KAMAJAYA Scholarship / Penerima Beasiswa  / Periode 2021/2022  / Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Yohanes Rdo Swastianto

Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Yohanes Rdo Swastianto

Yohanes Rdo Swastianto

Tanggal Lahir:
Kota Asal:
Studi:

28 Januari 2003

Yogyakarta

Fakultas Bisnis dan Ekonomika Prodi Manajemen semester 3 (Oktober 2022)

Yohanes Rdo Swastianto

Mahasiswa Fakultas Bisnis dan Ekonomika UAJY Prodi Manajemen

Perjalanan Hidupku

Saya Yohanes Rdo Swastianto, bisa dipanggil Ian. Saya dilahirkan di Yogyakarta tanggal 28 Januari 2003 di Bidan Realino Jln. Mataram Yogyakarta. Saya dilahirkan dari keluarga yang sederhana. Saya anak kedua dari 2 bersaudara. Kakak saya perempuan. Dulu, ibuku mengajar jarimatika di sekolah dan lembaga bimbingan belajar, sedangkan bapakku tidak bekerja. Bapakku suka meramal nomer togel/judi.

Pada suatu saat waktu, aku duduk di bangku TK, bapak dan ibuku bertengkar karena kenakalan Bapak, sehingga kami (Ibu, saya, dan Kakak) memilih tinggal di rumah Eyang sementara. Setelah Bapak mengakui kesalahannya, kami berkumpul kembali. Tetapi, lagi-lagi Bapak nakal sampai Ibu mengalami patah tulang. Waktu itu, saya belum paham persoalan orang tua. Kalau ibu menangis, saya sering ikut menangis. Kalau Bapak marah-marah, saya hanya bisa bilang sudah. Sampai suatu saat, saya diminta untuk tinggal di rumah Eyang. Dulu, Ibu tidak pernah cerita alasannya. Sampai akhirnya, Ibu baru mau cerita sekarang ini, kalau ternyata dulu karena kenakalannya, Bapak maka harus mendekam di polsek. Tetapi, Ibu tetap berjuang, akhirnya Bapak boleh bebas.

Ibuku yang harus mencari nafkah untuk membesarkan anak-anaknya. Kadang, kami diberi uang oleh Eyang, Om, Tante untuk sekolah. Sampai suatu saat, ibuku tidak bekerja lagi di sekolah/bimbel. Ibuku pindah kerja di koperasi simpan pinjam. Di tempat kerja yang baru, keuangan keluarga mulai membaik. Kami bisa membeli motor, perabot rumah tangga, dan terakhir bisa kredit rumah walaupun hanya rumah bersubsidi. Saya bangga dengan keluargaku walau sederhana kami bahagia.

Pada suatu saat, kenakalan Bapak kambuh lagi. Puncaknya, saat saya di kelas 3 SMP menjelang ujian akhir. Saat itu, saya sakit dan harus operasi usus buntu di rumah sakit. Setelah keluar dari rumah sakit, saya harus mengejar ketinggalan pelajaran, karena 3 minggu tidak bisa masuk sekolah dan langsung dihadapkan pada hari ujian akhir. Saya sedih karena nilaiku tidak memuaskan (tidak cukup untuk masuk SMA Negeri favorit), tetapi ibuku tetap menghiburku. Beliau mengatakan, “Tidak apa-apa kalau harus masuk di sekolah swasta. Ibu percaya kalau Tuhan punya rencana terbaik.”

Akhirnya, saya sekolah di SMA Pangudi Luhur Yogyakarta. Sejak itu, Bapak jarang pulang ke rumah sampai akhirnya diketahui kalau bapakku sudah tinggal dengan wanita lain. Ibuku dengan meminta pertimbangan saya dan Kakak yang ibu anggap kami anak-anaknya sudah besar, sudah saatnya tahu apa yang terjadi selama ini. Saya tahu bagaimana Ibu beberapa kali harus mengampuni Bapak. Saya tahu bagaimana selama ini Ibu bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ibuku meminta izin untuk bercerai dengan Bapak. Ibu mau fokus dengan anaknya tanpa dinakali Bapak lagi.

Walau kami hidup sederhana, kami tidak pernah kekurangan. Sampai suatu saat, pandemi Covid-19 datang, kantor tempat kerja ibu bermasalah. Sejak bulan April 2020, Ibu sudah tidak menerima uang lagi. Uang ditahan koperasi dan sejak Agustus 2020 sudah tidak terima gaji lagi. Ibu pun mengundurkan diri dari koperasi. Untuk membantu keuangan keluarga, kakakku bekerja membantu Eyang di warung koperasi berjualan sembako, sementara Ibu bertahan dengan sisa tabungan yang ada. Pandemi mengubah seluruh hidup saya. Saya dan Kakak sempat berjualan rice bowl secara online. Selain itu, kami berjualan apa saja yang bisa jadi tambahan uang, mulai dari berjualan masker, helm, parfum, dan makanan.

Kehidupan kami mungkin juga dipengaruhi oleh tempat tinggal kami. Kami tinggal di Badran dengan kondisi tetangga yang kurang baik (kurang mendukung). Tetapi, saya bersyukur secara pribadi saya tidak terpengaruh dengan lingkungan tetangga, karena saya bergaul dengan lingkungan gereja. Saya ikut terlibat dalam kegiatan yang diadakan lingkungan seperti pertemuan-pertemuan lingkungan. Saya juga ikut mendampingi adik-adik PIA lingkungan. Di lingkungan tempat tinggal sekarang, saya juga aktif berkegiatan dengan pemuda, misal dengan menagih setoran sampah dan kegiatan yang diadakan, terlibat dalam berbagai macam kepanitiaan.

Saya berusaha menyeimbangkan antara belajar dan berkegiatan masyarakat. Ini adalah salah satu tanggung jawab saya sebagai satu-satunya laki-laki di keluargaku. Saat saya duduk di kelas 3 SMA (kelas 12), saya mendaftar Universitas Atma Jaya Yogyakarta gelombang 1 dengan jalur raport. Saya senang bisa diterima jurusan manajemen, tetapi saya bingung bagaimana dengan uang masuk yang harus dibayar. Sampai suatu saat, ibuku cerita kalau ditelepon bapak ketua lingkungan, ada beasiswa KAMAJAYA. Saya pun dihubungkan dengan Mbak Fiona yang juga penerima Beasiswa KAMAJAYA. Lewat Mbak Fiona, saya pun dikuatkan untuk terus semangat. Jangan takut, jangan minder, dan jangan pernah menyerah.

Saya anak laki-laki, saya harus bisa membahagiakan ibuku dan keluargaku. Saya mau sukses, saya mau jadi sarjana dan saya mau belajar sungguh-sungguh. Saya targetkan 4 tahun lulus dengan nilai IPK 3,5. Saya mau aktif berorganisasi, punya teman sebanyak-banyaknya, saya mau berkembang menjadi lebih baik, menjadi berkat untuk banyak orang. Untuk itu, saya sangat berharap untuk bisa mendapatkan Beasiswa KAMAJAYA. Bila saya berkesempatan kuliah di Universitas Atma Jaya Yogyakarta dengan lewat program Beasiswa KAMAJAYA, artinya Tuhan kirimkan malaikat penolong. Di saat sulit ini, saya diberkati saya dipilih menjadi alat-Nya dan nantinya saya pun akan memberkati anak-anak di luar sana, agar menjadi berkat bagi sesama.

Acara bakti sosial bersama OMK Gereja dalam masa pandemi (Tahun 2021).
Berkunjung ke Hati Kudus Ganjuran (Tahun 2021).
Peserta DBL Jogja (Tahun 2020).

No Comments

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA