KAMAJAYA Scholarship / Kisah/Kesaksian/Testimoni  / Kisah Penerima Beasiswa: Menghadapi Diri Sendiri

Kisah Penerima Beasiswa: Menghadapi Diri Sendiri

Semester 7 adalah salah satu semester yang penuh dengan lika-liku. Di rentang waktu ini, saya berproses dengan sangat dinamis. Semester 7 mengajarkan saya untuk lebih bisa menyesuaikan diri dalam menjalani hari-hari yang penuh kejutan. Terutama semenjak merebaknya pandemi COVID 19 yang mengakibatkan saya tidak bisa pulang kampung dan bertahan hanya di kost selama kurang lebih satu tahun. Hal ini tentu memiliki banyak pengaruh terhadap aspek kehidupan saya, antaranya dari segi aktivitas fisik, mental, spiritual, sosial, dan ekonomi. Selain itu, aktivitas perkuliahan secara daring juga mengakibatkan timbulnya beberapa hambatan dan semakin meriuhkan pikiran.

Aktivitas Perkuliahan pada semester 7 dapat dikatakan berjalan dengan baik. Hal ini terlihat dari IP semester yang memuaskan bagi saya dengan IP 3,46. Namun, pada perjalanannya menimbulkan beberapa kendala dari dalam diri. Kurangnya intensitas bertemu dengan sahabat dan teman-teman mengakibatkan kurang memiliki semangat dan kurang terpacu terhadap pembelajaran. Hal itu pula yang menyebabkan saya sedikit kesulitan ketika belajar. Kendala selanjutnya yang terjadi adalah saya beberapa kali lupa jadwal pengumpulan tugas dikarenakan terlalu fokus terhadap PPTA (Penyusunan Proposal Tugas Akhir) yang juga sempat terkendala pada awal semester. Kendala saya adalah judul yang sudah saya kerjakan pada semester sebelumnya dari BAB 1-3 tidak dapat dilanjutkan untuk PPTA sehingga saya harus mencari topik baru. Di tengah pandemi, saya terus berusaha mencari perusahaan yang sesuai dengan topik penelitian saya. Beruntungnya di tengah semester, dosen mata kuliah PPTA memberikan topik yang sesuai dengan saya. Hal ini tentu membawa kelegaan tersendiri bagi saya. Tetapi di sisi lain, saya harus mengejar ketertinggalan saya terhadap teman-teman sekelas.

Di rumah saja tidak mengakibatkan kendala spiritual secara signifikan. Hanya saja perbedaannya saya tidak bisa leluasa memilih jadwal misa dan tidak setiap minggu misa di gereja. Justru di balik kekurangan tersebut, saya menjadikannya sebagai peluang untuk lebih memaknai Tuhan di diri saya dalam kesunyian. Setiap kegiatan sehari-hari yang saya lakukan, saya jadikan sebagai perwujudan nyata dari Doa. Dengan berdoa, saya juga melatih diri untuk menenangkan diri dalam menghadapi permasalahan yang muncul.

Semenjak diberlakukannya jargon “Di rumah Aja” dan pembatasan sosial berskala besar pada kondisi pandemi sekarang ini, tentu mengakibatkan terbatasnya lingkungan sosial saya. Saya semakin sering melakukan akivitas di kost hanya dengan 4 teman kost saya. Tetapi, saya juga keluar kost sesekali saat suntuk atau kalau ada keperluan penting.

Rasa syukur saya panjatkan kepada Tuhan karena pada masa pandemi saya mendapatkan Beasiswa KAMAJAYA yang sangat membantu keadaan ekonomi keluarga saya. Hal ini dikarenakan usaha Bapak sangat terdampak pandemi COVID-19. Mebel kecil-kecilan Bapak sangat minim pelanggan. Ditambah lagi keperluan yang akan datang yaitu adik saya yang lulus SMA dan ingin kuliah di Universitas Atma Jaya Yogyakarta pada tahun ajaran baru mendatang. Oleh sebab itu, beasiswa yang saya terima sangat membantu kondisi ekonomi keluarga. Oleh sebab itu, pada masa pandemi ini, saya juga berinisiatif memproduksi totebag dan menerima beberapa pekerjaan desain untuk menambah uang jajan saya.

Selanjutnya, yang akan saya lakukan adalah memaksimalkan kuliah saya dan mempercepat penulisan skripsi sembari melatih softskill saya dalam bidang seni visual sembari membangun relasi dengan orang-orang yang akan mendukung karir saya kedepannya. Cita cita saya ingin menjadi seorang enterpreneur dalam bidang industri kreatif. Semoga dapat tercapai.

Yogyakarta, 14 Januari 2021
Pius Bagas Vando Kinesto
Mahasiswa Program Studi Teknik Industri UAJY Angkatan 2017
Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-4

No Comments

Post a Comment

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA