KAMAJAYA Scholarship / Kisah/Kesaksian/Testimoni  / Kisah Penerima Beasiswa: Driver Ojol Jadi Sarjana Arsitektur

Kisah Penerima Beasiswa: Driver Ojol Jadi Sarjana Arsitektur

Perkenalkan nama saya Yusril Mahendra Pratama sebagai Penerima Beasiswa KAMAJAYA Scholarship Angkatan ke-4 dari Fakultas Teknik Program Studi di Arsitektur Angkatan 2017. Saya berasal dari keluarga yang kurang mampu dengan segala keterbatasan yang ada, seperti problem internal keluarga hingga masalah keuangan. Impian awal saya setelah diterima masuk Universitas Atma Jaya Yogyakarta adalah saya berniat mendaftar beasiswa untuk meringankan beban keluarga, terutama kakak pertama saya yang membiayai biaya pendidikan S1 saya. Namun, karena saya mempunyai beberapa kendala yang membuat studi saya terhambat, saya pun mulai mengurungkan niat untuk mendaftar beasiswa dan fokus untuk studi dan sambilan bekerja untuk mencukupi biaya perkuliahan karena kakak saya hanya mampu menutup biaya SPP dan SKS.

Mulai dari sini, saya bekerja menjadi driver ojol (ojek online) yang terbilang cukup lama, hampir 2 tahun saya bekerja sambilan ini. Hingga suatu ketika, saya mengenal teman seangkatan saya yang merupakan Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-3, yaitu Caesario dan Triyoga. Pada saat itu, saya cukup dekat kepada 2 teman saya yang kemudian saya bercerita mengenai kesulitan ekonomi untuk mencukupi biaya studi saya. Lalu, mereka merekomendasikan untuk mencoba mendaftar Beasiswa KAMAJAYA karena menurut mereka beasiswa KAMAJAYA dapat membantu saya. Dari situ, saya mulai menelusuri apa itu Beasiswa KAMAJAYA lalu bagaimana persyaratan dan proses seleksinya.

Setelah saya mengetahui bagaimana Beasiswa KAMAJAYA bekerja memberikan beasiswa terhadap mahasiswa terpilih, lalu saya memantapkan hati untuk mencoba peruntungan mendaftar Beasiswa KAMAJAYA. Tahun Akademik 2019/2020 saat saya duduk di Semester 6, saya mulai mendaftar Beasiswa KAMAJAYA untuk Tahun Akademik 2020/2021 atau untuk Semester 7 apabila saya diterima. Pada saat itu, Covid-19 mulai melanda dan saya sendiri colaps karena saya tidak bisa kuliah online. Apalagi mata kuliah studio yang memerlukan bimbingan dengan dosen studio yang juga perlunya tatap muka dan coretan agar ide-ide yang diajukan dapat tersampaikan dengan baik dan koreksi-koreksi dari dosen dapat diterima dengan baik. Namun karena hal itu, saya memilih untuk tidak melanjutkan kuliah saya pada pertengahan semester tepat setelah wabah Covid-19 datang. Jujur saat itu saya bingung karena tidak dapat melanjutkan kuliah dengan keadaan yang serba online sedangkan kondisi rumah tidak kondusif untuk saya belajar dan kuliah online. Akhirnya, saya memutuskan untuk mencari pekerjaan sambilan yang dapat dikerjakan secara remote.

Tiba saatnya pendaftaran dibuka (Maret 2020), saya sangat excited lalu meminta tolong ibu saya untuk menemani saya mencari dokumen yang kurang seperti SKTM. Proses administrasi berjalan lancar hingga saatnya proses wawancara dari Pengurus KAMAJAYA Scholarship. Di situ, saya bercerita segala kondisi saya dengan apa adanya karena memang saya sangat membutuhkan beasiswa untuk meringankan beban ekonomi keluarga. Saya ingat diwawancara oleh Bapak Maryatmo dan 2 pengurus KAMAJAYA Scholarship yang saya sudah lupa nama-nama beliau. Saat itu, saya bangun tidur dengan kondisi badan agak meriang dan masuk angin sampai saya tidak sadar saya wawancara menggunakan kaos dan muka yang pucat.

Sebagai Penerima Beasiswa KAMAJAYA, jujur saya sangat terbantu dengan adanya arahan dari konselor, mulai dari permasalahan studi, bimbingan konseling, dan support yang selalu diberikan oleh konselor saya yakni Romo Ave, Ibu Susi, dan Ibu Suryanti. Bimbingan dan dukungan yang sangat membantu saya dalam menempuh studi saya di Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Dengan adanya KAMAJAYA Scholarship, memberikan peluang bagi mahasiswa yang kesulitan untuk melanjutkan studi karena terhalang masalah ekonomi.

Saya sendiri merasa sangat terbantu dengan menjadi penerima beasiswa, biaya kuliah sudah dibantu dan saya bisa lebih fokus dalam menempuh studi. Waktu saya untuk bekerja part-time, sekarang bisa saya gunakan untuk mengikuti kepanitiaan dan kegiatan lain yang berkaitan dengan SPAMA sebagai syarat kelulusan. Uang saku harian saya sangat sedikit. Namun jika digabungkan dengan adanya acara-acara kepanitiaan yang biasanya membutuhkan fundraising agar acara dapat terlaksana, saya dapat bertahan (survive). Saya juga menyisihkan uang untuk membeli keperluan pokok saya, seperti membeli sepatu dan tas karena sebelumnya saya hanya menggunakan barang bekas dari semasa SMK saya. Selain itu, saya juga mengikuti workshop, seminar, dan pelatihan yang berkaitan dengan bidang arsitektur yang tentu saja juga memerlukan biaya pendaftaran.

Semasa saya kuliah sebelum saya menjadi penerima beasiswa KS, saya bekerja part-time menjadi ojol dan membantu usaha orang tua untuk mobilitas keperluan usaha. Setelah saya menjadi penerima Beasiswa KAMAJAYA, saya bisa dapat fokus untuk menyelesaikan studi secepatnya dan merencanakan hidup setelah lulus nantinya. Saat mengerjakan skripsi karena memang pada semester tersebut saya hanya mengambil skripsi. Jadi, saya dapat lebih fokus karena banyaknya waktu luang sembari mengikuti seminar dan workshop yang saya ikuti.

Ada satu masa saat pengerjaan STAA (Studio Tugas Akhir Arsitektur) saya tidak dapat saya selesaikan karena harus membantu orang tua dalam mengerjakan orderan usaha. Masalah yang sama sekali tidak dapat saya selesaikan meskipun sudah menjelaskan dan memberikan pengertian kepada keluarga bahwa saya sekarang penerima Beasiswa KAMAJAYA dan sudah memasuki semester akhir yang harus segera menyelesaikan studi. Karena issue tersebut sudah berulang-ulang yang membuat saya lelah namun dengan adanya semangat dari konselor saya, saya akhirnya dapat menyelesaikan STAA dan memasuki proses sidang pendadaran yang saya tempuh selama 3 periode STAA.

Persiapan sebelum mulai sidang proposal skripsi.
Setelah sidang proposal skripsi dengan Bapak Noor Zakiy Mubarrok (Dosen Pembimbing), Ibu Yustina Banon Wismarani dan Bapak Yanuarius Benny Kristiawan sebagai Dosen Penguji 1 dan Dosen Penguji 2.
Persiapan sebelum memulai sidang skripsi, menunggu dipanggil masuk ruangan.

Proses sidang pendadaran saya berjalan cukup lancar di hari pertama dan sesi pertama jadwal sidang pendadaran. Akhirnya, lega karena sudah melewati proses sidang pendadaran yang artinya sudah pasti dinyatakan lulus. Kegiatan saya setelah pendadaran saya isi dengan mengisi pengalaman kerja dan portofolio untuk keperluan melamar kerja besok dengan bekerja freelance by project bersama teman- teman kuliah saya yang menawari saya untuk menjadi drafter.

Cita-cita masa depan saya bekerja di bidang yang saya sejalur dengan jurusan kuliah saya terlebih saya bekerja di tempat dan pekerjaan yang saya enjoy di dalamnya. Saya sangat mendukung sistem beasiswa seperti Beasiswa KAMAJAYA karena memang masih banyak mahasiswa yang memiliki kesulitan ekonomi ataupun mempunyai problem masing-masing yang menghambat studi/perkuliahan. Beasiswa seperti ini bisa saja salah sasaran pada penerima yang tidak berhak mendapatkan beasiswa. Namun, saya percaya bahwa pengurus Beasiswa KAMAJAYA telah bekerja dengan teliti, memilah, dan menyeleksi calon penerima beasiswa sehingga hanya mahasiswa yang membutuhkan dukungan dan bantuan saja yang dipilih.

Akhir kata, saya ucapkan terima kasih banyak kepada Beasiswa KAMAJAYA, pengurus KAMAJAYA Scholarship, donatur, dan juga para konselor yang sudah memberikan kesempatan, dukungan moril maupun materil sehingga saya dapat lulus menjadi seorang Sarjana Arsitektur.

Yogyakarta, 10 Desember 2022

Yusril Mahendra Pratama
Mahasiswa Program Studi Arsitektur UAJY Angkatan 2017
Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-4

No Comments

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA