KAMAJAYA Scholarship / Lentera Atma  / Lentera Atma: Lima Roti dan Dua Ikan

Lentera Atma: Lima Roti dan Dua Ikan

Kehadiran Yesus memberikan nuansa baru dalam kehidupan manusia sehingga tidak mengherankan banyak orang datang untuk mengikuti dan mendengarkan Sabda-Nya. Bahkan, mereka tidak memikirkan keadaan dirinya yang lelah, capai, lapar, bahkan kondisi yang lemah atau lingkungan/keadaan sekitar yang kurang mendukung, hanya satu tujuannya adalah bertemu dengan Yesus sang Penyelamat yang memberikan, harapan, kehidupan baru, dan semangat untuk mengembangkan jati dirinya sebagai pribadi yang telah diselamatkan. Dengan melihat antusiasme umat/orang banyak, tergerak hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka dan juga Ia menyembuhkan mereka yang sakit.

Para murid justru menganjurkan agar mereka diminta untuk pulang ke rumah mereka masing-masing karena “merepotkan”, harus menyediakan tempat untuk istirahat, menjamin keberlangsungan hidup mereka (makan) dan biaya cukup besar, sementara mereka sendiri juga kekurangan. Tetapi Yesus berkata kepada mereka: “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan” (Mat 14:16). Jawaban ini sangat di luar dugaan bahkan ‘menohok’, mereka saling memandang satu sama lain, sambil berhitung dalam diri mereka masing-masing.

Tentu suatu nilai rupiah yang sangat besar, mustahil untuk bisa memberi semua orang banyak itu makan, spontan dengan jujur, apa adanya, apa yang dimiliki, mereka menunjukkan “yang ada pada kami di sini, hanya lima roti dan dua ikan”, apalah artinya untuk orang sebanyak ini. Yesus melihat, merasakan dan menghargai kejujuran para murid akan keterbatasan mereka. Nampak kasih yang tulus ingin membantu dan berbagi, namun tak berdaya karena yang dimiliki tidak bisa membantu orang banyak keluar dari persoalan mereka, yaitu meringankan dan memberikan kesegaran badan dan jiwa yang lelah seharian mengikuti Yesus.

Tanda memberi dan membagikan adalah pelajaran yang amat penting bagi para murid untuk memberikan apa yang mereka miliki dalam hidup. Lalu bagaimana dengan kita, sudahkan kita memberi dan berbagi kepada orang lain apa yang kita miliki atau justru kita mengumpulkan dan menyembunyikan dalam diri kita. Atau apa yang kita miliki justru digunakan untuk merusak kebersamaan dalam persekutuan. Ketika orang percaya mengucap syukur, ia yakin sudah menerima apa yang dimintanya. Dan apa yang diperoleh mestinya dibagikan kepada yang lain. Dengan demikian, kita menjadi berkat bagi yang lain, sesama.

Mengapa Yesus memakai roti dan ikan para murid? Karena Yesus mau memberkati mereka. Ia mau menggandakan apa yang menjadi milik murid-murid-Nya. Yesus memberkati orang yang mau memberkati orang lain dan berkat-Nya itu sempurna. Dan berkat yang mereka miliki itu akhirnya dibagikan kepada sesama. Apa yang terjadi dari lima roti dan dua ikan yang ada menjadi banyak akhirnya “mereka makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, sebanyak dua belas bakul.” Dua belas bakul itu digunakan untuk bekal bagi mereka yang akan pulang ke rumahnya, sebab rumah mereka jauh. Lima roti dan dua ikan yang ada pada para murid itu akhirnya menjadi berkat bagi orang lain.

Kalau tiba-tiba Yesus bertanya kepada kita saat ini, “Kamu harus memberi mereka makan dan berapa roti yang ada padamu?

Bagaimana jawaban kita?

Terima kasih Yesus, hari ini mukjizat besar terjadi atas hidupku, aku dan seisi rumahku setia, sehat, kuat dan diberkati serta menjadi berkat bagi sesama yang Engkau hadirkan dalam hidupku hari ini.

Mentari pagi adalah bukti penyertaan Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus. Sehat adalah bukti kebaikan Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus. Napas hidup adalah bukti Kasih Setia Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus.

Image by Jackson David from Pixabay

No Comments

Post a Comment

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA