KAMAJAYA Scholarship / Kisah/Kesaksian/Testimoni  / Kisah Penerima Beasiswa: Surat dari Agnes

Kisah Penerima Beasiswa: Surat dari Agnes

Romo Agus* yang baik,

Hari ini, tanggal 14 Januari 2021, Agnes menulis surat dengan keadaan santai di kamar kost karena sedang melakukan kerja praktek di sebuah perusahaan logistik di daerah Bekasi. Puji Tuhan, Agnes bisa mencapai target untuk bisa kerja praktek dan sekaligus menyusun skripsi.

Foto saat kerja praktek Di PT. “K” Line Mobaru Diamond Indonesia – Depo Container Marunda.

Agnes ingin bercerita dengan Romo. Banyak sekali hal-hal yang terjadi pada tahun 2020 yang sudah terlewati. Yang pertama adalah dari keluarga Agnes sendiri. Tahun 2020 benar-benar menguji kesabaran, kedewasaan, serta mental Agnes. Berawal dari Pandemi COVID-19 yang belum selesai hingga saat ini, dan juga sempat drop karena Mama yang terkena COVID-19 sehingga Agnes harus datang kepada Tuhan Yesus setiap saat karena Agnes merasa tidak ada kekuatan atau ketenangan jika tanpa kehadiran Tuhan Yesus. Agnes telah bercerita kepada Romo, bagaimana perasaan dan pikiran Agnes pada saat itu. Puji Tuhan, Agnes masih bisa kuat hingga saat ini.

Yang kedua adalah Kakak. Kakak pada bulan September 2020 lalu telah menyelesaikan ujian kompetensi perawat dan resmi menyandang gelar “S.Kep., Ners.”-nya. Dia selalu mengatakan bahwa ia harus bisa lulus agar cepat bekerja di RS. Namun setelah ujian selesai, kampusnya mengadakan acara wisuda. Agnes heran pada awalnya, mengapa sampai harus benar-benar diadakan, sedangkan saat ini sedang terjadi pandemi. Hingga Agnes turun tangan untuk berbicara dengan teman-teman Kakak. Menurut cerita yang Kakak sampaikan, anak-anak yang ngeyel untuk diadakan acara wisuda adalah anak-anak dari golongan orang-orang yang bisa dikatakan kaya, sedangkan yang lain seperti Kakak adalah orang biasa. Agnes menanyakan detail mengenai apa saja yang dilakukan nanti, dan detail biayanya. Namun mereka tidak terbuka, malah Agnes dilempar-lempar ke sana-sini.

Pengangkatan Sumpah Perawat Kakak, Tiurma Dian P., S.Kep., Ners. (27 Oktober 2020).

Pada saat itu, Agnes merasa bahwa mereka adalah anak-anak egois. Sampai akhirnya, mereka menyampaikan berapa biaya yang harus dibayarkan yang nilainya cukup besar. Pada saat itu jujur saja, Mama dan Papa sama sekali tidak ada uang untuk membantu Kakak ikut acara pengangkatan sumpah perawat tersebut. Namun Agnes tidak habis akal, Puji Tuhan pada saat itu gaji asisten Agnes dirapel sehingga bisa membayarkan uang angkat sumpah Kakak. Dan lagi, teman-teman Agnes banyak yang membantu sehingga dapat membayarkannya tepat waktu dan tidak ada kekurangan. Pada saat itu, Agnes benar-benar kecewa dengan keputusan teman-teman Kakak yang harus mengadakan acara di tengah pandemi. Namun, Agnes benar-benar bersyukur karena Tuhan Yesus menolong benar-benar tepat pada waktunya.

Tak lama kemudian, bulan Desember 2020, Kakak mulai dipanggil bekerja di RS Gotong Royong Surabaya, karena di sana dibutuhkan banyak tenaga medis. Hal ini karena banyak tenaga kesehatan di Surabaya yang meninggal karena COVID-19. Agnes berharap Kakak selalu sehat dan kuat. Agnes selalu menahan sedih saat dia VC dengan Agnes, terlihat kakak menggunakan APD yang sangat panas. Penggunaan APD tersebut selama 8 jam, tanpa makan, minum, kencing, ataupun BAB.

Foto kenangan Agnes (kanan), Nina (tengah), dan Elsa (kiri). Foto diambil terakhir tahun 2017, sebelum berangkat ke kota masing-masing untuk kuliah.

Yang selanjutnya, salah satu hal yang membuat Agnes menjadi lebih dewasa lagi adalah, saat Tuhan Yesus memanggil salah satu sahabat Agnes yang bernama Elsa. Kami sering bercanda atau mengirimkan video lucu kami saat melakukan hal konyol. Meskipun kami berbeda agama, namun kami sudah sangat dekat sejak SMP. Saat itu, hati Agnes benar-benar hancur karena dia pulang sangat cepat. Padahal, dia sudah berjanji nanti waktu salah satu dari kami wisuda, kami akan kumpul dan merayakan bersama. Pada malam hari sebelum ia meninggal, Agnes tidak bisa tidur. Waktu itu pukul 23.20 WIB. Agnes terbangun dan tidak tidur-tidur. Opung yang begitu peka dengan Agnes, menyuruh Agnes untuk berdoa. Lalu, Agnes berdoa dan pukul 02.30 WIB Agnes baru bisa tidur. Namun keesokan paginya, pukul 05.00 WIB, Agnes terkejut karena salah satu teman mengabari bahwa Elsa telah pergi karena kecelakaan tunggal.

Sungguh hari yang sangat berat, bahkan Agnes menangis seharian dan memeluk Opung. Ketika tepat peringatan 3 hari, 7 hari, dan 40 harinya, Agnes mendatangi kuburannya sekaligus melepas rindu. Agnes ingat, terakhir kali bertemu adalah saat Agnes berpamitan untuk berangkat KP. Senyum dan tawanya selalu terngiang di telinga dan ingatan Agnes. Dia anak baik, walaupun orang tuanya berpisah. Agnes percaya dia akan menjadi apoteker terbaik di sana seperti yang dia cita-citakan dari SMP.

Romo, Agnes harus bagaimana ya? Agnes selalu menangis saat mengingat sahabat Agnes ini. Apakah sebagai orang percaya kita tidak boleh menangisinya terus? Jujur saja, hingga saat ini Agnes benar-benar sedih ketika mengingat hari itu.

Bekasi, 14 Januari 2021
Agnes Diah Puspitasari
Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-4
Mahasiswa Program Studi Teknik Industri Angkatan 2017

*Romo Agus yang dimaksud adalah Romo Ag. Agus Widodo, Pr. (imam diosesan Keuskupan Agung Semarang). Beliau merupakan pembimbing rohani Agnes dan saat ini sedang menempuh studi doktoral di Roma, Italia).

No Comments

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA