KAMAJAYA Scholarship / Opini  / Opini: Hati dan Logika

Opini: Hati dan Logika

Setiap manusia terlahir memiliki hati dan logika. Dengan mengikuti kata hati, kita mengetahui apa yang baik bagi kita karena kata hati berasal dari perasaan terdalam kita. Sedangkan dengan logika, kita bisa berpikir apa yang benar menggunakan pemikiran yang logis. Tanpa hati, manusia akan menjadi makhluk tanpa perasaan yang hanya berpikir secara rasional. Dan tanpa logika, manusia tidak bisa membedakan baik-buruk secara objektif. Keduanya sama-sama diperlukan dalam hidup kita, tak ada yang lebih baik atau lebih buruk.

Kepintaran seseorang sering kali dilihat dari kecerdasan logikanya atau yang biasa disebut IQ (intelligent quotient). Padahal, ada kecerdasan hati yang disebut EQ (emotional quotient) yang tak kalah penting. Kedua jenis kecerdasan ini memiliki keunggulan dan kekurangannya masing-masing. Orang dengan IQ tinggi lebih mahir menggunakan logika sehingga ahli berurusan dengan bidang teknis dan sistematis seperti matematikawan atau ilmuwan, tetapi biasanya kesulitan dalam bersosialisasi. Sedangkan orang yang memiliki EQ tinggi meskipun kurang dalam bidang teknis dan sistematis, sangat ahli dalam bersosialisasi, bekerja dalam tim dan pada bidang abstrak yang mengandalkan kreativitas seperti melukis, bermain musik dan menulis.

Dalam mengambil keputusan, manakah yang lebih baik kita gunakan, hati atau logika? Sebaiknya, hati dan juga logika digunakan saat mengambil keputusan. Keduanya harus digunakan secara seimbang. Dalam mengambil keputusan, orang cenderung lebih mengutamakan salah satu antara hati atau logika. Semakin beranjak dewasa, mulai disadari bahwa kita tidak bisa hanya bergantung pada salah satu saja, sehingga yang tadinya lebih mengutamakan logika akan mulai mendengarkan kata hati, dan yang lebih mengutamakan hati akan mulai menggunakan logika. Dengan mempertimbangkan kata hati dan juga logika, kita bisa mengambil keputusan dengan lebih baik.

Sebagai contoh ketika melihat seorang pengemis di jalan, hati kita akan iba sehingga timbul keingingan untuk membantu dengan cara memberi. Namun, jika kita berpikir secara logika, jika kita terus memberi, mereka juga akan terus berada di jalanan dan meminta-minta tanpa berusaha mencari pekerjaan. Maka, titik tengahnya adalah dengan memberinya suatu pekerjaan, seperti membersihkan rumah sehingga kita tetap bisa membantunya tanpa memanjakannya.

Namun tak jarang, kata hati dan logika kita bertentangan satu sama lain. Contohnya ketika sedang belajar untuk ujian. Saat sedang pusing membaca-baca materi, kata hati berkata berhenti belajar dan lakukan kegiatan lain saja yang lebih menyenangkan. Namun logika kita berkata sebaliknya, kita harus terus mempelajari materi tersebut agar mendapat hasil yang maksimal di ujian nanti. Kita juga perlu memikirkan konsekuensi akan tindakan kita sebagai bahan pertimbangan. Dalam hal ini, lebih baik mengikuti logika karena memberikan hasil yang lebih baik, meskipun bertentangan dengan kata hati.

Gianyar, 3 Februari 2022

Gde Rama Vedanta Yudhistira
Mahasiswa Program Studi Informatika UAJY Angkatan 2020
Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-5

Image by Gerd Altmann from Pixabay

No Comments

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA