KAMAJAYA Scholarship / Lentera Atma  / Lentera Atma: Mercies of God

Lentera Atma: Mercies of God

Allah itu maha kudus, maka Allah tidak menerima yang tidak kudus. Kita akan gagal berusaha menjadi kudus ketika itu dilakukan di luar karunia Tuhan. Tapi karena kasih karunia Tuhan kita dimampukan untuk mencapai kekudusan dan untuk mempersembahkan seluruh hidup kita. Tuhan tidak hanya menginginkan tubuh atau pikiran kita saja, tetapi Tuhan menginginkan seluruh kehidupan kita diberikan kepada-Nya. Allah memisahkan kita dari dunia, namun untuk dunia, tanpa menjadi sama dengan dunia. Dengan menjadi berbeda dengan dunia membuat kita bisa menjangkau dunia. Apa yang harus berbeda? Yang harus berbeda adalah akal budi kita. Kita harus memperoleh pembaharuan budi karena ketika cara berpikir kita sudah diperbaharui, maka kita menjadi mengerti mana yang benar dan mana yang harus dilakukan. Semua ini terjadi hanya karena kasih karunia Allah.

Lalu kenapa bukan perbuatan yang harus berubah? Banyak orang berharap diberikan arahan-arahan perbuatan yang harus dilakukan namun tidak menginginkan pengertian. Permasalahannya bukan hanya tentang melakukan sesuatu, sebab melakukan sesuatu tanpa pengertian artinya kita sama saja seperti robot. Di zaman ini perubahan cara pikir itu sangat penting karena dunia akan terus berusaha untuk mempengaruhi kita. Kita diperintahkan untuk tidak memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang bisa kita pikirkan. Kasih karunia Allah menyadarkan kita bahwa tidak ada satu pun di dunia ini yang dapat membuat kita bermegah atas apapun yang kita lakukan. Tidak perlu sombong atas peran kita.

PRAKTIK YANG HARUS KITA LAKUKAN:

  1. Jangan sampai cara kita melayani Tuhan rusak dan kendor. Kalau Tuhan menyala-nyala dalam hidup kita, tentu kerajinan kita tidak akan kendor. Orang yang malas tidak mendapatkan bagian dalam kerajaan Allah karena di dalam Tuhan tidak ada yang namanya pengangguran rohani.
  2. Dunia berkata bahwa kita bersukacita saat hasilnya baik, tetapi bersukacitalah di dalam pengharapan. Saat Allah memberikan pengharapan, maka di situlah kita harus selalu bersukacita. Di dalam proses apapun yang sedang Tuhan izinkan kita memiliki pengharapan di dalamnya dan kita memiliki sukacita di sana. Hasil yang baik akan hadir ketika kita dapat bersukacita di dalam pengharapan.
  3. Milikilah hati yang penuh rasa empati terhadap satu sama lain. Kita belajar memahami perasaan sesama karena Tuhan pun memahami penderitaan yang kita rasakan.
  4. Kalau kita berpura-pura mengasihi sesama, maka berarti kita mungkin saja pura-pura dikasihi oleh Allah. Sebab, ketika kita mengasihi Allah dan dikasihi oleh Allah tentu kita mampu mengasihi sesama dengan tulus. Kita harus mengasihi dan menghormati sesama meskipun kita tidak mengenalnya karena bagaimanapun kita semua adalah saudara di dalam Tuhan. Hal yang membuat kita menjadi bersaudara yaitu kita ditebus oleh darah yang sama. Meskipun orang lain tidak menghormati kita, tugas kita adalah tetap menghormatinya sebagai bukti bahwa kita taat kepada Allah dan Allah yang menjadi sukacita bagi kita.
  5. Orang-orang kudus adalah kita semua yang sudah percaya kepada Tuhan. Berilah pertolongan kepada sesama kita.
  6. Kalau bisa berdamai, kenapa harus bermusuhan? Kita tidak perlu membalas kejahatan dengan kejahatan dan jangan menuntut pembalasan. Memang benar bahwa hukuman itu hak Tuhan, tapi semuanya terjadi bukan atas usul kita. Tuhan mendidik seseorang bukan karena membela saudara, sebab Tuhan akan memberikan didikan bagi kedua orang yang bermusuhan agar keduanya sama-sama diubahkan. Kita harus tetap mengasihi orang yang memusuhi kita karena Allah pun tetap mengasihi kita yang seringkali memusuhi Dia.

Image by Jackson David from Pixabay

No Comments

Post a Comment

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA