. Aku menjadi bimbang, apakah aku mampu jika aku menjadi ketua HMPSA dalam situasi seperti ini? Dan malam ini, aku baru saja melakukan orasi, hasil pemungutan suara akan diumumkan pada tanggal 24 Juli 2020. Justru aku bukan takut jika aku kalah, melainkan aku takut jika aku menang. Tapi aku juga bersyukur jika aku menang, karena aku dapat mengembangkan softskill-ku dan menambah pengalamanku. Satu hal yang selalu membuatku merasa lebih kuat, ibuku selalu mengatakan, “Tuhan telah mengatur semuanya, jangan khawatir Tuhan sudah menyiapkan jalan untukmu.”

Melayani pelanggan yang membeli kulit lumpia.

Melihat dari dampaknya saat aku menerima tawaran menjadi ketua OSIS di SMA dan menjadi Tim Pencari Fakta di semester lalu nilaiku memang turun. Dan aku sempat berpikir mungkin keputusanku saat menerima tawaran menjadi ketua HMPSA dampaknya akan sama. Tapi lagi-lagi, aku enggan untuk menolak tawaran atau peluang-peluang yang bisa mengasah jiwa kepemimpinanku. Aku tahu nilai itu penting, tanpa nilai yang bagus aku juga tidak akan bisa menjadi calon ketua HMPSA, tapi aku juga paham tanpa pengalaman aku akan kesulitan untuk mengembangkan diriku. Nilai dan pengalaman harus berjalan bersama-sama. Nilai bagus tapi pengalaman nol juga bisa kalah dalam persaingan di dunia kerja. Tapi, nilai jelek dan pengalaman segudang juga belum tentu akan menyelamatkan kita dari persaingan yang ketat di dunia pekerjaan. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Jika aku menjadi ketua HMPSA, aku juga tidak tahu apakah nilaiku akan jauh lebih baik atau tidak, tapi di sini aku belajar bahwa segala sesuatu ditentukan dari diri kita sendiri, tindakan kita sendiri. Kita mau mendapatkan nilai jelek, nilai bagus, banyak pengalaman atau tidak adalah pilihan kita.

Pengumuman kandidat terpilih sebagai ketua lembaga FBE UAJY 2020.

Kadang menjadi lucu ketika aku sedang mengingat kembali tentang mimpiku, tentang harapan-harapanku. Aku berdoa agar aku dibentuk menjadi pribadi yang sesuai dengan mimpiku yaitu menjadi seorang pemimpin, dan beberapa kali Tuhan telah memberiku kesempatan tapi justru kali ini aku bimbang. Aku menjadi berpikir kenapa aku bimbang? Bukankah ini semua adalah permohonanku? Kadang, mulut dengan mudah mengatakan aku percaya Tuhan yang akan membimbingku, Tuhan yang akan menuntunku. Tapi hati tidak bisa dibohongi, seringkali antara mulut dan hati berjalan berlawanan.

Di samping rasa yang bercampur aduk, setidaknya aku lega, aku telah menyelesaikan setengah perjalananku untuk belajar di UAJY. Banyak hal yang aku dapatkan selama aku belajar di UAJY, ditambah lagi saat aku bergabung ke KAMAJAYA Scholarship. Tentunya, banyak pengalaman yang aku dapatkan. Dan tinggal setengah perjalanan lagi aku akan menyelesaikan belajarku di UAJY kemudian bagian baru dalam hidupku akan dimulai, yaitu aku akan memasuki bagian di mana aku akan berjuang mewujudkan mimpiku. Sepertinya baru kemarin aku masuk ke UAJY, tapi ternyata aku telah menyelesaikan setengah perjalananku. Di balik ceritaku ini, aku menemukan sesuatu yang cukup berharga. Ternyata, apa yang kita pikirkan menentukan apa yang kita inginkan dan tindakan kita menentukan apa yang kita dapatkan.

Muntilan, 16 Juli 2020
Angella Herlina Ditasari
Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-3
Mahasiswa Program Studi Akuntansi UAJY Angkatan 2018

1 Comment

  • mario antonius birowo

    Reply 3 November 2020 17:27

    Maju terus. Semangat terbaik untuk meraih cita-cita agar dapat menjadi berkah bagi sesama.

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA