KAMAJAYA Scholarship / Opini  / Opini: Berbuat Baik Tanpa Pamrih

Opini: Berbuat Baik Tanpa Pamrih

Dalam kehidupan bermasyarakat, setiap orang adalah anggota dari suatu masyarakat. Hidup bermasyarakat menjadi baik, apabila dalam masyarakat itu ada rasa saling mengasihi satu sama lain di antara para masyarakat, yang terwujud dalam harmoni di dalamnya. Wujud dari rasa saling mengasihi adalah berbuat baik kepada sesama dengan tanpa pamrih apa pun.

Seseorang yang sehat jiwanya tidak akan tenang dan bahagia, jika ia tidak diterima dengan baik di masyarakatnya. Ia dapat diterima dengan baik dalam masyarakat, jika perbuatan baiknya dirasakan oleh masyarakatnya. Namun selama ia berbuat baik karena pamrih, maka dapat dipastikan ia masih tinggi menghargai dirinya sendiri. Berarti kasih sayangnya kepada sesama juga belum tulus ikhlas, dan orang yang masih tinggi menghargai dirinya sendiri, yang senang disanjung, dipuji, dihormati dan sebagainya, lupa bahwa dirinya adalah hanya milik Tuhan, yang tidak memiliki kekuasaan apa-apa pada dirinya sendiri. Orang semacam ini cenderung suka merendahkan anggota masyarakat lainnya.

Berbuat baik tanpa pamrih, yang berarti tidak lagi mengharapkan balasan apa pun dari perbuatan baik kepada orang lain, baik itu berupa benda atau sanjungan dan pujian. Rasa pamrih atau ingin selalu dibalas perbuatannya harus dihilangkan, jika seseorang ingin memiliki harmoni dalam kehidupannya dan benar-benar menjadi milik Tuhan yang sejati. Itu semua dapat dilatih.

Hal pertama yang harus dilakukan agar dapat berbuat baik tanpa pamrih adalah berusaha menyadari bahwa sejatinya semua manusia berasal dari Tuhan dan suatu saat akan kembali kepada ke asalnya, yaitu Tuhan. Semua hamba Tuhan memiliki status sama di hadapan Tuhan, yang berbeda di antara para manusia hanyalah bentuk wataknya, cara berpikirnya, dan nafsu-nafsunya. Jadi, jika kita ingin dikasihi Tuhan, kita juga harus saling mengasihi karena kita sama-sama hamba. Caranya saling memberi, menerima, saling menolong, memaafkan, bekerja sama dengan kasih sayang karena cinta dan bakti kepada Tuhan. Itulah berbuat baik tanpa pamrih.

Hal kedua adalah mengendalikan cara berpikir dan nafsu-nafsu kita. Mengendalikan cara berpikir diawali dengan selalu berpikir hal-hal yang baik-baik saja. Dengan demikian, cara berpikir kita juga akan mengarah ke hal-hal yang baik saja. Karena masukan yang baik akan mengeluarkan hasil yang baik juga sehingga akhirnya cita-cita apa pun yang ingin dicapai juga yang baik-baik saja, semua ditujukan hanya untuk kesejahteraan hidup bersama di dunia ini, dan sebagai hamba kelak kembali ke asal mula hidup, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Jika cara berpikir kita sudah baik, akan diikuti dengan memiliki keinginan dan kemauan yang baik, sehingga nafsu yang ada pada diri kita juga bekerja dengan baik.

Jika hal yang pertama dan kedua dapat dilakukan, maka harmoni dalam jiwa akan tumbuh. Semangat hidup yang positif, dan selalu dapat berbuat baik kepada sesama dengan tanpa pamrih. Ketulusan dalam jiwa orang yang berbuat tanpa pamrih. Hal ini menjadi syarat jika kita ingin membangun masyarakat yang tenang, tenteram dan damai, yang akhirnya akan menumbuhkan masyarakat yang adil dan sejahtera.

Yogyakarta, 17 November 2022

Yohanes Rdo Swastianto
Mahasiswa Program Studi Manajemen UAJY Angkatan 2021
Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-5

Image by Shameer Pk from Pixabay

No Comments

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA