KAMAJAYA Scholarship / Kisah/Kesaksian/Testimoni  / Kisah Penerima Beasiswa: Impian Saya Membantu Saya Tetap Semangat

Kisah Penerima Beasiswa: Impian Saya Membantu Saya Tetap Semangat

Memasuki semester tujuh, tidak ada rasa kecemasan dan ketakutan dalam diri saya atas apa yang akan saya hadapi di tingkat akhir. Saya justru semakin bersemangat untuk menyelesaikan studi saya demi mendapatkan gelar Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Saya memutuskan untuk berani mengambil skripsi di semester tujuh agar bisa lulus 3,5 tahun. Akan tetapi, Tuhan berkata lain. Saya tidak bisa lulus 3,5 tahun karena disibukkan dengan magang. Pada saat itu, saya magang sebagai content writer di Kumparan Tugu Jogja dengan jam kerja 24 jam dan hanya libur sehari dalam seminggu.

Di semester tujuh, saya sudah mendapatkan persetujuan judul skripsi dari dosen pembimbing saya dan baru sempat mengerjakan di semester delapan setelah saya menyelesaikan seminar KKL pada Januari 2021. Perjalanan skripsi saya tentu tidak mulus, berbagai rintangan dan hambatan saya lewati. Beberapa kali juga saya “mangkrak” mengerjakan skripsi karena buntu terutama karena penelitian saya belum banyak dilakukan, sehingga sulit mendapatkan bayangan. Selain itu, penelitian saya mengharuskan saya untuk berpikir dengan sangat kritis. Apalagi di situasi pandemi ini, saya tidak bisa ke perpustakaan untuk mencari sumber referensi untuk teori saya.

Adapun rintangan lain yang membuat saya berhenti mengerjakan skripsi selama berbulan-bulan, laptop saya rusak dan membutuhkan dana yang sangat besar untuk memperbaikinya. Puji Tuhan, saya akhirnya bisa memperbaiki laptop saya dan bisa kembali mengerjakan skripsi. Rintangan tidak berhenti sampai di situ, saya sempat menyerah karena melihat isi skripsi saya yang terbilang banyak dan membuat saya muak untuk membacanya. Namun, adanya keyakinan dan impian besar saya untuk menjadi dosen dan berkuliah hingga S3 membuat saya kembali bangkit. Pada saat itu, saya berpikir ini baru skripsi belum tesis dan disertasi yang akan saya hadapi di kemudian hari. Nanti ketika saya menjadi dosen juga, saya akan terus bertemu hal seperti ini setiap harinya. Kalau saya menyerah, usaha dan impian saya akan sia-sia.

Semangat tersebut akhirnya membuat saya kembali berambisi. Saya bahkan sempat kecewa dengan diri sendiri. Jelang beberapa hari sebelum batas pendaftaran pendadaran terakhir untuk bisa wisuda November, skripsi saya masih ada revisi. Saya sempat ingin menyerah. Namun, saya tahu bahwa saya tidak bisa berhenti. Saya kemudian mengerjakan revisi tersebut sambil menangis dan penuh harapan. Harapan tersebut dikabulkan oleh Tuhan. Hari terakhir batas pendaftaran, saya mendapat persetujuan dari dosen pembimbing.

Menuju proses pendadaran, saya juga kembali mendapatkan hambatan karena ternyata KTM saya sudah tidak berlaku. Saya tidak membuka e-mail dari bagian ujian dan hari itu sudah lewat dari batas dispensasi yang diberikan. Namun, saya berjuang agar bisa pendadaran secepatnya dengan menghubungi beberapa dosen dan bagian ujian. Puji Tuhan, bagian ujian memperbolehkan saya untuk pendadaran pada 15 Oktober 2021.

Saat pendadaran, saya mendapatkan rintangan yang begitu besar. Skripsi saya banyak mendapatkan tanda tanya dari dosen penguji. Selama pendadaran, saya berusaha untuk memperjuangkan kelulusan skripsi saya dengan menjawab semua pertanyaan kritis dari dosen penguji. Puji Tuhan, saya dinyatakan lulus setelah pendadaran berlangsung dengan beberapa catatan yang membuat saya tidak tahu harus memulai revisi dari mana.

Impian saya untuk wisuda November 2021 pupus karena saya mengalami kebingungan yang luar biasa mengenai revisi skripsi saya setelah pendadaran. Namun, saya percaya Tuhan sudah merencanakan yang terbaik untuk saya. Oleh karena itu, saya mengikhlaskan impian saya untuk wisuda November 2021 dan memilih untuk bergerak perlahan. Hal ini dikarenakan impian saya untuk menjadi dosen bertujuan untuk menjadikan ilmu yang saya miliki berguna bagi banyak orang. Saya tidak ingin sekadar lulus dan mendapatkan gelar sarjana. Saya ingin penelitian saya memberikan dampak bagi banyak pihak, terutama dalam bidang Ilmu Komunikasi.

Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung saya, terutama di masa-masa sulit. Secara khusus, saya mengucapkan terima kasih kepada pengurus dan donatur KAMAJAYA Scholarship yang selalu menggandeng tangan saya untuk melalui berbagai rintangan. Tanpa kalian, saya tidak dapat sampai ke tahapan ini.

Yogyakarta, 27 Oktober 2021

Okty Setianingrum
Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi UAJY Angkatan 2017
Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-3

No Comments

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA