KAMAJAYA Scholarship / Kisah/Kesaksian/Testimoni  / Kisah Penerima Beasiswa: Menata Kembali

Kisah Penerima Beasiswa: Menata Kembali

Saat mendampingi Inisiasi Mahasiswa Baru 2020.

Dua triwulan telah dilalui, melangkah semakin dekat dengan impian menjadi sarjana. Ya, sebentar lagi saya akan memasuki semester 8, semester yang saya harapkan menjadi yang terakhir dalam perjalanan studi ini. Sejak liburan semester 6, saya sudah mulai menggarap Tugas Akhir (TA), tentunya di bawah bimbingan dosen pembimbing. Waktu yang cukup panjang, bila dilihat-lihat untuk melahirkan ekspektasi bisa lulus lebih cepat. Namun ternyata tak semudah itu. Topik TA tentang mobile programming, cukup membuat kepala saya panas tak karuan. Kemampuan saya yang masih sangat dasar, sempat menumbuhkan keraguan dalam diri. Belum lagi, pada semester 7 ada KKN dan masih banyak mata kuliah yang saya ambil. Rasa sesal pun menggerayangi, mengapa menantang diri sendiri dengan mengambil topik yang tidak dikuasai penuh? “Toh, bukan hanya saya, teman-teman juga kesulitan tapi bisa menyelesaikannya; Kalau mereka bisa, berarti saya juga bisa; Saya harus menyelesaikan apa yang telah saya mulai.” Itu kalimat-kalimat yang saya gunakan untuk memantrai diri dan ternyata ngefek.

Presentasi PKP-PKM 2020.

Sama seperti yang lalu-lalu, pasti ada banyak hal yang terjadi di setiap semester, membuat saya merenung dan menyadari hal-hal yang tak pernah saya perhatikan sebelumnya. Saya baru menyadari bahwa selama ini saya bersikap kelewatan terhadap diri sendiri. Sering kali memaksakan tubuh dan pikiran, yang akibatnya berimbas pada kesehatan fisik dan jiwa saya. Sedikit cerita, saya mengambil kerja sambilan sejak semester 6 dan dilanjutkan sampai semester 7. Kala itu, rasanya malam berubah menjadi siang. Kekurangan tidur, tidak makan dengan baik, bekerja sambil mencuri-curi waktu mengerjakan tugas, skripsi, suasana rumah yang kacau karena masalah keuangan keluarga. Kira-kira keadaan seperti itulah yang saya alami berhari-hari. Akibatnya, kesehatan saya memburuk kemudian berdampak pada performa dalam bekerja dan kuliah. Saya kira, saya bisa bertahan sampai semester 7 berakhir.

Tiba di satu momen, saya tak kuasa menahannya lagi. Bingung bagaimana mengatasinya, tak ingin berhenti namun tak ingin lagi bertahan. Mama menyadari perubahan perilaku dan emosi saya yang tak seperti biasanya, dan berkata, “Jangan memaksakan diri lagi. Mama ikutan sedih melihatmu seperti ini.” Barulah saya paham, orangtua mungkin senang bila anaknya bisa membantu meringankan beban keuangan, tapi mereka tidak akan senang bila kebahagiaan anaknya harus dikorbankan karena itu. Sombongnya saya, menganggap bisa menghadapi semuanya sendiri, sekedar berkeluh kesah menceritakan ke mama saja tidak mau karena tak ingin menambah beban pikiran beliau. Padahal, saya adalah manusia yang mempunyai keterbatasan, yang terkadang bisa jatuh juga walau mencoba kuat. Akhirnya, saya memutuskan untuk berhenti bekerja di pertengahan semester. Memberi ruang dan menata kembali kesehatan tubuh dan jiwa saya.

Saat mengikuti kuliah online di rumah.

Puji Tuhan, saya masih dapat mengejar ketertinggalan di sisa setengah semester. Indeks Prestasi (IP) saya semester ini, bisa dikatakan cukup memuaskan. Saya juga telah menyelesaikan KKN dan semua mata kuliah wajib yang harus diambil di prodi saya. Hanya tersisa Tugas Akhir pada semester 8. Saya berharap satu semester ini, saya dapat memaksimalkan sisa waktu yang ada untuk menggarap Tugas Akhir dan mampu mengikuti ujian pendadaran pada akhir semester.

Sama halnya dengan semester 6, keseharian semester 7 hingga saat ini banyak dihabiskan di dalam rumah bersama keluarga. Dimulai dari kuliah, mengerjakan tugas, skripsi, hingga kerja kelompok. Saya akui, selama hampir 10 bulan kuliah dari rumah, saya agak kesulitan. Sulit untuk konsentrasi mengikuti perkuliahan dan belajar karena suasana rumah yang cukup ramai. Selain itu masih sering padam listrik dan mati sinyal, terkadang membuat mood saya kacau duluan sebelum kuliah atau mengerjakan tugas. Namun ada baiknya juga, saya bisa lebih dekat dengan keluarga. Bila biasanya hanya bisa berkomunikasi di telepon dan hanya berbincang sebentar, sekarang tidak. Selama masa pandemi ini, saya juga tetap menjaga komunikasi dengan teman-teman menggunakan sosial media. Walaupun, hanya sekedar bertegur sapa lewat story yang mereka buat. Saya rasa ini adalah harapan semua orang, saya harap pandemi ini cepat berakhir dan semua orang bisa perlahan-lahan bangkit dari masalah yang mereka hadapi. Bersama-sama kita kembali menata hidup kita, menjadi orang yang lebih baik dari saat ini.

Jambi, 15 Januari 2021
Felicia Oktavia
Mahasiswa Program Studi Teknik Industri UAJY Angkatan 2017
Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-3

No Comments

Post a Comment

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA