KAMAJAYA Scholarship / Opini  / Opini: Belajar Hidup dalam Keseimbangan

Opini: Belajar Hidup dalam Keseimbangan

Hari Waisak tahun 2022 jatuh pada tanggal 16 Mei. Waisak merupakan hari suci agama Buddha yang dirayakan setiap bulan Mei, pada waktu bulan terang atau purnama siddhi. Waisak memperingati hari kelahiran, penerangan agung, dan kematian Sidharta Gautama yang terjadi di tanggal yang sama. Konon, Waisak berasal dari kata Vesakha yang merupakan nama bulan dalam kalender India Kuno.

Siddartha Gautama lahir sebagai pangeran Siddartha, putra dari raja orang Sakya. Sebagai anak raja, Siddartha hidup dengan harta melimpah dan dijanjikan unuk menjadi penerus raja. Siddartha dibesarkan dengan dihindari dari hal-hal buruk. Sedari kecil, beliau tinggal di istana tanpa melihat dunia luar. Sampai suatu hari, Siddartha pergi meninggalkan istana. Di luar, Siddartha melihat empat peristiwa, yaitu orang tua, orang sakit, orang mati, dan orang suci.

Peristiwa ini mengajak kita untuk berpikir apa tujuan hidup kita sebenarnya. Untuk apa kita dilahirkan jika kita berujung menua, jatuh sakit hingga akhirnya meninggal? Jika ditanya mengenai tujuan hidup, jawaban orang mungkin berbeda-beda. Banyak orang yang hidup hanya mengikuti arus. Dari mulai kita dilahirkan, lalu mulai menempuh pendidikan dari TK hingga lulus kuliah. Kita mulai bekerja, mulai bekeluarga, dan melanjutkan keturunan. Hingga akhirnya, kita hidup menua sambil melihat keturunan kita tumbuh sampai ajal menjemput. Kebanyakan dari kita mengikuti alur tersebut tanpa memikirkan tujuan hidup sebenarnya.

Pangeran Siddharta berpikir bahwa kehidupan suci yang akan memberikan jawaban dari pertanyaan tersebut. Pangeran Siddharta memutuskan untuk pergi meninggalkan keluarga, dan semua kemewahan yang dimilikinya untuk mencari ilmu bagaimana membebaskan manusia dari usia tua, sakit, dan mati. Siddharta mulai mencoba segala jenis pertapaan sampai pertapaan esktrem yang membuat fisik menjadi lemah. Sampai akhirnya, Siddharta menyadari bahwa pertapaan yang ekstrem tidak membawa kita pada pencerahan. Hanya keseimbangan yang bisa membawa pencerahan.

Dari sana, kita bisa belajar untuk hidup dalam keseimbangan. Misalnya jika dalam hidup kita hanya bermain tanpa bekerja, kita tidak punya modal untuk biaya hidup. Sebaliknya jika hanya fokus pada pekerjaan, kita tidak bisa menikmati hidup. Banyak orang yang meskipun bisnisnya sukses, tetap tidak bahagia karena tidak ada waktu untuk menikmati kesuksesannya. Dengan memilih jalan tengah, kita masih bisa membiayai hidup sambil menikmatinya. Misalnya menggunakan hari libur setelah seminggu bekerja untuk melakukan hobi. Selain itu, kita juga harus menyeimbangkan antara kehidupan duniawi dan spiritual. Di sela kesibukan kita, sebaiknya kita juga meluangkan waktu untuk berdoa.

Selamat hari raya Waisak bagi yang merayakan. Semoga kita semua bisa belajar dari Siddartha Gautama untuk hidup dengan keseimbangan. Tidak baik untuk larut dalam kesenangan, namun kita tidak perlu untuk menyiksa diri kita juga. Mari belajar untuk menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kesenangan, dan antara kehidupan duniawi dan spritual.

Yogyakarta, 12 Mei 2022

Gde Rama Vedanta Yudhistira
Mahasiswa Program Studi Informatika UAJY Angkatan 2020
Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-5

Image by wal_172619 from Pixabay

No Comments

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA