KAMAJAYA Scholarship / Penerima Beasiswa  / Periode 2021/2022  / Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Pita Desi Putrianti

Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Pita Desi Putrianti

Pita Desi Putrianti

Tanggal Lahir:
Kota Asal:
Studi:

24 Desember 1995

Ngawi

Fakultas Hukum Prodi Ilmu Hukum semester 7 (September 2021)

Pita Desi Putrianti

Mahasiswi Fakultas Hukum UAJY Prodi Ilmu Hukum

Pantang Menyerah demi Menggapai Mimpi

Nama saya Pita Desi Putrianti, biasa dipanggil Pita. Saya lahir di Kota Ngawi pada tanggal 24 Desember 1995 dan saya tumbuh besar di Dusun Jatisari, Desa Karang Banyu, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi. Saya anak ke-3 dari 4 bersaudara. Saat ini, saya sedang menempuh Semester 6 Fakultas Hukum di Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Saya tinggal di Kost Cahaya No. 13b Condong Catur, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Saya lahir dari keluarga sederhana. Orang tua saya bernama Sunarto dan Yanti. Bapak saya bekerja sebagai buruh tani yang menyewa lahan dan ibu saya adalah ibu rumah tangga. Sebelum menjadi ibu rumah tangga, ibu saya bekerja membantu ayah saya menanam padi dan bekerja serabutan. Sejak tahun 2013, ibu saya terkena diabetes sehingga harus berhenti total tidak bekerja. Dari saat itu, ayah saya bekerja sendiri untuk membiayai kuliah kakak saya yang ke-2 dan membiayai kehidupan kami. Ayah saya adalah orang yang hebat. Dia bekerja dan berjuang bersama ibu saya dari buruh serabutan sampai bisa menyewa sawah sendiri.

Mimpi ayah saya sangat besar untuk menyekolahkan anak-anaknya. Bahkan di saat anak-anak di desa kami berhenti sekolah (hanya sampai SD dan SMP), ayah saya selalu bilang bahwa pendidikan itu penting bukan hanya untuk jaminan masa depan tetapi untuk diri kami sendiri, begitu katanya. Setiap orang boleh punya mimpi bahkan ketika hanya sendirian. Saya bersyukur untuk Ayah dan Ibu yang selalu memarahi saya ketika saya malas sekolah. Saat SMP, saya dan kakak-kakak saya sekolah dengan jalan kaki karena memang kampung kami jauh dari kota, sehingga tidak ada angkutan umum yang masuk. Saya ingat saat itu, hanya ada 8 anak dari kampung saya yang melanjutkan sekolah karena memang jauh. Di desa saya, banyak anak-anak yang hanya sekolah sampai SD karena jalan yang lumayan jauh. Akan tetapi, saya pantang menyerah. Saat itu, belum banyak kendaraan bermotor seperti sekarang, jadi saya tahu rasanya berjuang untuk sekolah. Saya selalu bilang ke diri saya, “Jangan mengeluh, orang tuamu bekerja seharian bagaimana apa dia tidak lebih capek dari kamu.” Saya tetap semangat bersekolah sampai saya menyelesaikan SMA di tahun 2013.

Lulus SMA di tahun 2013, saya sempat mendaftar menjadi seorang pramugari. Saya lolos seleksi. Namun saat memasuki pembayaran pertama, ayah saya mengalami masalah. Ia ditipu oleh tetangga kami, sehingga uang yang harusnya untuk biaya pendidikan saya harus digunakan untuk ganti rugi dan dari situ ayah saya terlilit hutang. Saat itu, keluarga saya benar-benar jatuh sehingga saya memutuskan untuk bekerja di PT Panasonic Indonesia di Batam. Hasil kerja saya selama 1 tahun di PT Panasonic Indonesia tidak cukup untuk menutup hutang keluarga kami. Bahkan, kakak saya yang sedang kuliah kebidanan harus cuti dan bekerja untuk membantu keluarga. Kemudian di tahun ke-2 saya di Batam, saya bekerja di PT Rubycon. Gaji saya selama bekerja saya kirim untuk membantu orang tua, tetapi saya tidak melupakan mimpi saya yang ingin tetap kuliah. Saya terus menabung untuk biaya kuliah saya.

Setelah 3 tahun, kontrak kerja saya di PT Rubycon selesai pada 1 Januari 2018 dan tabungan saya sudah cukup saat itu, saya memutuskan untuk tidak bekerja lagi di perusahaan dan mulai mencari perguruan tinggi untuk kuliah. Singkat cerita, saya diterima dan masuk di Universitas Atma Jaya Yogyakarta pada tahun 2018.

Selama kuliah untuk sewa kos dan biaya sehari-hari, saya menggunakan uang tabungan yang saya kumpulkan selama bekerja. Sebagian uang tabungan tersebut juga saya gunakan untuk membantu bapak saya sewa tanah untuk menanam padi. Namun, beberapa kali bapak saya mengalami gagal panen atau rugi panen karena padinya dimakan wereng. Pada saat itu, baru heboh-hebohnya musim hama wereng yang sebelumnya tidak pernah dialami petani.

Saat saya memasuki semester 5, saat itu merupakan masa-masa yang sulit bagi saya karena uang tabungan sudah habis, orang tua gagal panen, dan ditambah ibu saya sakit-sakitan. Ibu saya mengalami sakit diabetes. Saat ini, penyakitnya sudah mengalami komplikasi ke jantung dan paru-paru, sehingga setiap bulan harus melakukan kontrol di Rumah Sakit Mardi Lestari di daerah Sragen. Sebagian besar pendapatan ayah saya digunakan untuk biaya transportasi dan pengobatan ibu saya. Biaya pengobatan ibu saya juga dibantu oleh kakak kedua saya yang bernama Diah Ayu Dewi Ratih. Kakak pertama saya sudah menikah, sehingga tidak bisa membantu keluarga saya karena dia juga mempunyai keluarga sendiri yang membutuhkan biaya yang tidak kecil.

Di masa-masa sulit saat harus memulai Semester 5, saya mencoba untuk mendaftar beasiswa berupa pembebasan SPP Tetap dan saya sangat bersyukur dapat lolos beasiswa SPP Tetap. Secara kebetulan, pada saat itu bersamaan dengan mulai terjadinya Pandemi COVID-19, sehingga saya tidak perlu memikirkan biaya di Jogja. Satu hal yang saya syukuri adalah di Semester 6 saya kembali mendapatkan beasiswa tersebut (pembebasan SPP Tetap). Memasuki Semester 7, saya mendapat Beasiswa KAMAJAYA. Saya sangat bersyukur pada Tuhan yang telah memberikan jalan agar saya dapat terus kuliah. Tanpa beasiswa ini, saya tidak tahu lagi bagaimana caranya agar dapat melanjutkan kuliah.

Saya adalah mahasiswa yang rajin. Hal ini bisa dilihat dari presensi kuliah saya dari Semester 1 sampai Semester 6, saya hanya tidak masuk karena sakit dan mengikuti lomba. Meskipun tidak mudah bagi saya untuk mengikuti kuliah daring. Di kampung saya, jaringan internet sangat terbatas. Saya WiFi di tempat sepupu saya. Itupun WiFi-nya pakai antena, sehingga jaringannya kurang stabil. Tetapi, saya selalu berusaha untuk hadir di kelas dan aktif mengikuti pelajaran. Saya suka membuat catatan kecil berisi materi yang dijelaskan dosen. Dulu setiap kali akan ujian, catatan saya selalu dipinjam teman-teman untuk difotokopi dan dijadikan bahan untuk belajar teman-teman saya. Karena rajin belajar, menyimak dan mencatat, indeks prestasi (IP) saya sejak Semester 1 tidak pernah berada di bawah 3.00. IP semester terendah yang pernah saya dapatkan adalah 3.47.

Saya ingin menginspirasi teman-teman saya bahwa pintar itu tidak selalu tentang bakat, tetapi juga niat. Saya menyadari bahwa saya bukan mahasiswa yang pintar karena bakat, tapi saya adalah mahasiswa yang niat dan rajin. Saya sangat rajin dalam kuliah maupun organisasi. Sejak di Semester 1, saya sudah mengikuti lomba IMCC (Internal Moot Court Competition) yang diadakan Organisasi Rechtspraakveritatis Fakultas Hukum UAJY. Lalu di Semester 2, saya bisa mewakili Fakultas Hukum bersama 20 teman-teman saya mengikuti NMCC (Nasional Moot Court Competition) yang diadakan oleh Universitas Negeri Lampung dan mendapat Juara Runner Up 3. Selama mengikuti lomba tersebut, kami harus berdinamika kurang lebih 6 bulan untuk membuat berkas persidangan dan latihan.

Selain kegiatan-kegiatan yang sudah saya sebutkan, kegiatan saya di Semester 5 adalah menjadi pengurus harian sebagai Bendahara di Organisasi Rechtspraakveritatis. Saya juga aktif di beberapa kepanitiaan yaitu PLKHXIMCC, Pojok Diskusi, lomba Podcast, Webinar Nasional kolaborasi antara Universitas Atma Jaya Yogyakarta dengan Universitas Trunojoyo Madura dan aktif mengikuti kegiatan webinar yang dilakukan secara daring.

No Comments

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA