KAMAJAYA Scholarship / Lentera Atma  / Lentera Atma: Menghilangkan Kekhawatiran dengan Stoicism

Lentera Atma: Menghilangkan Kekhawatiran dengan Stoicism

Masa kuliah adalah salah satu masa yang penuh dinamika. Masa ini menghadapkan kita dengan realita yang tak jarang memunculkan kekhawatiran akan banyak hal. Mulai dari kawatir salah jurusan, khawatir tidak lulus ujian atau nilai jelek, insecure khawatir tidak mendapatkan pasangan atau teman, hingga khawatir terhadap biaya pendidikan dan biaya hidup. Hal-hal tersebut memunculkan kegelisahan dan overthinking.

Penyebab utama munculnya kegelisahan dan overthinking adalah sulit menyadari dan membedakan hal-hal yang ada dalam kendali diri sendiri dan di luar kendali diri sendiri. Ada hal-hal di dalam hidup yang bisa kita kendalikan, dan ada yang tidak. Contohnya, ketika kita khawatir akan nilai jelek pada ujian, overthinking, takut, dan memunculkan emosi negatif lainnya. Apakah nilai, prestasi akademis, dan kelulusan sepenuhnya berada di bawah kendali kita? Mayoritas jawaban spontan adalah “Iya! karena kita berupaya mati-matian untuk mendapatkan nilai yang bagus, belajar hingga larut malam. Masa sih tidak berada di bawah kendali kita?”

Akan tetapi ketika direnungkan, kita mendapatkan bahwa betapa banyak faktor eksternal yang bisa menentukan prestasi akademis kita, mulai dari dosen killer, mendapatkan teman tugas kelompok yang malas, sampai hal-hal tak terduga seperti orang tua yang mendadak tidak memiliki uang untuk membiayai sekolah kita. Dari kenyataan tersebut, kesuksesan bukanlah sepenuhnya dalam kendali kita.

Lalu, apa yang bisa kita kendalikan dalam kasus di atas? Apakah dengan begitu banyak hal yang di luar kendali, kita hanya bersikap pasrah? Tentunya ada bagian dari kuliah yang masih berada di bawah kendali kita, misalnya persiapan kita dalam memahami mata kuliah, presentasi yang kita siapkan, dan istirahat fisik yang cukup (internal goal). Oleh sebab itu, kita perlu menyadari bahwa “hasil ujian” adalah sebagai hal yang di luar kendali kita. Internal goal pada keadaan di atas seperti belajar yang rajin, benar-benar memahami materi, latihan presentasi berulang-ulang, sampai presentasi Power Point yang dibuat profesional. Sepanjang kita sudah berupaya maksimal pada hal-hal tersebut, kita sudah melakukan hal yang bisa dilakukan di dalam kendali kita. Nilai dari skripsi kita adalah outcome (hasil) yang berada di luar kendali. Jadi, menjadi stres dan khawatir mengenai hasilnya adalah hal yang tidak rasional.

Apabila kita mampu menyadari contoh kasus di atas, itu artinya kita telah menggunakan nalar. Di sinilah yang dinamakan Stoicism. Pada keadaan di atas, kita disadarkan bahwa manusia adalah makhluk bernalar, berakal sehat, dan berkemampuan menggunakannya untuk hidup berkebajikan. Hendaknya kita bisa hidup sesuai dengan desain-Nya, yaitu makhluk bernalar sehingga mampu membedakan hal-hal yang ada di dalam kendali kita dan di luar kendali kita dalam segala hal dan kejadian.

Hal yang ada di dalam kendali kita yaitu pertimbangan [judgment], opini, atau persepsi kita terhadap segala hal, keinginan, tujuan, segala sesuatu yang merupakan pikiran, dan tindakan kita sendiri. Sedangkan yang di luar kendali kita seperti, tindakan orang lain (kecuali apabila tindakannya mengancam diri kita), opini orang lain, reputasi kita, kesehatan kita, kekayaan kita dan masih banyak lagi.

Kedamaian dan ketentraman muncul ketika kita fokus terhadap apa yang bisa kita lakukan, bukan pada hal-hal eksternal yang bisa berubah-ubah, hancur, bahkan direnggut dari kita. Dengan begitu, kita bisa lebih bersyukur dan tidak lagi menyalahkan orang lain atau bahkan menyalahkan Tuhan.

Some things are up to us, some things are not up to us” – Epictetus [Enchiridion]

Image by mohamed Hassan from Pixabay

No Comments

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA