KAMAJAYA Scholarship / Opini  / Opini: Dies Natalis UAJY ke-58: Menjadi Jiwa yang Unggul di Era Kompetitif

Opini: Dies Natalis UAJY ke-58: Menjadi Jiwa yang Unggul di Era Kompetitif

Tanggal 27 September merupakan peringatan dies natalis Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) yang ke-58. UAJY telah berdiri sejak 27 September 1965 dan dikelola oleh Yayasan Slamet Rijadi Yogyakarta di bawah lindungan Santo Albertus Magnus. Nama Atma Jaya diambil dari bahasa Sansekerta, “atma” yang berarti “jiwa” dan “jaya” yang berarti “unggul”, sehingga Atma Jaya berarti “jiwa yang unggul”. Sesuai dengan nama, harapannya mahasiswa-mahasiswa UAJY bisa menjadi lulusan yang unggul di bidangnya masing-masing. Jiwa yang unggul berarti tak hanya terampil, tapi juga mampu menyelesaikan masalah tanpa goyah dan tetap memiliki nilai kebajikan dan moralitas.

Sekarang adalah era yang kompetitif, di mana terdapat persaingan yang kuat antarindividu. Akses yang mudah ke berbagai informasi telah mendorong kemajuan sumber daya manusia. Kualifikasi semakin meninggi, dengan mengaharapkan pengalaman yang lama atau keterampilan yang unggul. Jarak tak lagi menjadi batasan, akibatnya saingan bisa muncul dari mana saja. Agar mampu bersaing di era ini, kita perlu mempunyai jiwa yang unggul. Tak hanya unggul, UAJY juga mempunyai sebuah visi untuk menjadi sebuah komunitas yang inklusif, humanis dan berintegritas. Dengan menerapkan masing-masing nilai tersebut akan membentuk kita menjadi pribadi dengan jiwa unggul di era kompetitif ini.

Unggul berarti lebih baik, atau lebih utama dari yang lain. Agar bisa dikatakan unggul, seseorang harus memilki keterampilan yang lebih baik dari orang lain di bidangnya. Tentunya keterampilan tidak bisa diasah secara instan. Diperlukan waktu yang lama agar seseorang bisa menjadi mahir. Oleh karena itu, untuk mempunyai keterampilan juga diperlukan ketekunan. Keterampilan juga termasuk kemampuan berkomunikasi dan mengemukakan pendapatnya. Pribadi yang unggul mampu menyeimbangkan antara keterampilan teknis dan komunikasi.

Inklusif berarti menempatkan diri ke dalam sudut pandang orang lain. Berpikir secara inklusif juga melatih kita untuk membangun pola pikir yang lebih terbuka. Dengan melihat dari sudut pandang yang berbeda, kita bisa melihat kemungkinan-kemungkinan yang tidak terpikir sebelumnya. Pengalaman adalah guru terbaik. Pengalaman di sini tidak terbatas pada pengalaman pribadi. Pengalaman orang lain juga bisa digunakan sebagai pelajaran, agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Humanis berarti berperikemanusiaan, atau bisa dilihat sebagai sifat rendah hati. Di era kompetitif ini akan ada banyak rival di bidang yang kita geluti. Rival bukanlah lawan yang harus dikalahkan, tak perlu berusaha mengalahkan sampai menghalalkan segala cara. Malah, rival bisa dijadikan teman untuk saling berdiskusi dan belajar. Menyimpan ego hanya akan menghambat perkembangan diri. Pasti ada ilmu baru yang bisa kita ambil dari orang lain, asalkan kita cukup rendah hati untuk belajar dari mereka.

Integritas berarti pribadi yang utuh. Di era kompetitif ini, kegagalan akan menjadi hal yang biasa karena ada banyaknya persaingan. Orang yang berjiwa unggul harus mempunyai suatu target dan berpegang teguh pada prinsip untuk mencapainya. Kegagalan yang dialami, tidak akan membuatnya goyah, melainkan dianggap sebagai suatu pelajaran yang berharga.

Dengan peringatan Dies Natalis ke-58 ini, semoga komunitas UAJY bisa menerapkan nilai-nilai unggul, inklusif, humanis dan berintegritas yang dimilikinya. Menjadi pribadi yang terampil, berpikiran terbuka, rendah hati dan berkepribadian utuh akan membantu kita menjadi jiwa yang unggul, sehingga mampu bersaing di era kompetitif ini.

Yogyakarta, 25 September 2023

Gde Rama Vedanta Yudhistira
Mahasiswa Program Studi Informatika UAJY Angkatan 2020
Penerima Beasiswa KAMAJAYA Angkatan ke-5

No Comments

Post a Comment

×

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA