KAMAJAYA Scholarship / Penerima Beasiswa  / Periode 2020/2021  / Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Threesya Siburian

Penerima Beasiswa KAMAJAYA : Threesya Siburian

Threesya Siburian

Tanggal Lahir:
Kota Asal:
Studi:

27 April 1999

Dayun, Siak, Riau

Fakultas Bisnis dan Ekonomika Prodi Ekonomi Pembangunan semester 6 (Januari 2021)

Threesya Siburian

Mahasiswi Fakultas Bisnis dan Ekonomika UAJY Prodi Ekonomi Pembangunan

Menggapai Impian

Saat ini, saya masih 21 tahun. Akan tetapi, kegagalan yang saya terima sudah melebihi nominal umur yang saya sandang. Dalam hidup, semua orang pasti pernah gagal, begitu pun saya. Namun, saya belajar dari Thomas Alva Edison, “Saya bukan gagal 10.000 kali dan saya tidak gagal satu kali pun. Tapi, saya berhasil membuktikan bahwa ada 10.000 cara keliru dalam menggapai mimpi.” Dengan begitu, saya menikmati kegagalan di usia muda ini dan tak lupa selalu evaluasi diri.

Nama lengkap saya adalah Threesya Siburian, biasanya dipanggil Tere. Saya lahir di Dayun, salah satu desa dari Kabupaten Siak, tepatnya Provinsi Riau. Saya anak pertama dari empat bersaudara (tiga perempuan, satu laki-laki). Saya bersyukur kepada Tuhan karena saya dibesarkan oleh orang tua yang mendidik anaknya dengan mengutamakan karakter. Saya dan ketiga adik saya mengenyam pendidikan sejak Taman Kanak-kanak (TK). Saat ini, Ayah menafkahi keluarga dari kedua usaha yang masih bertahan, yaitu peternak hewan dan penampung sawit. Sebelumnya, Ayah pernah bekerja di sebuah perusahaan minyak, yaitu PT Bumi Siak Pusako (BOB-BSP), tetapi saat saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Ayah adalah salah satu pekerja yang harus di-PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Setelah kejadian itu, ayah saya memulai beberapa usaha untuk menyambung hidup keluarga kami. Salah satu usaha yang masih bertahan sampai saat ini adalah ternak hewan. Hewan yang diternak adalah babi dan usaha kecil-kecilan sebagai penampung sawit. Sementara itu, ibu saya tidak bekerja, hanya sebagai Ibu Rumah Tangga.

Saat ini, saya dan ketiga saudara saya yang lain sudah besar. Kami mengenyam pendidikan masing-masing. Adik saya yang nomor dua bernama Penina Siburian, ia masih menempuh pendidikan di Universitas Jambi, jurusan Peternakan; yang ketiga adalah laki-laki satu-satunya di antara kami berempat yaitu Merkan Siburian, ia masih duduk di bangku SMA Olahraga Riau kelas 3; dan yang terakhir Rinjani Siburian, ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) kelas 3. Dalam merintis usaha ternak, saya merasakan pahitnya kehidupan. Hal itu membuat saya jera untuk bermalas-malasan. Setiap hari, ayah saya harus bangun subuh pergi ke beberapa pasar yang cukup besar dan jauh dari rumah. Ketika libur sekolah, saya sering menemani Ayah ke pasar untuk mengambil sisa makanan yang ada di tong sampah, mengutip sayuran yang sudah tidak layak jual dari pedagang satu ke pedagang lainnya, mencari ampas dari satu tempat ke tempat lainnya, lalu kami ke rumah makan yang ramai dikunjungi untuk mengambil sisa makanan yang akan dibuang, biasanya kami menyebutnya dengan “nasi rima-rima”. Hal itu sudah menjadi rutinitas saya saat duduk di bangku SMP.

Tahun 2014 saya lulus SMP, kemudian melanjutkan pendidikan SMK Perbankan Riau ke Pekanbaru. Saya bersyukur ketika duduk di bangku SMK saya punya banyak teman dari daerah dan latar belakang yang berbeda, saya pun mudah bergaul dan bersosialisasi dengan mereka. Dengan dukungan orang-orang di sekitar dan terkhusus orang tua, saya bersemangat untuk belajar dan akhirnya saya selalu meraih rangking lima besar. Namun, biaya untuk bisa lulus dari SMK tersebut tidak sedikit. Pendapatan orang tua hanya dari usaha, tapi semakin hari ekonomi keluarga semakin merosot. Hingga akhirnya, ayah saya harus ke Medan untuk bekerja supaya bisa membayar biaya ujian, pada saat itu saya kelas 3. Kalau pembayaran tidak dapat diselesaikan, maka akan menghambat proses keberlangsungan ujian.

Setelah lulus SMK, perekonomian keluarga saya tidak membaik. Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain bagi saya selain gap year. Selama gap year, saya bekerja satu tahun di sebuah Bakery. Awalnya, saya sebagai kasir sekaligus bersih-bersih toko. Namun, setelah 6 bulan, saya mendapat tawaran menjadi administrasi keuangan dan produksi. Saya pun menjalankan pekerjaan tersebut selama 6 bulan. Setelah satu tahun berlalu, belum cukup bagi orang tua untuk mengumpulkan biaya masuk ke PTN sekalipun. Akhirnya, orang tua saya mengagunkan rumah dan kendaraan operasional usaha sebagai jaminan di bank. Dengan uang pinjaman tersebut, saya dan Penina bisa masuk perguruan tinggi di tahun yang sama, 2018. Sejak semester awal kuliah, saya menggunakan seluruh tabungan dari upah bekerja untuk biaya hidup, tugas, dan kegiatan kampus. Namun, uang tersebut tidak bertahan lama, karena jumlahnya tidak banyak. Maka, saya dan Penina berinisiatif saling transferan, bagi yang punya uang lebih di minggu akhir bulan karena uang kiriman orang tua sangat pas-pasan.

Sejak semester satu, bisa dihitung dengan jari berapa kali saya beli makan di kantin. Saya selalu masak untuk dibawa sebagai bekal ke kampus. Walaupun semakin hari pendapatan usaha orang tua semakin tidak menentu, tetapi saya tidak boleh pesimis karena impian saya lulus dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Saya tidak patah semangat untuk belajar hal baru dan bergabung dengan teman-teman di sekitar. Sampai saat ini, saya join di beberapa organisasi kampus, yaitu: Leaders Commnity, Student Staff dari Kantor Kerjasama dan Promosi UAJY, PMK Melisia Christi, dan juga pelayanan di gereja. Semester 1 dan 2, saya bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Prodi Ekonomi Pembangunan, tetapi di penghujung semester dua saya mulai memilah kegiatan karena waktu dan tenaga yang saya miliki terbatas. Saya bermimpi suatu saat saya bisa menjadi motivator keuangan, dan karenanya saya mengambil jurusan Ilmu Ekonomi. Saya ingin sekali punya platform keuangan.

Melalui platform tersebut, saya ingin menanamkan mindset financial freedom di setiap individu masyarakat Indonesia. Saya melihat banyaknya para orang tua yang sudah berumur hingga lansia masih harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam hal ini, saya melihat bahwa dana pensiun masih terabaikan oleh masyarakat Indonesia. Dengan platform tersebut, saya ingin mengubah mindset masyarakat sejak generasi muda.

Saya bersyukur kepada Tuhan karena dalam kondisi pandemi ini, harapan untuk melanjutkan studi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta bisa berlanjut dengan belas kasih melalui KAMAJAYA Scholarship, setelah sebelumnya gagal berkali-kali mendaftar beberapa beasiswa yang ditawarkan oleh perusahaan yang bekerja sama dengan Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Sebagai ungkapan rasa syukur, saya siap berkontribusi dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh KAMAJAYA Scholarship.

Saat sedang shift kerja di kantor Kerjasama dan Promosi Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
Volunteer pengabdian di Padukuhan Jeruklegi Desa Katongan Kab. Gunungkidul yang diadakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) UAJY yang dilaksanakan selama 5 hari dari tanggal 16 s.d. 20 Juli 2019.
Sebagai panitia acara sekaligus Master of Ceremony (MC) dalam “Leadership Retreat Se-Yogyakarta” yang diadakan oleh Jogja Student Ministries. Dilaksanakan pada tanggal 21-23 Februari 2020 di Graha Kinasih Kaliurang.
Maret 2020 memperoleh juara tiga dalam event Development Economics Competition yang diadakan oleh lembaga program studi yaitu Himpunan Mahasiswa Ilmu Ekonomi.

No Comments

Post a Comment

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Beasiswa KAMAJAYA