KAMAJAYA Scholarship / Lentera Atma  / Lentera Atma: Tuhan Adalah Gembalaku

Lentera Atma: Tuhan Adalah Gembalaku

The LORD is my shepherd; I shall not want. He makes me to lie down in green pastures; He leads me beside the still waters. (Psalm 23:1-2)

TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang. (Mazmur 23:1-2)

Apa pentingnya dari kata “ku” di sini? Mengapa tidak menyebutkan gembala “kita” tetapi justru dia berkata gembala “ku”? Artinya Tuhan adalah pribadi Tuhan yang benar-benar personal untuk kita. Kita secara pribadi harus punya hubungan personal dengan Tuhan sebagai gembala kita. Pengalaman kita dengan Tuhan sebagai gembala haruslah personal. Kata “is” menunjukkan saat ini (present), artinya Tuhan adalah gembalaku saat ini juga. Mungkin ada kalanya kita tersesat, tapi gembala kita tidak pernah meninggalkan kita saat ini juga dan setiap waktu. Tuhan berusaha mencari kita ketika kita kehilangan arah dan Dia tidak akan pernah meninggalkan kita. Jangan pernah sekalipun berpikir bahwa Tuhan meninggalkan kita karena Tuhan adalah gembala yang tidak pernah meninggalkan kita, domba-Nya. Kita semua punya gembala yang terbaik yaitu adalah Tuhan.

“… takkan kekurangan aku”. Kalimat ini adalah konsekuensi logis dari kalimat sebelumnya. Kalau Tuhan adalah gembala kita, maka Dia akan memelihara dan menjamin kita sehingga kita tidak akan berkekurangan.

“… I shall not want” memiliki 2 makna. Pertama, makna dari kalimat tersebut adalah semua yang kita butuhkan akan disediakan oleh Tuhan yang adalah gembalaku. Ketika kita sadar bahwa Tuhan adalah gembala kita, maka kita sadar Tuhan satu-satunya sumber pengharapan kita. Jadi, percaya pada pemeliharaan Tuhan dan yang Tuhan sediakan. Kita harus bersyukur dan merasa cukup atas segala sesuatu yang Tuhan sediakan.

“membaringkan” istilah dari peristirahatan. Domba itu tidak mudah dibaringkan. Tuhan kita tahu cara memberikan tempat peristirahatan yang benar. Tempat peristirahatan kita bukan waktu dan tempat yang nyaman karena peristirahatan yang tepat adalah peristirahatan jiwa. Memerlukan usaha untuk membaringkan seekor domba untuk menenangkannya. Begitu juga Tuhan yang berusaha membuat kita tidak merasa takut. Lalu, dikatakan bahwa satu domba tidak boleh bergesekan dengan domba lainnya, artinya Tuhan mendamaikan hubungan kita dengan sesama. Lalu, tidak boleh ada parasit/kutu, artinya Tuhan menguduskan setiap kita dari segala jenis kedosaan. Bahkan, Tuhan tidak membiarkan kita lapar dengan memelihara dan memberikan segala sesuatu yang kita butuhkan.

“Tempat rumput hijau” berbicara tentang tempat yang memenuhi kebutuhan kita, ini bicara tentang penyediaan Tuhan. Tuhan memenuhi kebutuhan kita secara jasmani dan rohani. Dia bukan hanya Tuhan yang memenuhi kita secara jasmani, tetapi Tuhan juga memenuhi kita secara rohani yang sesungguhnya bagian yang paling kita butuhkan. “Banyak orang dicintai karena dia berharga, tapi kita berharga karena kita dicintai oleh Tuhan”.

“… ia membawa kita ke air yang tenang”. Air yang tenang berbicara tentang kepuasan. Domba tidak bisa membuat bendungannya sendiri, tapi seringkali kita sebagai domba-domba mencari kepuasan dengan kekuatan sendiri. Alih-alih kita menjadi dipuaskan, justru kita malah dikecewakan. Tuhan adalah gembala kita, pahami dan sadari bahwa dia adalah Allah kita. Miliki hubungan pribadi dengan Dia, kita tidak akan berkekurangan karena Dia akan menyediakan segalanya untuk kita melakukan pekerjaannya. Kita tidak lagi hidup dalam rasa takut dan kekhawatiran lagi, tapi kita hidup dalam peristirahatan yang tenang.

Image by jplenio from Pixabay

No Comments

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA